Details

Angkat Literasi dan Etika AI, Mahasiswi FTIK UIN Saizu Raih Terbaik 2 Esai Nasional Fordetak

 

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Alfi Hidayatul Mukaromah berhasil meraih Terbaik 2 Cabang Lomba Esai Kependidikan Tingkat Nasional yang digelar Forum Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (Fordetak).

Mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Semester 5 itu berhasil meraih prestasi melalui esai berjudul “Menavigasi Dilema Artificial Intelligence di Ruang Digital: Mengukuhkan Literasi dan Etika bagi Calon Guru Masa Depan.”

Gagasan dalam esai tersebut mengangkat isu perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) generatif yang semakin dekat dengan kehidupan akademik dan ruang digital. Alfi membahas berbagai peluang sekaligus tantangan yang muncul dari penggunaan teknologi AI dalam dunia pendidikan.

Capaian tersebut semakin membanggakan karena Alfi tidak hanya aktif sebagai mahasiswa TBI, tetapi juga dipercaya menjabat sebagai Ketua HMPS TBI. Prestasi nasional ini menunjukkan kemampuan mahasiswa UIN Saizu dalam membaca perubahan zaman sekaligus menuangkannya dalam gagasan akademik yang relevan.

Melalui esainya, Alfi menyoroti kemunculan AI generatif yang membawa perubahan terhadap praktik pembelajaran, integritas riset, hingga penulisan akademik. Teknologi AI memberikan berbagai kemudahan bagi mahasiswa dan pendidik dalam mencari informasi, mengembangkan ide, maupun mendukung proses pembelajaran.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan baru ketika teknologi digunakan tanpa mempertimbangkan etika dan integritas akademik. Alfi melihat adanya perdebatan mengenai batas antara pemanfaatan AI secara produktif dan penggunaan teknologi yang berpotensi menggerus integritas akademik.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena calon guru pada masa depan tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk menilai informasi, memahami konsekuensi penggunaan teknologi, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Gagasan utama dalam esai Alfi menekankan pentingnya lembaga pendidikan calon guru merespons perubahan lanskap pendidikan akibat perkembangan AI. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan keterampilan teknis menggunakan teknologi.

Pendidikan calon guru juga perlu membangun budaya akademik yang memperkuat integritas, literasi digital, daya kritis, dan tanggung jawab moral. Dengan bekal tersebut, calon guru diharapkan mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas sekaligus memiliki kemampuan menentukan kapan dan bagaimana teknologi digunakan secara tepat.

AI, dalam perspektif tersebut, bukan semata-mata alat yang harus diterima atau ditolak. Teknologi perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang penggunaannya harus disertai kesadaran etis dan tanggung jawab akademik.

Dosen pembimbing Alfi, Dr. Dimas Indianto S, menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih mahasiswinya tersebut. Menurutnya, capaian Alfi menunjukkan bahwa mahasiswa UIN Saizu memiliki ruang yang luas untuk menyampaikan gagasan mengenai persoalan pendidikan yang tengah dihadapi masyarakat.

“Prestasi Alfi menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki ruang yang luas untuk menyampaikan gagasan tentang persoalan pendidikan yang sedang dihadapi masyarakat. AI merupakan tantangan baru bagi dunia pendidikan, sehingga calon guru perlu dibekali bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga literasi dan etika,” ungkap Dr. Dimas.

 

 

Dia menilai prestasi tersebut juga menjadi bagian dari proses pembentukan calon pendidik yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi, menurutnya, perlu terus diperkuat di lingkungan perguruan tinggi.

Dengan tradisi akademik tersebut, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memberikan arah bagi pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan.

Prestasi Alfi menjadi salah satu capaian yang memperkuat tradisi akademik mahasiswa UIN Saizu di tingkat nasional. Melalui kompetisi esai, mahasiswa mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus menguji gagasan yang mereka miliki terhadap berbagai persoalan aktual.

Dalam konteks perkembangan AI, kemampuan tersebut semakin penting. Mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk membaca perubahan, mempertanyakan dampaknya, serta menawarkan gagasan yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Esai Alfi menunjukkan bahwa isu teknologi dapat dibaca tidak hanya dari perspektif teknis, tetapi juga dari sisi pendidikan, etika, dan kemanusiaan. Capaian Terbaik 2 dalam Lomba Esai Kependidikan Tingkat Nasional Fordetak menjadi lebih dari sekadar pencapaian kompetisi.

Esai Alfi membawa pesan bahwa masa depan pendidikan tidak cukup dipersiapkan dengan kecakapan digital. Calon guru juga membutuhkan kemampuan membaca perubahan, berpikir kritis, memahami dampak teknologi, serta memiliki keteguhan dalam menjaga nilai-nilai akademik dan kemanusiaan.

Bagi dunia pendidikan, perkembangan AI menjadi tantangan sekaligus peluang. Teknologi dapat membantu memperluas akses terhadap pengetahuan dan mendukung proses pembelajaran. Namun, pemanfaatannya membutuhkan literasi dan etika agar tidak menghilangkan nilai kejujuran, tanggung jawab, serta orisinalitas dalam proses akademik.

Melalui gagasan tersebut, Alfi menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengambil peran dalam membicarakan masa depan pendidikan sekaligus memberikan perspektif dari generasi yang akan berhadapan langsung dengan perkembangan teknologi tersebut.

Prestasi Alfi Hidayatul Mukaromah menjadi kabar positif bagi UIN Saizu Purwokerto dalam upaya memperkuat budaya akademik mahasiswa. Capaian di tingkat nasional tersebut memperlihatkan bahwa mahasiswa UIN Saizu mampu berkompetisi sekaligus menghadirkan gagasan yang relevan dengan persoalan pendidikan kontemporer.

Keberhasilan Alfi juga menjadi contoh bahwa aktivitas menulis, membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis dapat membuka ruang prestasi sekaligus memberikan kontribusi pemikiran.

Melalui mahasiswa seperti Alfi, UIN Saizu terus mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu membaca perubahan zaman dan menawarkan solusi melalui ilmu pengetahuan.

Prestasi tersebut sekaligus menegaskan bahwa kegelisahan terhadap perkembangan teknologi dapat diubah menjadi gagasan yang bernilai, kritis, dan berdaya saing nasional.

Bagi calon guru, kemampuan tersebut menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia pendidikan yang terus berubah. Menguasai teknologi adalah kebutuhan, tetapi menjaga literasi, etika, integritas, dan kemanusiaan adalah keharusan. (AR/SA)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *