Details

Sekolah sebagai Pabrik atau Ruang Emansipasi? Membaca Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional di Tengah Logika Pasar

Oleh : Prof. Dr. Kholid Mawardi, M.Hum
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Dua peringatan yang datang berurutan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional sering kali dirayakan tanpa jembatan makna di antara keduanya. Yang satu berbicara tentang kerja dan kesejahteraan, yang lain tentang ilmu dan pembentukan manusia.

Namun, dalam realitas sosial kita hari ini, keduanya justru bertemu dalam satu ruang yang problematik: pendidikan yang semakin diposisikan sebagai alat produksi tenaga kerja.

Ketika negara mulai merencanakan penutupan program studi yang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, pertanyaan mendasar pun muncul: apakah sekolah masih menjadi ruang emansipasi, atau telah berubah menjadi pabrik manusia?

Gagasan pendidikan sebagai pembebasan pernah ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara. Ia memandang pendidikan sebagai proses memerdekakan manusia baik secara pikiran, sikap, maupun tindakan.

Pendidikan bukan sekadar alat untuk mencari nafkah, tetapi jalan untuk menjadi manusia seutuhnya. Dalam kerangka ini, sekolah adalah ruang kebudayaan, tempat nilai, makna, dan kesadaran ditumbuhkan. Namun, arah kebijakan pendidikan kontemporer tampak bergerak menjauh dari cita-cita tersebut.

Ketika negara mulai menilai kelayakan program studi berdasarkan serapan pasar kerja, pendidikan perlahan direduksi menjadi instrumen ekonomi. Prodi-prodi yang tidak dianggap “produktif” secara pasar terutama di bidang humaniora, filsafat, atau kajian keislaman tertentu berpotensi ditutup atau dilebur.

Logika yang digunakan tampak sederhana: pendidikan harus relevan dengan kebutuhan industri. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersembunyi reduksi besar terhadap makna pendidikan itu sendiri.

Dalam perspektif budaya, fenomena ini mencerminkan pergeseran dari pendidikan sebagai proses humanisasi menuju pendidikan sebagai mekanisme produksi. Sekolah tidak lagi dilihat sebagai ruang untuk membentuk kesadaran kritis, melainkan sebagai jalur distribusi tenaga kerja.

Kurikulum disusun untuk memenuhi permintaan pasar, bukan untuk menjawab kebutuhan manusia sebagai makhluk berpikir dan berbudaya. Akibatnya, peserta didik diarahkan untuk menjadi “siap pakai”, bukan “siap berpikir”.

Di sinilah Hari Buruh menemukan relevansinya. Buruh dalam sejarahnya bukan sekadar pekerja, tetapi subjek yang berjuang untuk mendapatkan pengakuan atas martabatnya. Tanpa kesadaran, buruh mudah terjebak dalam sistem yang eksploitatif.

Pendidikan seharusnya menjadi alat untuk membangun kesadaran itu. Namun, jika pendidikan sendiri tunduk pada logika pasar, maka ia berpotensi justru mereproduksi sistem yang sama: menghasilkan pekerja yang terampil tetapi tidak kritis, adaptif tetapi tidak reflektif.

Kebijakan penutupan program studi yang tidak sesuai pasar kerja juga berpotensi mempersempit keragaman intelektual bangsa. Padahal, kebudayaan yang sehat justru lahir dari keberagaman perspektif.

Ilmu-ilmu humaniora, misalnya, mungkin tidak selalu menghasilkan pekerjaan dengan cepat, tetapi ia membentuk cara berpikir, etika, dan kepekaan sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa. Menghilangkan atau memarginalkan bidang-bidang ini sama saja dengan mengikis dimensi reflektif dari masyarakat.

Lebih jauh, kebijakan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang menentukan arah pendidikan. Jika pasar menjadi penentu utama, maka pendidikan kehilangan otonominya sebagai ruang kritik. Padahal, dalam tradisi intelektual, pendidikan justru berfungsi untuk mengoreksi arah pasar dan kekuasaan, bukan sekadar mengikutinya.

Ketika universitas hanya menjadi perpanjangan tangan industri, maka ia kehilangan peran strategisnya sebagai penjaga nurani sosial. Namun demikian, kritik terhadap orientasi pasar dalam pendidikan tidak berarti menolak relevansi kerja. Pendidikan memang tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari realitas ekonomi.

Tantangannya adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan praktis dan nilai-nilai humanistik. Pendidikan harus mampu mempersiapkan peserta didik untuk bekerja, tetapi juga untuk berpikir, bersikap kritis, dan berkontribusi pada masyarakat secara lebih luas.

Dalam konteks Indonesia, tantangan ini menjadi semakin kompleks. Di satu sisi, terdapat kebutuhan nyata untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja agar mampu bersaing secara global. Di sisi lain, terdapat risiko besar ketika pendidikan terlalu tunduk pada logika pasar jangka pendek.

Apa yang dibutuhkan industri hari ini belum tentu relevan di masa depan. Sementara itu, kemampuan berpikir kritis, etika, dan adaptasi justru lebih tahan lama dan ini sering kali dibentuk oleh bidang-bidang yang dianggap “tidak pasar”.

Dengan demikian, peringatan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Keduanya mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar alat produksi, melainkan subjek yang memiliki martabat.

Pendidikan tidak boleh direduksi menjadi pabrik tenaga kerja, sebagaimana buruh tidak boleh diperlakukan sebagai mesin. Di antara keduanya, terdapat tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kemanusiaan.

Jika sekolah benar-benar ingin tetap menjadi ruang emansipasi, maka ia harus berani menjaga jarak kritis terhadap pasar. Ia harus mampu mengatakan bahwa tidak semua hal dapat diukur dengan serapan kerja, dan tidak semua nilai dapat diterjemahkan dalam angka ekonomi.

Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang tidak hanya menyiapkan manusia untuk bekerja, tetapi juga untuk memahami, mengkritik, dan jika perlu mengubah dunia kerja itu sendiri.

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita: apakah kita ingin pendidikan yang hanya menghasilkan pekerja, atau pendidikan yang melahirkan manusia? Dua hari peringatan ini telah memberi isyarat. Tinggal bagaimana kita membacanya sebagai rutinitas seremonial, atau sebagai panggilan untuk mengembalikan makna pendidikan dalam kehidupan bersama.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *