Dari Purwokerto ke Carlton: Dosen FEBI UIN Saizu Bedah Gastrodiplomasi Halal dan Islamic Culture di Melbourne

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ahmad Dahlan memperkuat riset internasional mengenai gastrodiplomasi halal dan budaya Islam melalui penelitian lapangan di Australia.
Salah satu agenda riset tersebut dilakukan dengan berdiskusi bersama Prof. Nadirsyah Hosen, akademisi, tokoh diaspora Indonesia, dan figur Nahdlatul Ulama (NU) yang berkiprah di Australia. Pertemuan berlangsung pada Senin, 17 Agustus 2026, di Melbourne University Law School, Carlton, Melbourne.
Pertemuan selama hampir satu setengah jam itu menjadi bagian dari riset Prof. Ahmad Dahlan bertajuk “Gastrodiplomacy of Halal Food and Islamic Culture by the Indonesian Diaspora in the Era of ‘Indonesia Spice Up the World’ (Case Study in Australia)”.
Dalam kesempatan tersebut, keduanya membahas sejumlah isu yang berkaitan dengan Islamic culture, perkembangan komunitas Muslim di Australia, dinamika pemikiran umat Islam, serta peluang menjadikan budaya Islam sebagai bagian dari penguatan hubungan Indonesia dan Australia.
Riset Prof. Ahmad Dahlan melihat makanan halal bukan sekadar bagian dari kebutuhan konsumsi masyarakat Muslim. Dalam konteks hubungan internasional, kuliner halal juga dapat menjadi instrumen diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas Indonesia kepada masyarakat global.
Konsep tersebut semakin relevan melalui gerakan “Indonesia Spice Up the World”, yang mendorong kuliner Indonesia menjadi bagian dari promosi budaya dan ekonomi Indonesia di tingkat internasional. Australia menjadi salah satu konteks menarik untuk dikaji karena memiliki masyarakat multikultural dengan komunitas Muslim yang berkembang.
Dalam situasi tersebut, makanan halal dan budaya Islam dapat menjadi ruang interaksi antara diaspora Indonesia dengan masyarakat lokal sekaligus menjadi sarana memperkenalkan nilai-nilai budaya Indonesia.
Wawancara dengan Prof. Nadirsyah Hosen menjadi bagian penting dalam melihat dinamika tersebut dari perspektif diaspora Indonesia yang telah lama berinteraksi dengan masyarakat Australia. Dalam diskusi tersebut, salah satu tema yang mengemuka adalah hubungan antara modernisme intelektual, tradisi Nahdlatul Ulama, dan perkembangan hukum Islam.
Prof. Ahmad Dahlan melihat adanya perpaduan antara tradisi intelektual modern dengan nilai-nilai keislaman yang berakar pada tradisi NU dalam pemikiran Prof. Nadirsyah Hosen. Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman terhadap hukum Islam dan budaya Islam dapat berkembang secara kontekstual tanpa kehilangan fondasi spiritual dan nilai-nilai keislamannya.
Pandangan tersebut juga tercermin dari kebiasaan Prof. Nadirsyah Hosen untuk tetap menjaga hubungan dengan para kiai ketika berada di Indonesia. Silaturahmi dan meminta doa kepada para kiai sepuh menjadi bagian dari tradisi yang tetap dipertahankannya meskipun telah lama tinggal dan berkiprah di Australia.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa diaspora Indonesia dapat membangun interaksi dengan lingkungan global sekaligus tetap mempertahankan akar tradisi dan identitas keagamaannya.
Pertemuan di Melbourne tersebut juga membahas perkembangan Islam di Australia serta tantangan umat Islam dalam membangun kehidupan keagamaan di tengah masyarakat yang plural.
Menurut Prof. Ahmad Dahlan, pengalaman diaspora Muslim Indonesia di Australia memberikan perspektif penting mengenai bagaimana identitas Islam dapat berinteraksi dengan sistem sosial yang berbeda.
Islamic culture tidak hanya hadir melalui aktivitas keagamaan, tetapi juga melalui pendidikan, intelektualitas, kehidupan sosial, kuliner, serta hubungan antarmasyarakat.
Perspektif tersebut menjadi penting dalam riset mengenai gastrodiplomasi karena kuliner halal dapat menjadi salah satu medium yang mempertemukan identitas keislaman dengan kehidupan masyarakat multikultural.
Dalam perbincangan tersebut, Prof. Nadirsyah Hosen juga menyampaikan sejumlah agenda yang akan dilakukannya di Indonesia. Ia dijadwalkan menghadiri Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang sebagai warga NU. Selain itu, ia juga akan melakukan kegiatan bedah buku terbarunya yang mengangkat tema Asmaul Husna.
Bagi Prof. Ahmad Dahlan, perbincangan tersebut memberikan gambaran lebih utuh mengenai sosok Prof. Nadirsyah Hosen, khususnya dalam melihat hubungan antara intelektualitas, tradisi keislaman, dan pengalaman hidup sebagai diaspora Indonesia di Australia.
Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bagaimana identitas keislaman dapat terus dirawat sekaligus berdialog dengan perkembangan masyarakat global. Pertemuan Prof. Ahmad Dahlan dengan Prof. Nadirsyah Hosen menjadi bagian dari upaya FEBI UIN Saizu Purwokerto memperluas jejaring akademik dan riset internasional.
Kajian mengenai gastrodiplomasi halal dan Islamic culture memiliki ruang pengembangan yang luas, terutama dalam melihat peran diaspora Indonesia dalam memperkenalkan identitas, tradisi, serta produk budaya Indonesia di luar negeri.
Melalui penelitian lapangan di Australia, FEBI UIN Saizu diharapkan semakin aktif berkontribusi dalam pengembangan kajian ekonomi dan bisnis Islam yang bersinggungan dengan isu global, diplomasi budaya, diaspora, serta industri halal.
Riset tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan keilmuan di perguruan tinggi tidak terbatas pada ruang kelas. Interaksi akademik lintas negara menjadi bagian penting untuk memperkaya perspektif, memperluas jejaring, dan menghasilkan kajian yang relevan dengan dinamika masyarakat global. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!