Spirit Lailatul Qadar

Oleh : Safrudin Aziz
Koordinator Humas UIN Saizu Purwokerto
Lailatul Qadar secara bahasa berasal dari kata lail dan qadar. Lail itu malam, sedangkan qadar menurut Quraish Sihab mengandung tiga arti yakni penentuan atau ketetapan, mulia dan sempit. Qadar bermakna penentuan atau penetapan artinya di malam lailatul qadar ini, Allah menentukan banyak hal.
Sehingga Lailatul Qadar dapat dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu ditetapkan segala urusan bijaksana. (QS. al-Dukhan: 3-4).
Qadar sebagai malam yg mulia karena kemuliaannya lebih mulia dari seribu bulan. Bahkan kemuliaan lailatul qadar ini sifatnya tidak bisa di lukiskan dan tidak terjangkau oleh akal. Hal ini dikuatkan dalam al-Qur’an:
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
Artinya: Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS. Al-Qadar: 2).
Semua kata yang menggunakan lafadz wama adraka itu menggambarkan semua akal manusia itu tidak mampu untuk menjangkaunya. Sehingga apabila seseorang hendak membicarakan tentang lailatul qadar harus merujuk pada ayat al-Qur’an maupun petunjuk Rasulullah Saw.
Bukan menggunakan pendekatan akal atau pengetahuan yang dimiliki dan dikembangkan oleh manusia. Sehingga dalam kontek ini orang yang mendapatkan lailatul qadar hidupnya pasti akan lebih baik dari seribu bulan.
Ketiga, qadar itu juga berarti sempit, karena malam itu terlalu banyak malaikat yang turun ke bumi. Sehingga alam ini terlihat sangat sempit. Hal ini didasarkan pada ayat:
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
Artinya: pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (QS. Al-Qadar: 4).
Dikarenakan lailatul qadar ini hanya terjadi satu malam dan hanya terulang satu tahun sekali, maka seorang muslim amat merugi jika tidak mendapatkan malam kemuliaan itu.
Sehingga perlu kita pahami bahwa untuk mendapatkan kemulian lailatul qadar perlu dilakukan ikhtiar secara lahir maupun batin melalui: pertama, memperbanyak istighfar dan do’a. Nabi Saw pernah mengajarkan sebuah do’a kepada Siti Aisyah:
اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya: ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemaafan, maka ampunilah aku) (HR. Imam Ahmad).
Do’a ini substansinya berisi istighfar. Sehingga memperbanyak istighfar juga sangat dianjurkan untuk mendapatkan pengampunan dan lailatul qadar dari Allah Swt. Selain itu, memperbanyak dzikir laa haula walaa quwwata illa billah juga menjadi sesuatu yang sangat dianjurkan. Sebab dzikir ini mampu menambah kekuatan lahir dan batin agar kita semakin kuat dan semangat dalam beribadah diwaktu malam.
Kedua, menegakan dan memperbanyak shalat sunnah di malam hari. Hal ini di dasarkan pada hadits:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari). Shalat sunnah yang dimaksud pada hadits di atas bisa berupa shalat tahajud, shalat tarawih, dan shalat sunnah lainnya.
Ketiga, menegakan shalat isya dan shubuh secara berjama’ah. Imam Syafi’i menyebutkan:
أَنَّ إِحْيَاءَهَا يَحْصُلُ بِأَنْ يُصَلِّيَ العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ وَ يَعْزِمُ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ
Artinya: menghidupkan lailatul qadar bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjama’ah.
Imam Malik dan Ibnul Musayyib juga menegaskan:
مَنْ شَهِدَ لَيْلَةَ القَدْرِ ـ يَعْنِي فِي جَمَاعَةٍ ـ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا
“Siapa yang menghadiri shalat berjama’ah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut.
Kedua pendapat tersebut tampaknya didasarkan pada sebuah hadits:
مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ
Artinya: siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Keempat, menghidupkan malam dengan memperbanyak membaca al-Qur’an. Membaca al-Qur’an selain berpahala besar juga menjadi sarana memperoleh syafa’atul qur’an kelak di akhirat. Kelima, bersedekah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Selanjutnya, seseorang yang mendapatkan lailatul qadar secara spiritual akan terlihat bahwa dalam dirinya akan terjadi peningkatan kebaikan secara terus menerus. Sebab turunnya malaikat pada malam lailatul qadar berfungsi mendorong dan memantapkan kebaikan pada diri seseorang.
Selain itu, hati seseorang yang mendapatkan lailatul qadar akan semakin damai dengan dirinya maupun damai dengan orang lain sepanjang hidupnya (salamum hiya hatta mathla’il fajr).
Damai dengan dirinya berarti ia mampu qona’ah, istiqomah, selalu bersyukur, tidak mudah menggerutu bahkan hatinya tidak mengkufuri anugerah yang sudah Allah berikan kepadanya.
Damai terhadap orang lain berarti tidak mengganggu, tidak mencemooah, tidak menghina, tidak menjelek-jelekan orang lain meskipun orang lain itu jelek, termasuk dalam dunia akademik tidak melakukan plagiasi serta kritik tak bermoral terhadap hasil ijtihad orang lain. Dua kedamaian inilah yang akan mengantarkan seseorang ke Darussalam (surga).



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!