Puasa yang Excellent

Oleh : Safrudin Aziz
Koordinator Humas UIN Saizu Purwokerto
Puasa yang excellent sebagaimana dikatakan oleh al-Ghazali adalah puasa hati. Sebab puasa hati ini menjadi bagian dari tingkatan puasa paling tinggi (khowasul khowash). Puasa hati terbilang tidak mudah dilakukan. Karena menundukan hati agar selalu bersih, suci memerlukan latihan panjang dan pengetahuan yang dalam. Terlebih isi hati adalah sirr (tidak terlihat dan terbaca) dan yang bisa mengetahui isi hati setiap manusia hanyalah diri dan Tuhannya.
Dalam konteks yang sederhana, puasa hati itu berupaya semaksimal mungkin agar hati kita semakin suci, semakin bersih, tidak terkotori dan terkontaminasi dengan virus atau penyakit hati yang itu muncul karena stimulus dari lingkungan disekitar kita. Puasa hati ini bisa menjadi tolok ukur apakah puasa kita saat ini sudah bernilai excellent atau sebatas masih mengganti jam makan dan minum saja.
Dalam Al-Qur’an puasa hati bisa dilakukan melalui tiga sikap: pertama,memiliki keberanian untuk menafkahkan hartanya (bersedekah) di waktu lapang maupun sempit. Kedua, kuat hati untuk menahan amarah dalam segala kondisi, dan yang ketiga, memiliki keberanian dalam memaafkan kesalahan orang lain (QS. Ali Imran: 134).
Berani berbagi dengan orang lain khususnya saat kondisi kita sedang kekurangan diperlukan keyakinan mendalam terhadap Allah. Keberanian berbagi dengan sesama disaat diri kita miskin memerlukan tekad bulat dan kemampuan jitu untuk menundukan nafsu. Keberanian berbagi dalam kontek ini bermakna nafsu dapat kita tundukan, sehingga kita lebih mengutamakan kebutuhan orang lain, meskipun diri kita sebenarnya sangat membutuhkannya.
Orang yang sudah mencapai maqam berani memberi hakikatnya sudah memahami Allah dan substansi hidup yang sejati. Sebab memenuhi kebutuhan orang lain esensinya sama dengan memenuhi kebutuhan diri kita sendiri. Diri kita milik Allah, orang lain juga milik Allah. Diri kita mahluk Allah. Orang lain juga mahluknya Allah. Kita membutuhkan, orang lain juga membutuhkan. Maknanya saat kita mencukupi kebutuhan orang lain substansinya sama dengan mencukupi diri kita sendiri, dan Allah menyukai itu. Namun tidak semua manusia berani memilih sikap seperti ini.
Puasa hati berikutnya adalah mampu menahan amarah. Marah itu sebenarnya hak setiap manusia, saat dirinya mendapatkan perlakuan yang tidak adil, tidak baik, terzalimi dan sebagainya. Keberanian melenyapkan hak untuk marah itu bukan sesuatu yang gampang dilakukan. Apalagi sederet gelar dan julukan hebat melekat di namanya. Sederet pangkat pernah dimilikinya. Harta dan kekuasaan ada dalam genggamannya. Sehingga melenyapkan hak untuk marah tidak mudah dilakukan. Bahkan marah tanpa sebab, yang itu bukan marah sebagai haknya saja kerap kita dibanggakan, seperti marahnya atasan kepada bawahan, majikan kepada pekerjanya dan seterusnya.
Berani tidak marah saat dirinya dimarahi, berani menerima saat dirinya disalahi, berani tidak tersinggung saat dirinya disinggung, berani tidak membenci saat dirinya dibenci adalah jenis puasa hati yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang excellent (khowashul khowash) saja. Sebab sikap ini merupakan pilihan hati untuk ngalah, pasrah, nerima, tawakkal yang tidak setiap orang kuat melakukannya.
Puasa hati juga dapat dilakukan dengan memaafkan kesalahan orang lain, meskipun orang yang berbuat salah enggan meminta maaf kepada kita. Memaafkan itu bukan hal yang mudah, selagi hati kita masih terhijab oleh nafsu yang kian mengerak. Keberanian memaafkan itu keputusan hati secara sadar untuk melepaskan amarah, dendam serta rasa sakit hati dalam diri kita. Orang yang berani memaafkan pada hakikatnya sudah memiliki keimanan yang mapan, hati yang matang, dewasa cara berfikirnya. Kematangan ini mengantarkan dirinya sudah tidak butuh penghormatan dari mahluk. Tetapi ridho sang Khaliq yang ia cari.
Bahkan Quraish Shihab menegaskan memaafkan perlu disempurnakan dengan mengampunkan dan menghapuskan. Artinya disaat hati kita memaafkan, segera mohonkan ampunan untuk orang yang menzalimi kita. Hapus kenangan buruk dimasa lalu dari hati dan ingatan kita. Pahamkan bahwa ia menzalimi diri kita karena ketidakpahamannya terhadap niat kita.



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!