Details

Literasi sebagai Jalan Pulang Generasi Z: Menemukan Diri di Tengah Arus Digital

Oleh: Asysyifa' Alifah Ramadhani
Mahasiswa 2 KPI-D UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Generasi Z tumbuh dalam lanskap digital yang bergerak cepat dan nyaris tanpa jeda. Informasi hadir setiap detik melalui media sosial, platform video, hingga portal berita yang terus diperbarui. Kemudahan ini memang membuka akses pengetahuan yang luas, tetapi di sisi lain juga menghadirkan persoalan baru: banjir informasi yang sering kali dangkal dan tidak terverifikasi.

Dalam situasi seperti ini, literasi tidak bisa lagi dimaknai sebatas kemampuan membaca teks. Literasi harus dipahami sebagai kemampuan menyaring, memahami, dan merefleksikan informasi. Lebih dari itu, literasi menjadi cara untuk menjaga kesadaran diri sebuah proses kembali “pulang” untuk mengenali siapa diri kita di tengah dunia yang riuh.

Sayangnya, praktik literasi di dunia pendidikan masih kerap bersifat seremonial. Program seperti Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) memang membuka ruang literasi di sekolah, namun dalam banyak kasus hanya berhenti pada rutinitas administratif: membaca karena kewajiban, menulis karena tugas.

Akibatnya, literasi kehilangan makna mendalamnya. Padahal, menurut Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Abdul Wachid B.S., literasi bukan sekadar aktivitas memahami teks, melainkan sebuah “peristiwa batin”.

Melalui bahasa dan sastra, manusia diajak untuk membuka kesadaran, memahami realitas, dan mengenali dirinya sendiri. Di tengah derasnya digitalisasi, dimensi batin inilah yang justru menjadi benteng agar generasi muda tidak kehilangan arah. Pengalaman literasi sejati tidak hanya diperoleh dari buku, tetapi juga dari kehidupan itu sendiri.

Membaca bukan hanya aktivitas visual, melainkan proses memahami realitas di sekitar. Seorang pembimbing, Agung Kusuma W., pernah menekankan bahwa kualitas seseorang ditentukan oleh cara berpikir dan sudut pandangnya. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa membaca sejatinya adalah proses memperluas perspektif.

Dengan membaca, seseorang belajar memahami perilaku manusia, dinamika sosial, hingga kompleksitas kehidupan. Literasi, pada titik ini, menjadi alat untuk membangun cara pandang yang lebih kritis dan bijak.

Literasi tidak berhenti pada membaca. Proses ini menemukan puncaknya dalam menulis. Sayangnya, di era digital saat ini, banyak mahasiswa terjebak dalam pola pikir instan: yang penting tugas selesai, tanpa melalui proses refleksi yang mendalam.

Ketergantungan pada teknologi juga semakin memperparah kondisi ini. Banyak karya tulis dihasilkan tanpa proses berpikir yang utuh. Fenomena ini menunjukkan adanya krisis kesadaran dalam proses belajar. Padahal, menulis adalah ruang dialog paling jujur dengan diri sendiri.

Dalam praktiknya, menulis reflektif mampu membantu seseorang memahami perjalanan hidup, emosi, hingga tujuan masa depan. Berbagai penelitian dalam psikologi modern menunjukkan bahwa menulis reflektif memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental.

Aktivitas ini membantu individu mengelola emosi, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Dalam konteks generasi Z yang rentan terhadap tekanan sosial dan digital overload, menulis menjadi sarana penyembuhan yang sederhana namun efektif. Menulis bukan hanya aktivitas akademik, melainkan juga proses membangun kesadaran diri.

Pada akhirnya, literasi dan menulis adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Di tengah dunia digital yang dapat diibaratkan sebagai “tanah rantau”, manusia berpotensi kehilangan jati dirinya. Melalui membaca, generasi Z belajar memahami dunia. Melalui menulis, mereka belajar memahami diri sendiri.

Kombinasi keduanya akan melahirkan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Literasi bukan sekadar keterampilan, melainkan kebutuhan mendasar di era modern. Bagi generasi Z, literasi adalah kunci untuk tetap utuh di tengah perubahan zaman yang cepat.

Dengan membangun budaya membaca dan menulis yang reflektif, generasi muda tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang menjadi pribadi yang sadar, kritis, dan berdaya. Literasi adalah jalan pulang dan menulis adalah pintunya. ***

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *