Details

Orang Hebat Mampu Menundukan Ego dan Nafsunya

Oleh : Safrudin Aziz
Koordinator Humas UIN Saizu Purwokerto

Dalam teori psikologi, perkembangan anak mengikuti pernyataannya Sigmund Freud terbagi menjadi tiga tahapan yakni masa oral, anal dan genital. Masa oral berarti masa seorang anak kecil jika menemukan suatu benda pasti dimasukan ke dalam mulutnya.

Bahkan jika tidak menemukan apapun, jari tangannya dikenyot ke dalam mulutnya itu. Inilah kenikmatan anak dimasa oral. Tahap kedua, masa anal yakni masa dimana anak-anak mengalami kenikmatan disaat ia buang air besar/kecil. Ia merasa heran, di saat kelaminnya mengeluarkan air seni seperti kran air.

Sehingga dimasa ini menjadikan mereka senang berlama-lama bermain di kamar mandi. Adapun tahap yang ketiga masa genital, anak-anak senang mempermainkan kelaminnya sendiri. Ia pun senang memperlihatkan kelaminnya kepada orang tuanya.

Di masa oral, anal maupun genital itu, anak-anak tidak memiliki kebutuhan ruhaniah sedikit pun. Ia tidak butuh agama. Namun ketika memasuki usia dewasa, ia tidak lagi berburu makanan dan minuman, berlama-lama di toilet, hingga mempermainkan alat kelaminnya. Tetapi kebutuhan manusia dewasa terletak pada sesuatu yang bersifat abstrak atau ruhani oriented.

Oleh karena itu, jika diri kita yang sudah setua ini, senangnya hanya berburu aneka makanan terus menerus, atau berlama-lama nongkrong sembari melamun di toilet bahkan sambil menghisap batang rokok. Atau hidup kita yang sudah tua ini hanya berpetualang mencari kepuasan seks semata.

Menurut teori Freud, berarti kita ini sakit jiwa bahkan terjebak pada hambatan kepribadian (fiksasi). Dan hambatan kepribadian ini terjadi pada sebagian besar manusia tua di era modern saat ini.

Bahkan tanpa kita sadari 75% penghasilan manusia berusia tua di era modern saat ini tidak jarang dihabiskan untuk makan dan minum. Setelah perut ini terasa kenyang, lalu ia membuang hajat di toilet. Nafsu seks dipuaskan dengan sesuka hatinya.

Tanpa sadar, diri kita ini juga terkadang terjebak dalam hambatan kepribadian. Jebakan hambatan kepribadian juga kerap di lakukan saat kita menikmati makanan dengan sangat sederhana, lalu uang yang kita miliki didepositokan sebagai kebanggaan yang bisa dipamerkan kepada orang lain.

Jika uang kita dibelikan barang, barangnya pun sekedar dipajang untuk dipamerkan. Menurut Freud, orang seperti ini terhambat difase genital. Ia lebih senang melihat tumpukan uang seperti anak kecil yang senang melihat kotorannya sendiri.

Apabila kita tidak mengalami hambatan pada fase oral, anal dan genital, pastinya kita lebih fokus terhadap at-takamul ruhani, penyempurnaan kualitas spiritual. Untuk itu puasa Ramadhan hadir, dalam rangka mendidik kita untuk tidak mengumbar nafsu makan, nafsu seks, nafsu bermain-main seperti anak kecil yang tidak butuh agama dan kenikmatan spiritual.  

Dalam kontek ini, puasa adalah tahapan menuju la’allakum tataaqun (berharap menjadi hamba yang taqwa). Ketaqwaan ini berpuncak agar kita bisa menjadi kekasih Allah. Menjadi kekasihnya Allah, tidak sebatas tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan seks di siang hari semata.

Namun puncak dari puasa adalah mampu mengendalikan hawa nafsunya secara tepat. Disaat marah, ia tidak marah. Harusnya tersinggung, ia tidak tersinggung. Di sakiti ia tidak balik menyakiti. Di lukai, ia tak ingin membalas dendam. Nafsunya sudah terkendalikan.

Beda dengan anak kecil. Menu makanan gak cocok, marah. Tidak di puja-puja, jengkel. Kepengin es krim tak dikasih marah. Minta ini itu tidak ada, marah. Ini anak kecil yang tak butuh pematangan dan kenikmatan spiritual.

Oleh karena itu, saat diri kita masih mudah marah, tersinggung, pendendam, pikiran dan hati dikendalikan oleh ego dan nafsu, apa bedanya kita dengan anak kecil, yang tidak butuh agama dan kenikmatan spiritual.

Akan tetapi jika kita sudah mampu mengendalikan hawa nafsu secara tepat, maka ruh akan mampu mengendalikan tubuh kita. Sehingga pada akhirnya, ruh juga mampu mengendalikan gerakan alam semesta. Orang seperti ini, do’anya mustajab, ucapannya terjadi, kalau ia mengucapkan sesuatu, pasti sesuatu itu terjadi.

Dirinya memancar sesuatu yang menggerakan dan menggoncangkan seluruh molekul di sekitarnya. Barangkali itu salah satu keistimewaan orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Ia memiliki jiwa yang tenang, lapang, khusyu’, tidak pemarah, mengimani dan menerima taqdirnya Allah dengan ridho, karena dirinya merasa Allah sebagai kekasihnya. Itulah puncak spiritual yang harus kita peroleh melalui puasa.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *