Direktur Pascasarjana UIN Saizu: Puasa Adalah Resep Ilahi Menuju Sukses dan Kebahagiaan Hidup

UINSAIZU.AC.ID- Direktur Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Moh. Roqib, menyampaikan bahwa ibadah puasa bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan “resep” dari Allah SWT agar manusia meraih kesuksesan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
Pesan itu disampaikan Prof. Roqib dalam tausiyah dalam Program Lentera Ramadan UIN Saizu Purwokerto yang diunggah melalui kanal resmi YouTube UIN Saizu. Dalam ceramahnya, ia menegaskan bahwa setiap perintah Allah pasti memiliki hikmah dan tujuan yang jelas bagi kebaikan manusia.
“Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan puasa bukan tanpa alasan. Tidak ada perintah Tuhan yang sia-sia. Semua pasti mengandung hikmah agar manusia mengalami peningkatan derajat hidup,” ujarnya.
Prof. Roqib mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyam kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la‘allakum tattaqun”, yang menegaskan bahwa kewajiban puasa bertujuan untuk membentuk pribadi bertakwa.
Menurutnya, frasala ‘allakum tattaqun mengandung makna transformasi dari kondisi biasa menuju kondisi yang lebih baik, lebih tenang, dan lebih bahagia. Proses peningkatan itu, kata dia, dilatih melalui ibadah puasa.
“Semua orang ingin sukses, ingin mencapai derajat hidup yang lebih tinggi. Puasa adalah salah satu jalan untuk mendisiplinkan diri, membuang hal-hal yang tidak bermanfaat, dan fokus pada aktivitas yang meningkatkan kualitas diri,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa puasa tidak hanya dimaknai secara fisik (menahan lapar dan dahaga), tetapi juga secara spiritual dan intelektual. Bagi pelajar dan mahasiswa, puasa dapat dimaknai sebagai kesungguhan dalam belajar, membaca, berdiskusi, hingga mengikuti seminar dan forum ilmiah.
Menurutnya, aktivitas akademik yang dilakukan dengan disiplin dan niat yang kuat merupakan bagian dari implementasi nilai puasa dalam kehidupan sehari-hari. “Berpuasa secara lahir dan batin berarti membiasakan diri melakukan yang positif dan meninggalkan yang negatif. Itu yang akan menunjang prestasi dan meningkatkan profesionalitas seseorang,” katanya.
Direktur Pascasarjana UIN Saizu juga menyebut bulan Ramadan sebagai “laboratorium” pembentukan karakter. Nilai-nilai kedisiplinan, pengendalian diri, serta peningkatan spiritualitas yang dilatih selama Ramadan, seharusnya berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Jika puasa dijadikan kebiasaan dalam arti luas yakni konsisten melakukan hal bermanfaat dan menjauhi larangan agama maka kehidupan seseorang akan terus bergerak menuju kesuksesan di setiap waktu dan tempat. “Jika ini menjadi habitus dan tradisi hidup, maka tidak ada lagi yang kita tuju selain kesuksesan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia pun menutup tausiyahnya dengan doa agar seluruh umat senantiasa mendapatkan ridha dan pendampingan Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan. Pesan ini menjadi pengingat bahwa puasa Ramadan bukan hanya ibadah tahunan, tetapi momentum transformasi diri menuju kualitas hidup yang lebih baik-baik secara spiritual, intelektual, maupun sosial. (AR/TA)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!