Guru Besar UIN Saizu Beberkan Gagasan Energi Terbarukan Berbasis Nilai Qur’ani di AICIS+ 2025

UINSAIZU.AC.ID- Guru Besar Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Naqiyah mengungkap tantangan transisi energi bersih di Indonesia masih menjadi pekerjaan besar.
Sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedelapan di dunia dan penyumbang utama di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menargetkan porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% dari bauran energi nasional pada tahun 2025.
Namun hingga tahun 2023, capaian itu baru menyentuh 13,1%, menandakan masih lemahnya percepatan pengembangan energi bersih di tengah dominasi energi fosil seperti batu bara yang lebih murah dan mudah diakses.
Di tengah persoalan tersebut, Prof. Naqiyah memberikan solusi berbasis nilai-nilai Islam dalam forum internasional Annual International Conference on Islamic Studies Plus (AICIS+ 2025) yang berlangsung di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, pada 29 Oktober 2025.
Dalam sesi plenary AICIS+ 2025, Prof. Naqiyah memaparkan hasil risetnya berjudul “Eco-Friendly Power Plant: Micro-Hydro in Lebakbarang, Pekalongan, Central Java (Ecological, Cultural, and Living Qur’anic Perspectives)”.
Penelitian ini menyoroti potensi sistem pembangkit listrik tenaga mikrohidro di daerah Lebakbarang, Pekalongan, Jawa Tengah, sebagai bentuk energi terbarukan yang ramah lingkungan sekaligus berlandaskan nilai-nilai Qur’ani.
Menurut Prof. Naqiyah, mikrohidro bukan sekadar proyek teknologi energi alternatif, tetapi memiliki signifikansi strategis yang mencakup tiga dimensi penting: ekologis, kultural, dan spiritual.
“Energi terbarukan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang nilai, budaya, dan spiritualitas. Mikrohidro adalah wujud nyata dari harmoni antara tanggung jawab ekologis, pemberdayaan kultural, dan bimbingan Qur’ani,” tegas Prof. Naqiyah dalam presentasinya.
Dari sisi ekologis, sistem mikrohidro dinilai sangat sejalan dengan prinsip Islam tentang manusia sebagai khalifah di bumi, yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan dilarang melakukan kerusakan (fasad fil ardh).
Prof. Naqiyah menegaskan bahwa energi mikrohidro memiliki dampak lingkungan yang minimal dan mendukung sistem energi rendah karbon, sejalan dengan visi global pengurangan emisi gas rumah kaca.
“Dalam perspektif Qur’ani, menjaga bumi adalah bagian dari ibadah. Setiap inovasi yang melindungi alam merupakan perwujudan nilai keimanan,” jelasnya.

Dari dimensi kultural, riset ini menunjukkan bahwa pengembangan mikrohidro tidak hanya memperkuat ketahanan energi desa, tetapi juga membangun kemandirian dan solidaritas sosial masyarakat.
Melibatkan masyarakat lokal dalam setiap tahap pengembangan proyek menciptakan modal sosial yang kuat, serta menghidupkan kembali kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam.
Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana energi bersih bisa menjadi sarana pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar proyek teknologi yang top-down.
Dalam kajian living Qur’an, Prof. Naqiyah mengaitkan pemanfaatan energi terbarukan dengan nilai-nilai spiritual Al-Qur’an. Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa energi adalah amanah, dan menjaga keseimbangan ekosistem merupakan tanggung jawab moral sekaligus ibadah.
Paradigma ini disebut sebagai “energi bernilai Qur’ani” sebuah pendekatan yang menghubungkan etika lingkungan, budaya lokal, dan spiritualitas Islam.
Melalui gagasan tersebut, Prof. Naqiyah mendorong para pemangku kebijakan dan akademisi untuk melihat energi bukan hanya dari sisi ekonomi atau teknologi, melainkan juga dari sisi nilai dan moralitas.
“Transisi energi bersih harus menjadi gerakan spiritual dan sosial. Ketika nilai Qur’ani mengiringi langkah teknologi, maka keberlanjutan bukan hanya mungkin, tetapi niscaya,” ujarnya menutup sesi.
Kehadiran Prof. Naqiyah di AICIS+ 2025 menegaskan posisi UIN Saizu Purwokerto sebagai kampus yang aktif berkontribusi dalam riset dan diskursus global di bidang keislaman, sains, dan keberlanjutan.
Melalui partisipasi para dosen dan guru besar seperti Prof. Naqiyah, UIN Saizu terus memperkuat perannya sebagai pusat kajian Islam progresif yang peduli terhadap isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!