Mentalitas Miskin

Oleh: Safrudin Aziz, PTP Ahli Muda UIN Saizu Purwokerto
Dalam kehidupan sehari-hari, peluang dan jebakan selalu menyertai aktivitas kehidupan manusia di mana saja. Jebakan ini ada kalanya bersifat lahiriyah, ada kalanya juga bersifat batiniah. Ada jebakan batiniah yang terkadang sering tidak disadari oleh setiap manusia. Bahkan jebakan batiniah ini dirasa sebagai hal yang lumrah dan biasa dilakukan seseorang setiap saat, salah satunya mentalitas miskin.
Mentalitas miskin itu adalah mental seseorang yang menunjukan dirinya selalu merasa miskin. Namun pelakunya enggan disebut sebagai orang miskin. Seseorang yang memiliki tabiat miskin umumnya ditunjukan dengan beberapa sikap diantaranya:
Pertama, hatinya senang diberi ketimbang memberi. Hidup kok senengnya cuma diberi, ketimbang memberi. Dijamin, ia pasti memiliki hati yang miskin. Contohnya kawan kita panen mangga, hati kita berbisik. Nanti kita pasti dikasih. Setelah ditunggu sejak pagi hingga malam, ternyata pemberian mangga tak kunjung datang.
Kita kecewa, tersinggung, ngedumel, bahkan membenci kawan kita yang panen mangga itu. Orang yang memiliki watak seperti ini tidak sekedar mentalitasnya saja yang miskin, tetapi juga kacau cara berfikirnya. Sebab cara berfikir orang seperti itu adalah berharap sesuatu yang tidak pasti. Akhirnya mentalitas ini berkembang menjadi tulul ‘amal, setiap saat hidupnya selalu panjang angan-angan.
Contoh lain yang kerap kali kita dengar, ada kawan mau pergi ke luar kota atau ke luar negeri. Kawan kita pamit baik-baik. Kita malah berkata, jangan lupa oleh-olehnya ya. Kita lupa mendoakan keselamatan untuknya. Kita lupa memberikan motivasi kepadanya. Bahkan jarang sekali kita membantu bekal untuk perjalanannya. Malah kita membebani dengan beban fisik dan psikis kepada kawan kita. Ini juga contoh sederhana dari seseorang yang memiliki mental miskin.
Termasuk pemandangan umum saat mudik lebaran. Kita sungkem ke rumah orang tua dan saudara. Minim sekali kita memberikan sesuatu kepada mereka. Namun saat kita sekeluarga pulang, kerap kali kita mengharapkan oleh-oleh, buah tangan atau sangu dari mereka.
Kedua, mentalitas senang diberi ketimbang memberi terlahir karena diri kita belum yakin kalau memberi itu lebih baik ketimbang diberi. Rasulullah Saw menjamin melalui sabdanya: al-yadul ‘ulya khoirun minal yadi al-shufla, tangan di atas (senang memberi maksudnya), itu lebih baik dari pada tangan di bawah (diberi). Bahkan tanpa kita sadari memberi itu pada hakikatnya bisa menjadi wasilah amal soleh, untuk mengantarkan seseorang pada kemudahan, kesuksesan, kesembuhan, keberkahan dan sebagainya. Namun sayangnya mayoritas manusia belum yakin terhadap sabda Nabi Saw tersebut.
Padahal senang memberi akan melahirkan mental kaya, suka memberi ketimbang diberi, suka membantu ketimbang sekedar dibantu, sehingga dalam hatinya terpatri sebuah hoby senang memberi atau membantu orang lain. Sebaliknya suka diberi akan melahirkan hoby senang menunggu pemberian. Sikap ini tidak sekedar melahirkan kemiskinan secara mental, tapi juga miskin segala-galanya, termasuk miskin hartanya, ilmunya, bahkan miskin keberuntungannya.
Ketiga, kita seneng di beri ketimbang memberi, karena kita belum paham kalau memberi itu pasti diberikan kecukupan Rizki oleh Allah Swt. Termasuk tidak menunggu pemberian dari orang lain, itu sama dengan menjaga kehormatan diri kita sendiri. Nabi Saw bersabda:
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ
Artinya: barangsiapa menjaga kehormatan dirinya, maka Allâh akan menjaganya.
وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ الله
Artinya: dan barangsiapa yang merasa cukup, maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya. Itulah petunjuk langit. Kuncinya Allah Swt akan mencukupkan hidup kita apabila kita mampu menjaga kehormatan diri dari meminta-minta dan selalu merasa cukup. Sehingga Allah pasti cukupkan semua kebutuhan kita setiap saat.
Keempat, mentalitas senang diberi itu pada hakikatnya milik anak kecil. Sedangkan orang dewasa, terlebih orang tua yang sudah memiliki kemapanan dan kematangan berfikir dan merasa adalah senang memberi. Oleh karena itu, bila kita yang sudah tua ini masih senang diberi, sama artinya dengan anak kecil yang tak kunjung dewasa bahkan tak kunjung matang cara berfikirnya.
Keempat, hidup itu kita terima. Karena kita tidak pernah meminta hidup. Untuk itu kalau hidup sudah kita terima, kita juga harus berani kasih. Sehingga orang yang hebat adalah orang yang hidupnya berani dan selalu terima-kasih. Rizki itu jika sudah di terima lalu di kasih. Inilah makna syukur, siap menerima dan berani memberi (terima-kasih).
Begitu sebaliknya, jika kita hanya senang menerima tanpa mau mengasih, itu salah satu tanda bahwa kita adalah hamba yang kufur terhadap nikmat Allah Swt. Kekufuran akibat enggan memberi melahirkan sumbatan rizki, sumbatan keberuntungan, sumbatan kesehatan, termasuk sumbatan pembuluh darah. Jadilah pemberi, bukan penunggu pemberian. Memberi apapun, termasuk memberi informasi, memberi pencerahan, memberi nasihat, memotivasi kepada siapapun.



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!