Empat Mahasiswa TBI UIN Saizu Terpilih Hadiri The 50th Diplomatik Forum: Angkat Isu Sampah sebagai Kekuatan Global

UINSAIZU.AC.ID- Empat mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto mendapat kehormatan menjadi tamu undangan dalam ajang internasional The 50th Diplomatik Forum yang digelar LPP RRI Stasiun Siaran Luar Negeri Voice of Indonesia.
Koordinator Program Studi TBI, Desi Wijayanti Ma'rufah menyebutkan, forum bergengsi ini mengusung tema “Waste: From Struggle to Strength” dan dihadiri oleh sejumlah perwakilan negara seperti Seychelles, Polandia, Kamboja, Kuba, dan Uzbekistan.
Keempat delegasi mahasiswa TBI tersebut antara lain Chumaera Moktika, Vania Priandita, Muhammad Nibroos Nur Nabhan dan Adlan Nazhif. Keempatnya mewakili UIN Saizu Purwokerto untuk terlibat dalam diskusi global mengenai isu pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan.
The 50th Diplomatik Forum menghadirkan diskusi mendalam tentang bagaimana negara-negara di dunia menghadapi persoalan sampah dan mengubahnya menjadi peluang yang bermanfaat bagi lingkungan maupun sosial.
Para perwakilan negara membahas tantangan pengelolaan sampah di negara masing-masing, potensi strategi kolaboratif antarnegara, peran kearifan lokal dalam solusi keberlanjutan dan peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber daya baru.
"Mahasiswa UIN Saizu mengikuti diskusi secara aktif dan memperoleh banyak perspektif baru tentang kebijakan internasional, inovasi teknologi lingkungan, dan praktik diplomasi lintas budaya," jelasnya.
Yang menarik, forum ini menampilkan Banyumas sebagai contoh daerah yang berhasil mengelola sampah berbasis kearifan lokal dan gerakan masyarakat. Praktik pengelolaan sampah di Banyumas dinilai mampu memberikan dampak positif terhadap pelestarian sumber daya alam.
Selain itu, forum membuka kemungkinan bagi sejumlah kedutaan besar untuk menjajaki peluang investasi di sektor pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan pengembangan program lingkungan di Banyumas.
Para mahasiswa TBI UIN Saizu menyampaikan kesan yang sangat positif setelah mengikuti forum internasional tersebut. “Acara ini benar-benar membuka wawasan kami," ujar Chumaera Moktika salah satu delegasi mahasiswa TBI UIN Saizu Purwokerto.
Melihat perwakilan dari tujuh negara berdiskusi tentang pengolahan sampah memberi mereka pemahaman baru bahwa isu ini merupakan masalah global yang membutuhkan solusi bersama. "Setiap negara membawa pengalaman berbeda sehingga kami dapat belajar banyak tentang teknologi dan kebijakan yang mungkin bisa diterapkan di Indonesia,” jelasnya.
Mereka juga menilai bahwa pengangkatan kearifan lokal Banyumas memberikan inspirasi baru mengenai integrasi budaya lokal dalam solusi lingkungan modern. “Gotong royong dan kesadaran masyarakat Banyumas menjadi nilai penting yang patut dicontoh," jelasnya.
Pihaknya menyadari bahwa teknologi modern memang penting, tetapi praktik budaya lokal juga memiliki kekuatan besar dalam mendorong perubahan positif.
Acara ini menghadirkan narasumber dari sejumlah kedutaan besar, antara lain:
Nico Barito perwakilan Kedutaan Besar Seychelles, Barabara Szymanowska perwakilan Kedutaan Besar Polandia, Tean Samnang perwakilan Kedutaan Besar Kamboja, Oybek Esonov perwakilan Kedutaan Besar Uzbekistan dan Dagmar González Grau perwakilan Kedutaan Besar Kuba.
Kehadiran mereka memperkaya wacana diplomasi lingkungan serta memberikan wawasan langsung tentang bagaimana negara-negara bekerja sama dalam isu keberlanjutan.
Partisipasi mahasiswa TBI dalam forum ini menegaskan komitmen UIN Saizu Purwokerto dalam membekali generasi muda dengan kompetensi internasional, kemampuan komunikasi global, serta kepedulian terhadap isu lingkungan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk berperan aktif dalam diplomasi internasional, penelitian keberlanjutan, dan kepemimpinan global di masa depan. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuPurwokerto #UINSaizuMaju #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!