Tidak Diberikannya Suatu Pemberian Adalah Pemberian
Oleh : Safrudin Aziz
Koordinator Tim Humas UIN Saizu Purwokerto
Suatu ketika ada seorang raja dzalim terkena penyakit yang sangat mematikan. Suasana istana bingung, melihat kondisi sang raja kian hari kian memburuk. Melihat kondisi seperti itu, terdapat seorang Tabib yang mengetahui obat yang dapat menyembuhkan penyakit sang raja, yakni ikan (sebut saja: ikan kuntet).
Namun ikan kuntet itu muncul pada musim tertentu saja, bahkan masyarakat meyakini ikan kuntet biasa muncul sepuluh tahun sekali di lautan. Sang raja dzalim itu berdo’a kepada Tuhan, agar ikan kuntet secepatnya muncul dilautan. Sehingga penyakit yang ada dalam dirinya segera sembuh.
Mendengar do’a sang raja itu, Tuhan menyuruh para malaikat agar menggiring ikan kuntet dan bermunculan dilautan dengan sangat banyak. Sang Tabib beserta raja dan keluarganya sangat gembira. Ternyata ikan kuntet yang ditunggu muncul dan dapat diambil dengan mudah. Setelah memakan ikan kuntet, sang raja dzalim akhirnya sembuh dari sakitnya.
Di suatu kerajaan yang lain, terdapat raja saleh nan adil juga mengidap penyakit yang sama seperti raja yang dzalim itu. Sang raja saleh berdo’a dengan lama dan khusyu’. Para Tabib menyarankan obat penyembuh bagi sang raja saleh hanya satu, yakni ikan kuntet.
Para Tabib bergembira dan menyampaikan kepada raja, bahwa saat ini adalah musim ikan kuntet muncul di lautan. Mendengar do’a sang raja saleh itu, Tuhan menyuruh para malaikat agar menggiring ikan kuntet masuk ke sarangnya masing-masing. Para ikan diminta para malaikat agar tidak keluar dari sarangnya, hingga sang raja saleh itu wafat.
Hari berganti hari, ikan kuntet tak kunjung ditemukan. Akhirnya sang raja saleh pun meninggal dunia. Melihat keadaan seperti itu, para malaikat dilangit bingung dan mengadu kepada Tuhan. Mengapa raja yang dzalim, jahat dan tidak adil itu do’anya langsung dikabulkan Tuhan. Sehingga ia tidak meninggal.
Sementara raja saleh yang baik dan adil itu meninggal dunia karena do’anya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Tuhan lantas berfirman: walaupun raja yang zalim itu banyak berbuat dosa dan ketidakadilan, tapi ia juga pernah berbuat baik. Demi kasih sayangku, Aku berikan pahala amal baiknya.
Sebelum meninggal dunia, masih ada amal baiknya yang belum aku balas. Maka Ku segerakan membalasnya, supaya dia datang kepada-Ku hanya dengan membawa dosa-dosanya. Artinya sudah tidak ada lagi amal baik yang harus dibalas. Demikian juga dengan raja yang saleh itu, walaupun ia banyak berbuat baik, ia juga pernah berbuat buruk.
Sehingga aku balas keburukannya dengan musibah. Menjelang kematiannya masih ada dosa yang belum Aku balas. Maka Aku tolak do’anya untuk mendapatkan kesembuhan. Supaya bila ia datang kepada Ku, ia hanya membawa amal salehnya saja.
Dari kisah di atas dapat kita pahami bahwa dibalik tidak dikabulkannya do’a seorang mukmin yang saleh disebabkan Tuhan senang mendengar rintihannya secara berlama-lama. Dengan merintih semakin lama, akhirnya ia menjadi hamba yang dekat dengan Tuhan dan Tuhan pun selalu didekatnya.
Begitu sebaliknya, do’a seorang fasik, zalim, kafir, lebih cepat terkabulkan karena Tuhan bosan mendengar suara dan keluhannya. Imam Ja’far menguatkan nabi Musa yang tak berdosa saja menunggu do’anya selama 40 tahun untuk menggulingkan Fir’aun.
Nabi Zakariya dikabulkan do’anya agar dikaruniai keturunan harus menunggu selama 20 tahun setelah beliau menikah. Hingga diusia 80 tahun do’a nabi Zakariya tak kunjung dikabulkan. Beliau tak kunjung kecewa dengan Tuhan. Beliau juga tidak menyalahkan Tuhan. Beliau justru tetap berdo’a.
Karena beliau memahami Tuhan asyik mendengar rintihan permohonannya. Dari sinilah perlunya melahirkan sebuah keyakinan bahwa tidak diberikannya suatu pemberian adalah pemberian.



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!