Papan Bunga dan Jejak Ekologis: Antara Euforia Pengukuhan Akademik dan Tanggung Jawab Lingkungan Berkelanjutan

Oleh : Prof. Dr. Hj. Nita Triana, S.H., M.Si.
Guru Besar Hukum Lingkungan UIN Saizu Purwokerto dan Ketua Pusat Kajian Konstitusi dan Kebijakan Daerah (PK3D)
Beberapa hari lalu, deretan papan bunga memenuhi ruang sebagai bentuk ucapan selamat atas pengukuhan guru besar yang saya alami. Di satu sisi, ada rasa haru dan bahagia, papan-papan itu menjadi simbol perhatian, penghormatan, dan solidaritas kolega.
Namun di sisi lain, muncul kegelisahan yang tidak bisa diabaikan, yaitu berapa banyak dari papan bunga itu yang hanya akan bertahan satu hingga tiga hari, lalu berakhir sebagai sampah yang sulit terurai.
Dilema ini menjadi semakin nyata ketika kita memahami material di balik papan bunga konvensional, seperti styrofoam, bunga plastik, hingga vinil yang berkontribusi pada pencemaran mikroplastik , penumpukan limbah di TPA, dan bahkan polusi udara jika dibakar.
Dalam momen yang seharusnya sarat makna akademik dan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, justru terselip jejak ekologis yang bertentangan dengan nilai keberlanjutan.
Lebih jauh, bahaya yang tersimpan dalam papan bunga plastik tidak berhenti pada persoalan sampah semata. Ketika material seperti styrofoam dan floral foam terpapar panas matahari dan hujan, material ini perlahan terdegradasi menjadi partikel-partikel mikroplastik yang menyusup ke dalam tanah dan aliran air.
Mikroplastik ini dapat diserap oleh organisme kecil, masuk ke rantai makanan. Selain itu, pembakaran limbah papan bunga yang kerap dilakukan untuk mengurangi volume sampah dapat melepaskan zat beracun seperti dioksin yang berbahaya bagi kesehatan pernapasan.
Dengan demikian, papan bunga plastik konvensional tidak hanya meninggalkan jejak visual yang sementara, tetapi juga jejak ekologis dan kesehatan yang jauh lebih panjang dan tersembunyi.
Dalam perspektif pemikiran Fritjof Capra, pengalaman ini mencerminkan ketegangan antara budaya simbolik manusia dan realitas ekologis. Capra mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari jejaring kehidupan yang saling terhubung.
Setiap tindakan, sekecil apa pun, termasuk mengirim papan bunga memiliki konsekuensi ekologis. Ketika praktik sosial tidak selaras dengan prinsip keberlanjutan, maka yang terjadi adalah disrupsi terhadap keseimbangan sistem kehidupan itu sendiri.
Lebih jauh dari sudut pandang hukum lingkungan, sebagaimana dirumuskan oleh Philippe Sands , situasi ini juga menimbulkan pertanyaan etis dan normatif. Prinsip sustainable development menuntut agar setiap aktivitas, termasuk ekspresi sosial seperti ucapan selamat, tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Prinsip kehati-hatian (precautionary principle) mengingatkan bahwa potensi dampak negatif seperti pencemaran mikroplastik seharusnya cukup menjadi dasar untuk mengubah praktik yang ada. Bahkan, prinsip polluter pays membuka ruang refleksi: siapa yang bertanggung jawab atas limbah papan bunga yang dihasilkan secara massal.
Di tengah dilema tersebut, saya menemukan secercah harapan dari bentuk ucapan yang berbeda. Beberapa ucapan yang saya terima bukan berupa papan bunga, melainkan pohon hidup siap tanam dan pot bunga anggrek hidup. Berbeda dengan papan bunga konvensional, pohon dan bunga anggrek ini tidak berakhir sebagai sampah dalam hitungan hari.
Ia justru mengandung makna keberlanjutan jika dirawat, ia akan terus tumbuh, berbunga kembali, dan menjadi pengingat yang lebih abadi atas momen penting tersebut. Simbolisme ini terasa lebih dalam. Jika papan bunga konvensional merepresentasikan ekspresi yang cepat dan sementara, maka tanaman hidup menghadirkan makna yang berkelanjutan.
Ia tidak hanya menyampaikan ucapan, tetapi juga mengajak untuk merawat, menjaga, dan menghargai kehidupan nilai yang sejalan dengan esensi ilmu pengetahuan itu sendiri. Pengalaman ini juga menunjukkan bahwa transformasi menuju praktik yang lebih ramah lingkungan bukanlah sesuatu yang mustahil. Justru, di dalamnya terdapat peluang inovasi dan ekonomi.
Pelaku usaha papan bunga dapat mulai beralih ke konsep ecofriendly: menggunakan bahan organik, menghadirkan papan bunga hidup, atau bahkan menyediakan layanan penyewaan dekorasi yang dapat digunakan kembali. Alternatif lain seperti papan bunga digital juga membuka ruang baru dalam industri kreatif tanpa meninggalkan jejak limbah fisik.
Dari sisi kebijakan, momentum seperti pengukuhan guru besar yang sarat nilai akademik dapat menjadi titik awal perubahan. Institusi pendidikan tinggi dapat mendorong penggunaan ucapan berbasis ramah lingkungan, bahkan menjadikannya bagian dari etika akademik.
Pemerintah daerah pun dapat memperkuat regulasi terkait pembatasan material tidak ramah lingkungan serta memberikan insentif bagi inovasi hijau. Pada akhirnya, pengalaman pribadi ini memperlihatkan bahwa kebahagiaan dan kesadaran ekologis tidak harus saling meniadakan.
Rasa syukur atas perhatian yang diberikan tetap dapat dirayakan, tetapi dengan cara yang lebih bijak dan berkelanjutan. Seperti anggrek yang kini menumbuhkan rasa cinta untuk dirawat, dan pohon yang harus ditanam menunjukan keberlanjutan.
Ucapan selamat tidak lagi berhenti sebagai simbol sesaat, melainkan tumbuh menjadi makna yang hidup mengakar, berkembang, dan memberi manfaat bagi masa depan.
Lebih jauh, praktik memberi ucapan selamat sejatinya dapat diredefinisi sebagai bagian dari etika sosial baru yang berorientasi pada keberlanjutan. Ucapan tidak lagi diukur dari besar dan meriahnya tampilan, melainkan dari dampak jangka panjang yang ditinggalkan.
Dalam konteks ini, pemberian tanaman hidup, bibit pohon, atau bahkan dukungan terhadap program penghijauan menjadi bentuk penghormatan yang lebih substantif karena ia tidak hanya menyenangkan penerima, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan dan generasi mendatang, seindah anggrek yang terus berbunga dan pohon yang tumbuh memberi kehidupan.
Kesadaran ini juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah. Kampus dapat menjadi pelopor budaya baru dengan mendorong penggunaan ucapan ramah lingkungan dalam setiap momentum akademik.
Pelaku usaha pun dapat berinovasi menghadirkan produk kreatif berbasis tanaman hidup atau bahan organik yang memiliki nilai estetika sekaligus ekologis. Dengan demikian, tradisi tidak dihapus, melainkan ditransformasikan menjadi lebih bermakna dan berkelanjutan layaknya anggrek yang dirawat dengan cinta dan pohon yang siap ditanam untuk masa depan.
Pada akhirnya, pilihan kecil dalam cara kita memberi ucapan selamat sesungguhnya mencerminkan pilihan besar tentang bagaimana kita memandang hubungan dengan alam. Apakah kita akan terus mempertahankan simbol yang meninggalkan jejak kerusakan, atau beralih pada simbol yang menumbuhkan kehidupan?
Di titik inilah, ucapan selamat menemukan makna barunya: bukan sekadar perayaan euforia sesaat, tetapi juga komitmen jangka panjang terhadap bumi yang kita huni bersama.
(Note : Bagian dari tulisan Merawat Bumi, Menjaga Kehidupan: Penegakan Hukum Lingkungan untuk mewujudkan Keadilan Ekologis)



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!