Dukung Pelestarian Batik Nusantara, Prodi SPI UIN Saizu Purwokerto Bertekad Buat Laboratorium Konservasi Batik

UINSAIZU.AC.ID- Program Studi Sejarah Peradaban Islam (Prodi SPI), Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH) UIN Saizu Purwokerto bertekad membuat Laboratorium Konservasi Batik. Laboratorium itu sebagai upaya mendukung pelestarian batik nusantara, serta memfasilitasi kreativitas mahasiswa dalam membuat karya yang bernilai.
Kepala Laboratorium FUAH UIN Saizu Purwokerto, Sidik Fauzi MHum menyebutkan, rencana itu merupakan tindak lanjut program praktik pengalaman lapangan (PPL) mahasiswa Prodi SPI di Rumah Batik Rajasa Mas Cilacap. Mereka telah menjalani PPL di rumah batik tersebut selama sebulan dari Januari-Februari.
“Saya sudah berkoordinasi dengan Koordinator Prodi SPI, terkait Laboratorium Konservasi Batik. Untuk mewujudkan itu kami berharap agar fakultas bisa memfasilitasi alat-alat yang diperlukan dalam membatik. Seperti canting, wajan, kompor, ember, dan lain-lain," ungkap Sidik dalam keterangannya, Kamis (14/3/2024).
Pihaknya berharap, para mahasiswa yang sudah memiliki kemampuan dalam membatik, bisa terus mengasah kreatifitasnya, serta menularkan ilmunya ke mahasiswa lain. Jika konservasi batik dilakukan, maka beragam motif batik yang dimiliki tiap-tiap daerah di Indonesia akan tersimpan rapi.

Lebih khusus, kata Sidik Fauzi, pihaknya akan fokus terlebih dahulu pada motif-motif batik di wilayah Barlingmascakeb. Antara lain di wilayah Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Kebumen, di Provinsi Jawa Tengah.
Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Batik telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) dari UNESCO sebagai sejak 2 Oktober 2009.
Maka dari itu, dengan PPL di Batik Rajasa Mas Cilacap, mahasiswa Prodi SPI berupaya turut serta melestarikan budaya Indonesia. Sebagai tindak lanjut PPL, FUAH berharap agar kedepannya Prodi SPI bisa menciptakan Laboratorium Konsevasi Batik. Karena batik karya mahasiswa, hasilnya bagus dan mempunya nilai jual.
Mahasiswa PPL Prodi SPI, Nikmatul mengaku, di Tahun 2024 ini, Prodi SPI baru pertama kali melakukan PPL di Batik Rajasa Mas Cilacap. Di sana mereka belajar cara membuat batik dan mempraktikkan langsung proses pembuatan batik.
"Mulai dari belajar menggambar motif atau pola batik di secarik kertas sampai proses terakhir yaitu meluruhkan lilin malam dengan air yang mendidih," ujarnya. (AR)
UIN Saizu Maju



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!