Penguatan Spiritualitas Aktulisasi Diri Dalam Rangka Membentuk Akhlakul Karimah Siswa

AKTUALISASI diri yang bermuatan spiritualitas baik dalam perspektif ilmu maupun agama merupakan karakteristik khas yang membedakan perilaku manusia dengan mahkluk lainnya.
Kekhasan aktualisasi diri dimensi spiritual sebagai basis mengembangkan akhlak mampu membentuk kesalehan yang berientasi untuk kemanfaatan diri, manusia, dan dalam rangka ibadah kepada Allah.
Konsekuensinya, akhlak seseorang tidak hanya diukur berdasarkan perilaku dalam menjalankan ibadah mahdhah saja, tetapi juga melaksanakan semua peran yang menjadi tanggung jawabnya secara pribadi, profesional, sosial, budaya dan alam sekitar karena semua dianggap sebagai bagian dari ibadah.
Dalam konteks ini, psikologi (mewakili perspektif ilmiah) menyediakan jalan pikir ilmiah dalam membentuk perilaku sedangkan agama menyediakan mekanisme otoritatif yang ilmiah, praksis, reflektif, dan teologis. Pembentukan akhlakul karimah melalui spiritualitas menjadi penting karena menjamin hasilnya lebih optimal dan permanen.
Adanya pengakuan atas aktualisasi diri dalam dimensi spiritual ini mengimplikasikan bahwa manusia mempunyai agensi dalam mengembangkan perilaku tanpa menafikan peran Tuhan.
Manusia sebagai makhluk fisik, psikis dan rohani teraktualisasi secara simultan, khususnya bilamana mengalami pengalaman spiritual dan mencapai peak experience. Seandainya sesorang belum mampu mencapai pengalaman puncak, karakter akhlak yang berdimensi spiritualitas menjadikannya terkontrol karena mempunyai kesadaran tentang kehidupan universal, abadi, dan kehadiran Tuhan.
Konsekuensinya, pendidikan akhlak harus diupayakan agar siswa mengalami sendiri dan menyadari manfaat dan konsekuensi dari perbutannya. Kesadaran spiritual, kepercayaan adanya entitas metafisik, maupun perasaan kehadiran Tuhan dalam semua proses kehidupan membuat akhlaknya berdimensi ilmiah, universal dan religius serta terpatri secara kuat.
Dalam tataran praksis, metode pendidikan akhlak dapat diadopsi dari berbagai teori keilmuan, seperti ilmu agama, ilmu pendidikan, psikologi, filsafat pendididikan, dan sosiologi pendidikan. Bentuk konkretnya, dapat diadopsi berbagai praktik baik (best practices) pendidikan yang telah dilakukan para orang saleh.
Dalam praktiknya, semua proses pendidikan akhlak harus disesuaikan dengan karakteristik perkembangan, bakat, dan potensi siswa, latar belakangnya (pribadi, sosial, budaya, spiritual, dan kondisi alam) maupun ekspektasi peran hidupnya.
Penulis : Prof Dr Suparjo MA
Guru Besar Bidang Ilmu Filsafat Pendidikan Islam
UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!