Dari Pulau Bum Bum untuk Harapan: Jejak Wulandari Mahasiswi PMI UIN Saizu Mengajar Anak Imigran di Sabah

MALAYSIA, UINSAIZU.AC.ID- Di sebuah sudut Sabah, Malaysia, suara anak-anak terdengar riuh memecah pagi. Mereka duduk beralas tikar sederhana, memegang buku tulis yang mulai usang. Tak ada seragam sekolah, tak ada lonceng yang menandai pergantian jam pelajaran.
Namun di wajah mereka tersimpan semangat belajar yang begitu besar. Di hadapan mereka berdiri seorang mahasiswi asal Purwokerto. Dengan senyum hangat, ia mengajarkan huruf demi huruf, angka demi angka, sembari sesekali mengajak mereka bernyanyi agar suasana belajar terasa menyenangkan.
Namanya Wulandari, mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto. Jauh dari ruang kuliah dan hiruk-pikuk kampus, ia memilih menjalani pengabdian selama 20 hari melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia.
Bersama tujuh mahasiswa lainnya empat laki-laki dan empat perempuan Wulandari membawa semangat pengabdian melintasi batas negara. Bagi mereka, KKN bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan menghadirkan harapan di tempat yang selama ini luput dari perhatian.
Penempatan Wulandari berada di kawasan Pulau Bum Bum, Semporna, Sabah. Sementara rekan-rekan laki-lakinya bertugas di Pulau Bait dan Sandakan. Di tempat inilah ia bertemu kenyataan yang selama ini hanya dibacanya dari buku atau jurnal.
Sekitar 150 anak imigran menjalani kehidupan tanpa akses pendidikan formal. Mereka bukan tidak ingin bersekolah, tetapi status kewarganegaraan yang belum diakui membuat pintu sekolah negeri Malaysia tertutup bagi mereka.
Sebagai gantinya, anak-anak tersebut belajar di pusat pendidikan sederhana yang dikelola para ustazah bersama Yayasan Ikhlas, sebuah organisasi sosial yang selama ini menjadi tempat mereka menggantungkan harapan.
Di ruang belajar yang sederhana itulah Wulandari dan tim mengabdikan diri. Bukan hanya mengajarkan membaca, menulis, atau berhitung, tetapi juga menghadirkan perhatian dan kasih sayang yang mungkin selama ini jarang mereka rasakan.

Keputusan mengikuti KKN Internasional lahir dari kegelisahan yang telah lama dipendam Wulandari. Ia ingin melihat langsung bagaimana kehidupan masyarakat marginal di luar Indonesia dan bagaimana ilmu yang dipelajarinya dapat benar-benar bermanfaat.
"Saya melihat masih ada ketimpangan yang cukup miris. Anak-anak imigran ini memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, tetapi karena status kewarganegaraan mereka belum diakui oleh pemerintah Malaysia, mereka tidak dapat mengakses sekolah kerajaan," tuturnya.
Kalimat itu terus terngiang selama menjalani pengabdian. Setiap kali melihat anak-anak datang dengan senyum lebar membawa buku seadanya, Wulandari semakin yakin bahwa pendidikan bukan sekadar soal gedung sekolah, tetapi tentang hadirnya orang-orang yang mau berbagi ilmu.
Sebagai mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam, Wulandari merasa pengalaman ini menjadi laboratorium kehidupan yang sesungguhnya. Di ruang kelas kampus, ia mempelajari teori pemberdayaan masyarakat. Namun di Pulau Bum Bum, teori itu menjelma menjadi tindakan nyata.
Ia belajar mendengar kebutuhan masyarakat, memahami budaya yang berbeda, membangun komunikasi, hingga menjadi fasilitator yang mampu menggerakkan harapan.
"Sebagai mahasiswa PMI, kami tidak hanya belajar teori pemberdayaan masyarakat, tetapi juga harus mampu membantu masyarakat mengembangkan potensi mereka, termasuk masyarakat di wilayah terpencil yang memiliki hak yang sama untuk berkembang," ujarnya.
Baginya, pengabdian bukan berarti datang untuk mengubah semuanya dalam waktu singkat. Pengabdian adalah menemani masyarakat agar perlahan mampu tumbuh dengan kekuatan yang mereka miliki. Selama berada di Sabah, Wulandari mengaku lebih banyak belajar daripada mengajar.
Ia menyaksikan anak-anak yang tetap bersemangat belajar meski fasilitas sangat terbatas. Ia melihat keluarga yang tetap tersenyum meski hidup jauh dari berbagai kemudahan. Pengalaman itu mengubah cara pandangnya tentang kehidupan. Setiap perjumpaan menjadi pelajaran tentang ketangguhan, kesabaran, dan rasa syukur.

"Saya berharap kehadiran kami dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat dan meninggalkan perubahan yang berarti. Selain itu, pengalaman ini menjadi bekal untuk menghadapi realitas kehidupan masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan," katanya.
Bagi Wulandari, perjalanan ke Malaysia bukan sekadar perjalanan lintas negara. Ini adalah perjalanan mengenal diri sendiri. Ia belajar bahwa keberanian sering kali dimulai dari keputusan sederhana: mengatakan "ya" pada kesempatan yang belum pernah dicoba.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa lain untuk tidak ragu mengambil peluang serupa. "Jangan takut mengambil pilihan yang berbeda. Terkadang pengalaman terbesar justru didapat ketika kita berani keluar dari zona nyaman," pesannya.
Kisah Wulandari menunjukkan bahwa semangat pengabdian tidak berhenti di dalam negeri. Melalui program KKN Internasional, mahasiswa UIN Saizu hadir sebagai duta kemanusiaan yang membawa ilmu, kepedulian, dan harapan bagi masyarakat lintas negara.
Di Pulau Bum Bum, mungkin mereka hanya tinggal selama dua puluh hari. Namun bagi anak-anak yang setiap pagi menanti kedatangan para mahasiswa dengan senyum polos, kehadiran itu meninggalkan jejak yang lebih lama daripada masa pengabdian itu sendiri.
Sebab terkadang, perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Ia lahir dari kesediaan seseorang untuk datang, mendengar, mengajar, dan percaya bahwa setiap anak di mana pun mereka berada berhak memiliki mimpi. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!