Dekan Fakultas Dakwah UIN Saizu: Puasa Ramadan jadi Terapi Spiritual untuk Kendalikan Diri di Era Digital

UINSAIZU.AC.ID- Dekan Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Dr. Muskinul Fuad mengajak umat Islam memaknai ibadah puasa Ramadan sebagai terapi spiritual yang mampu memperkuat pengendalian diri, menjernihkan pikiran, serta meningkatkan kualitas keimanan di tengah tantangan kehidupan modern.
Hal tersebut disampaikan Dr. Muskinul Fuad dalam program Lentera Ramadan UIN Saizu Purwokerto. Dia menegaskan bahwa bulan suci Ramadan adalah kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan. “Alhamdulillah, tahun ini kita kembali dipertemukan dengan Ramadan. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar tidak berlalu tanpa makna,” ujarnya.
Menurutnya, pemahaman tentang hakikat puasa perlu terus diperbarui agar ibadah yang dijalankan semakin bermakna dan bermanfaat. Ia menjelaskan, puasa tidak hanya berdimensi fisik, tetapi juga memiliki kekuatan terapi spiritual yang mendalam.
Secara medis, kata dia, puasa telah direkomendasikan sebagai terapi untuk sejumlah persoalan kesehatan. Namun yang lebih utama adalah dimensi spiritualnya. “Puasa bisa kita lihat sebagai terapi spiritual yang sangat kuat. Ia melatih pengendalian diri, meningkatkan keimanan, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan kesadaran penuh atau mindfulness,” jelasnya.
Dalam praktiknya, puasa melatih keikhlasan, ketenangan batin, serta membantu mengurangi stres akibat dinamika kehidupan yang semakin kompleks. Ramadan menjadi momentum untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk aktivitas dan melakukan penataan ulang batin.
Dr. Muskinul Fuad menambahkan, puasa juga berfungsi membentuk karakter sabar dan memperkuat empati sosial. Saat menahan lapar dan dahaga, seseorang belajar merasakan kondisi mereka yang kurang beruntung, sehingga tumbuh kepedulian sosial.
Dia menekankan pentingnya memperdalam aspek spiritual puasa, termasuk konsep tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Dalam kehidupan modern, menurutnya, jiwa kerap terpapar berbagai pengaruh negatif, baik dari lingkungan maupun konten digital.
“Ramadan adalah momentum membersihkan jiwa dari berbagai kotoran batin. Jangan sampai selama puasa justru pikiran kita terkontaminasi oleh hal-hal yang merusak,” tegasnya.
Puasa, lanjutnya, juga menjadi sarana melatih pengendalian emosi dari sifat iri, dengki, dan sombong, serta mengontrol dorongan dasar seperti amarah dan syahwat.
Dalam perspektif psikologis, puasa dapat dimaknai sebagai proses katarsis, yakni pelepasan beban mental melalui kepasrahan total kepada Allah SWT. Dengan membatasi asupan fisik maupun informasi yang berlebihan, seseorang dilatih untuk memiliki pikiran yang lebih jernih.
Di era digital saat ini, paparan informasi yang masif sering kali memengaruhi pola pikir dan kondisi psikologis. Karena itu, Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk mengendalikan konsumsi informasi dan memperkuat refleksi diri atau muhasabah.
“Selama bulan puasa, mari kita kurangi asupan yang kurang bermanfaat, termasuk dari media digital. Dengan begitu, kita tetap bisa hidup di era modern tanpa kehilangan kejernihan berpikir,” ungkapnya.
Menutup pesannya, Dekan Fakultas Dakwah UIN Saizu tersebut berharap Ramadan benar-benar menjadi sarana transformasi spiritual yang berdampak pada kualitas pribadi dan sosial umat Islam. “Semoga Ramadan kali ini membawa manfaat dan perubahan yang lebih baik dalam kehidupan kita,” pungkasnya. (AR/TA)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!