Doa Bersama Refleksi Kemerdekaan di UIN Saizu, Rektor: Kemerdekaan Hasil Pertemuan Ikhtiar Manusia dan Iradah Ilahi

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Rektor Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ridwan mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai momentum untuk memperkuat rasa syukur, kesadaran kebangsaan, dan komitmen kemanusiaan.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Ridwan dalam kegiatan Doa Bersama dalam rangka Refleksi Kemerdekaan dengan tema “Meneguhkan Nilai Keagamaan, Kebangsaan dan Kemanusiaan” yang berlangsung di Lantai 1 Rektorat UIN Saizu Purwokerto, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sivitas Akademika UIN Saizu Purwokerto berkumpul untuk memanjatkan doa sekaligus melakukan refleksi atas makna kemerdekaan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof. Ridwan menyampaikan apresiasi kepada jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, termasuk mahasiswa internasional yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, kita bisa hadir dan berkumpul di rektorat dalam keadaan sehat walafiat. Mudah-mudahan pertemuan, silaturahmi, dan majelis zikir kita pada pagi hari ini mendapatkan doa dan keberkahan dari Allah SWT,” ujar Prof. Ridwan.
Dia menegaskan, doa bersama bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari ikhtiar spiritual untuk mensyukuri kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa.
Prof. Ridwan menjelaskan bahwa kemerdekaan pada hakikatnya merupakan hak dasar yang melekat pada setiap manusia sejak lahir. Tidak ada manusia yang sejak dilahirkan berada dalam kondisi terikat atau kehilangan kebebasannya.
“Kemerdekaan adalah hak bagi setiap manusia. Tidak ada satu manusia pun yang lahir langsung punya hutang. Semua manusia lahir sebagai pribadi yang merdeka,” tegasnya.
Dia kemudian mengaitkan gagasan tersebut dengan pandangan Sayyidina Umar bin Khattab mengenai kemerdekaan manusia. Menurutnya, manusia tidak seharusnya memperbudak manusia lainnya karena setiap orang lahir dalam keadaan merdeka.

Pemahaman tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan hanya persoalan politik sebuah negara, tetapi juga menyangkut martabat dan hak dasar manusia. Karena itu, berbagai bentuk penjajahan, imperialisme, penindasan, dan perbudakan manusia terhadap manusia lainnya bertentangan dengan prinsip kemanusiaan.
Prof. Ridwan mencontohkan persoalan Palestina dan Gaza sebagai salah satu gambaran bahwa isu penjajahan dan kemanusiaan masih menjadi persoalan global. “Setiap diri manusia dan setiap bangsa memiliki hak dasar yang sama untuk tumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang merdeka, menjadi pribadi manusia yang merdeka,” katanya.
Menurutnya, prinsip tersebut juga berlaku dalam kehidupan internasional. Setiap bangsa memiliki hak untuk menentukan masa depan dan membangun kehidupan berdasarkan nilai kemanusiaan, keadilan, serta kedamaian. Dalam refleksinya, Prof. Ridwan juga mengingatkan kembali pesan penting yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Menurutnya, para pendiri bangsa telah memberikan fondasi yang sangat kuat mengenai makna kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan ditempatkan sebagai hak segala bangsa, sementara penjajahan harus dihapuskan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
“Ini adalah fondasi dasar yang sudah diletakkan founding fathers kita untuk menyatakan tentang makna kemerdekaan sebagai hak dasar manusia,” ujarnya.
Dia menilai, pesan tersebut tetap relevan untuk direnungkan oleh generasi saat ini. Kemerdekaan yang telah diraih tidak boleh dipandang hanya sebagai catatan sejarah, tetapi harus menjadi dasar dalam membangun kehidupan bangsa yang lebih adil dan bermartabat.
Namun, terdapat satu dimensi penting yang menurut Prof. Ridwan tidak boleh dilupakan dalam memahami sejarah kemerdekaan Indonesia, yakni dimensi spiritual.
Pembukaan UUD 1945 menyebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Bagi Prof. Ridwan, pernyataan tersebut menunjukkan adanya kesadaran para pendiri bangsa bahwa kemerdekaan tidak hanya lahir dari perjuangan manusia, tetapi juga tidak terlepas dari rahmat dan kehendak Allah SWT.
Prof. Ridwan kemudian menjelaskan konsep kemerdekaan Indonesia sebagai pertemuan antara ikhtiar manusiawi dan iradah Ilahi. Para pahlawan, pejuang, dan syuhada telah mengorbankan tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa untuk memperjuangkan kemerdekaan. Perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari proses lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka.
Akan tetapi, dalam perspektif keimanan, seluruh ikhtiar manusia tersebut tetap berada dalam kehendak Allah SWT. “Kemerdekaan yang diraih itu adalah hasil dari pertemuan dua hal, yaitu pertemuan ikhtiar manusiawi para syuhada, para pahlawan Indonesia dengan iradah Ilahi,” terang dia.

Pertemuan antara perjuangan manusia dan kehendak Allah tersebut kemudian melahirkan deklarasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Karena itu, menurut Prof. Ridwan, kemerdekaan tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang diperoleh secara gratis atau cuma-cuma.
“Kemerdekaan bukanlah sesuatu yang gratisan, cuma-cuma, tetapi merupakan proses panjang perjuangan yang bersifat manusiawi. Pada saat yang sama, ada sentuhan takdir dan iradah Ilahi dari Allah SWT, Tuhan Yang Mahakuasa.”
Pemaknaan tersebut, lanjutnya, harus menjadi landasan moral bagi generasi sekarang dalam memperlakukan kemerdekaan. Kemerdekaan harus disyukuri sekaligus dipertanggungjawabkan dengan tindakan nyata.
Rektor UIN Saizu mengingatkan bahwa generasi saat ini merupakan pewaris bangsa yang menerima warisan perjuangan dari para pendiri negara dan para pahlawan.
Sebagai pewaris, generasi sekarang tidak cukup hanya mengenang jasa para pahlawan. Mereka memiliki kewajiban melanjutkan cita-cita kemerdekaan yang belum sepenuhnya selesai.
Menurut Prof. Ridwan, salah satu cita-cita besar tersebut adalah mewujudkan kehidupan masyarakat Indonesia dan dunia yang penuh kedamaian, keadilan, kemakmuran, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
“Kewajiban seorang pewaris adalah melanjutkan misi kemerdekaan yang belum tuntas, yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia yang penuh dengan kedamaian, adil dan makmur.”
Dalam konteks UIN Saizu sebagai lembaga pendidikan tinggi, tugas mengisi kemerdekaan dapat diwujudkan melalui pelaksanaan tridharma perguruan tinggi dan pemberian layanan akademik terbaik. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa memiliki peran masing-masing dalam meneruskan cita-cita tersebut.
Prof. Ridwan menegaskan bahwa mengisi kemerdekaan tidak harus selalu dilakukan melalui tindakan besar. Hal tersebut dapat dimulai dengan melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing secara profesional.
Bagi dosen, mengisi kemerdekaan dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta membimbing mahasiswa agar memiliki kompetensi dan karakter yang kuat.

Sementara bagi tenaga kependidikan, kontribusi dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas layanan kepada mahasiswa dan seluruh sivitas akademika.
“Aktualisasi dari pewaris negeri yang terbaik dalam konteks mengisi kemerdekaan adalah kita menjalankan tugas pokok dan fungsi kita masing-masing sebagai dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa,” jelasnya.
Pihaknya mengajak seluruh sivitas akademika untuk tidak berhenti pada rasa bangga terhadap kemerdekaan, tetapi menerjemahkan semangat kemerdekaan dalam pekerjaan sehari-hari. Profesionalisme, pelayanan yang baik, integritas, serta tanggung jawab merupakan bagian dari cara nyata menjaga dan mengisi kemerdekaan.
Khusus kepada mahasiswa, Prof. Ridwan memberikan pesan agar generasi muda memanfaatkan kesempatan belajar dengan sungguh-sungguh. Mahasiswa merupakan generasi penerus yang akan menentukan arah masa depan Indonesia.
rena itu, mereka harus mempersiapkan diri dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, karakter, dan prestasi. “Bagi generasi muda, para mahasiswa, betul-betul belajar untuk mencapai prestasi dalam rangka memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan juga dunia.”
Menurutnya, mahasiswa UIN Saizu tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa dan kemanusiaan.
Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat, baik di tingkat lokal, nasional maupun global.
Menutup sambutannya, Prof. Ridwan mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus melangitkan doa bagi bangsa Indonesia. Dia berharap kemerdekaan yang memasuki usia ke-81 dapat menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, dan mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, makmur, dan damai.
Menurutnya, doa merupakan salah satu bentuk ikhtiar spiritual untuk mendekatkan kehendak manusia dengan kehendak Allah SWT. “Mari kita langitkan doa kita, bermunajat kepada Allah SWT sebagai bagian dari cara mendekatkan iradah-irah kita agar iradah kita sebagai manusia bertemu pada satu titik dengan iradah Allah.”
Dengan demikian, berbagai cita-cita dan harapan yang dibangun untuk bangsa diharapkan dapat diwujudkan dengan pertolongan Allah SWT. Refleksi kemerdekaan di UIN Saizu akhirnya tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah 17 Agustus 1945. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk meneguhkan kembali kesadaran bahwa kemerdekaan merupakan amanah.
Kemerdekaan lahir dari perjuangan para pahlawan dan rahmat Allah SWT. Karena itu, generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menjaga, mengisi, dan melanjutkan perjuangan tersebut melalui pendidikan, pelayanan, karya, prestasi, serta pengabdian kepada masyarakat.
Semangat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar sivitas akademika UIN Saizu untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang semakin berdaulat, adil, makmur, damai, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!