Menjembatani Dua Dunia

Oleh: Talitha Salsabila
Mahasiswa Program Studi Informatika UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Langit sore itu berwarna jingga pucat. Cahaya matahari merambat perlahan di bingkai jendela kamar, sementara angin membawa aroma tanah yang mulai mendingin setelah seharian diterpa panas. Saya duduk di tepi jendela tanpa tujuan khusus. Tidak sedang mencari inspirasi, tidak pula menunggu sesuatu.
Namun justru dari keheningan itulah saya menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini saya simpan sendiri: mengapa saya tidak pernah benar-benar merasa utuh ketika diminta memilih hanya satu dunia untuk saya tinggali.
Barangkali memang tidak semua orang harus hidup dalam satu ruang yang sama. Ada orang-orang yang justru tumbuh di antara dua dunia yang sekilas tampak bertolak belakang, tetapi diam-diam saling menguatkan. Saya adalah salah satunya.
Belajar dari Hal-Hal yang Sederhana
Saya selalu percaya bahwa kehidupan sering menyembunyikan pelajaran terbesar di balik hal-hal yang tampak biasa. Karena itulah saya senang memperhatikan sesuatu yang sering dilewatkan orang lain.
Sore itu sebuah layang-layang terbang tinggi membelah langit. Dari kejauhan ia tampak begitu bebas, seolah anginlah yang membawanya ke mana saja. Namun saya tahu, sebelum mampu melayang setinggi itu, pasti ada sepasang tangan yang berlari tanpa lelah, mengulur dan menarik benangnya hingga angin akhirnya menerimanya.
Pandangan saya kemudian beralih ke pepohonan di seberang jalan. Orang-orang mungkin hanya melihat batangnya yang kokoh dan rindangnya yang meneduhkan. Padahal, jauh di bawah permukaan tanah, akar-akar itu telah lama bertahan menghadapi kemarau, hujan, bahkan badai.
Saat itulah saya menyadari bahwa tidak semua perjuangan ingin diperlihatkan. Ada yang memilih bertumbuh dalam diam, lalu suatu hari membiarkan hasilnya berbicara sendiri. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu terasa begitu dekat dengan perjalanan hidup saya.
Dua Dunia yang Sering Dianggap Berlawanan
Saya adalah mahasiswa Informatika. Dunia yang akrab dengan algoritma, logika, struktur data, dan baris-baris kode. Namun di saat yang sama, saya juga mencintai sastra.
Saya menikmati membaca novel, menulis artikel, menyusun puisi, atau sekadar merangkai kalimat yang mampu menjelaskan apa yang sering gagal diucapkan manusia. Kata-kata selalu terasa hidup bagi saya.
Di sinilah kebingungan itu sering muncul. Ketika teman-teman begitu menikmati memecahkan persoalan logika, saya justru merasa lebih bersemangat saat menemukan satu kalimat yang mampu menggambarkan perasaan seseorang secara tepat.
Saya sempat bertanya-tanya, apakah saya berada di jurusan yang salah? Namun semakin lama saya belajar, semakin saya sadar bahwa yang berbeda bukanlah jurusan saya, melainkan cara saya memandangnya.

Pagi untuk Logika, Malam untuk Kata-Kata
Rutinitas saya sering terasa seperti kehidupan dua orang yang berbeda. Pagi dipenuhi tugas kuliah, dokumentasi, diagram, debugging, dan berbagai persoalan yang harus diselesaikan dengan logika.
Malam menjadi milik buku-buku, paragraf yang terus direvisi, dan kalimat-kalimat yang lahir perlahan setelah seharian berputar di kepala. Dua suasana yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama membuat saya pulang kepada diri sendiri.
Saya masih ingat suatu hari ketika hendak mengerjakan tugas pemrograman. Laptop sudah terbuka, aplikasi coding hampir dijalankan. Namun sebelum itu, saya justru membuka lembar kosong dan menuliskan satu paragraf yang sejak pagi terus mengganggu pikiran.
Aneh memang. Setelah selesai menulis, pikiran saya justru menjadi jauh lebih tenang. Saya kembali mengerjakan program dengan kepala yang lebih jernih.
Saat itulah saya memahami bahwa menulis bukanlah gangguan bagi dunia Informatika yang saya jalani. Justru menulis membantu saya merapikan pikiran sebelum kembali menyusun logika.
Begitu pula sebaliknya. Ketika tulisan terasa buntu, proses berpikir sistematis yang saya pelajari di Informatika sering membantu saya menemukan alurnya kembali. Keduanya tidak pernah saling menghalangi. Mereka saling melengkapi.
Logika dan Rasa Tidak Pernah Bermusuhan
Banyak orang menganggap Informatika adalah dunia logika, sedangkan sastra adalah dunia rasa. Seolah-olah seseorang harus memilih salah satunya. Saya sering mendapat pertanyaan yang sama. "Kamu sebenarnya anak Informatika atau anak Sastra?"
Dulu saya selalu bingung menjawabnya. Kini saya menyadari bahwa mungkin pertanyaannya memang tidak perlu dijawab dengan memilih salah satu. Sebab hidup tidak selalu harus dibagi menjadi hitam atau putih.
Ketika Debugging Mengajarkan Empati
Ada satu pelajaran menarik yang saya temukan saat belajar pemrograman. Ketika sebuah program mengalami kesalahan, penyebabnya sering kali bukan berada di bagian yang pertama kali terlihat. Sebuah bug bisa muncul di akhir, padahal akar masalahnya tersembunyi jauh di awal.
Semakin sering saya melakukan debugging, semakin saya merasa manusia pun tidak jauh berbeda. Kadang seseorang terlihat mudah marah, tetapi kemarahannya bukanlah persoalan hari ini. Bisa jadi itu adalah luka lama yang belum pernah benar-benar selesai.
Teknologi ternyata tidak hanya mengajarkan saya menyusun logika. Ia juga melatih kesabaran untuk mencari sebab sebelum menyimpulkan akibat. Sebaliknya, sastra mengajarkan saya bahwa di balik setiap data selalu ada manusia, dan di balik setiap sistem selalu ada cerita. Di sanalah saya menemukan titik temu keduanya.
Menjadi Jembatan, Bukan Memilih Jalan
Kini saya tidak lagi merasa harus meninggalkan salah satunya. Saya tidak ingin meninggalkan sastra hanya karena belajar teknologi. Saya juga tidak ingin meninggalkan teknologi hanya karena mencintai kata-kata.
Bagi saya, keduanya seperti dua sisi yang membuat cara berpikir saya tetap seimbang. Logika membantu saya memahami bagaimana sesuatu bekerja, sementara sastra mengingatkan saya mengapa sesuatu itu penting bagi manusia.
Mungkin saya memang tidak akan pernah menjadi orang yang hidup hanya di satu dunia. Saya ingin tetap belajar menyusun logika tanpa kehilangan kepekaan. Saya ingin terus menulis tanpa berhenti belajar teknologi.
Karena pada akhirnya, teknologi membutuhkan hati agar tetap manusiawi, dan sastra membutuhkan logika agar gagasannya dapat diwujudkan. Jika suatu hari seseorang kembali bertanya, "Kamu sebenarnya anak Informatika atau anak Sastra?", saya mungkin hanya akan tersenyum.
Sebab saya tidak sedang berdiri di salah satunya. Sebab saya sedang belajar menjembatani keduanya.
Note : Penulis adalah mahasiswa Program Studi Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Memiliki minat pada bidang sastra, kepenulisan, dan teknologi.



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!