Kurban sebagai Puncak Penghambaan: Merawat Solidaritas Sosial dalam Tradisi Islam Nusantara

Oleh
Prof. Dr. Kholid Mawardi, M. Hum.
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Saizu Purwokerto
Setiap tahun, ketika bulan Dzulhijjah tiba dan gema takbir mulai mengalun dari masjid, musala, hingga serambi pesantren, masyarakat Muslim memasuki momentum yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga sarat makna budaya. Iduladha menghadirkan suasana khas berupa halaman masjid yang ramai, warga yang bergotong royong menyiapkan penyembelihan hewan kurban, anak-anak yang berlarian menyaksikan keramaian, hingga para relawan yang sibuk membagikan daging kepada masyarakat. Dalam suasana semacam itu, kurban tampil bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga peristiwa sosial-budaya yang mempertemukan nilai penghambaan kepada Allah dengan semangat kebersamaan antarmanusia.
Dalam tradisi intelektual pesantren, kurban dipahami sebagai simbol puncak penghambaan seorang hamba kepada Tuhannya. Kisah Nabi Ibrahim AS yang bersedia melaksanakan perintah Allah untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, menjadi gambaran tentang bagaimana cinta kepada Allah ditempatkan di atas segala kecintaan duniawi. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa inti ibadah bukan semata-mata gerakan lahiriah, melainkan ketundukan hati sepenuhnya kepada Allah. Dalam perspektif tersebut, kurban menjadi lambang kesediaan manusia untuk melepaskan apa yang paling dicintainya demi memenuhi panggilan Ilahi dan mencapai ketakwaan yang hakiki.
Pemahaman serupa juga ditemukan dalam Maraqi al-‘Ubudiyyah karya Syekh Nawawi al-Bantani. Penghambaan sejati tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi tampak pada kemampuan seseorang mengendalikan hawa nafsu, menaklukkan ego, dan melepaskan keterikatan berlebihan terhadap kepentingan duniawi. Karena itu, dalam pandangan ulama pesantren, yang sesungguhnya dikorbankan pada hari raya bukan hanya seekor kambing atau sapi, melainkan juga sifat kikir, kesombongan, ketamakan, dan berbagai kecenderungan yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai ketakwaan. Kurban pada akhirnya menjadi sarana penyucian diri sekaligus latihan spiritual untuk membangun keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, penghambaan yang tampak sangat personal tersebut justru melahirkan dampak sosial yang luas. Dari tindakan yang berangkat dari hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, lahir manfaat yang dirasakan masyarakat secara bersama-sama. Daging kurban dibagikan kepada tetangga, kerabat, kaum duafa, dan mereka yang jarang menikmati hidangan istimewa. Dalam Bughyat al-Mustarsyidin, Sayyid Abdurrahman menegaskan pentingnya memperhatikan kelompok yang membutuhkan sebagai bagian dari etika keislaman. Dengan demikian, kurban menjadi jembatan yang menghubungkan kesalehan spiritual dengan kepedulian sosial serta memperkuat nilai solidaritas di tengah kehidupan masyarakat yang beragam.
Di Indonesia, khususnya dalam kultur pesantren dan masyarakat Muslim, tradisi kurban berkembang menjadi ruang perjumpaan sosial yang penuh makna. Beberapa hari sebelum Iduladha, warga mulai berkumpul untuk bermusyawarah, mengatur kepanitiaan, mempersiapkan tempat penyembelihan, hingga menentukan mekanisme distribusi daging. Semua dilakukan dalam semangat gotong royong yang telah lama menjadi karakter masyarakat Nusantara. Tidak ada sekat yang tegas antara yang kaya dan yang miskin, antara tokoh masyarakat dan warga biasa. Semua terlibat dalam kerja kolektif yang sama demi menyukseskan pelaksanaan ibadah kurban sebagai bagian dari tradisi keagamaan dan sosial yang diwariskan secara turun-temurun.
Dari sudut pandang sosiologi agama, fenomena tersebut menunjukkan bahwa ritual keagamaan memiliki fungsi sosial yang sangat penting. Émile Durkheim menjelaskan bahwa ritual agama tidak hanya memperkuat hubungan manusia dengan yang sakral, tetapi juga memperkuat solidaritas kelompok. Ketika masyarakat berkumpul dalam satu aktivitas yang dianggap suci, muncul kesadaran kolektif bahwa mereka merupakan bagian dari komunitas yang sama. Apa yang terlihat dalam tradisi kurban, mulai dari takbir bersama, penyembelihan hewan, hingga pembagian daging, merupakan bentuk nyata dari proses pembentukan solidaritas tersebut yang memperkuat kohesi sosial di tengah kehidupan masyarakat modern.
Sementara itu, Max Weber memandang tindakan keagamaan sebagai tindakan yang didorong oleh nilai-nilai yang diyakini manusia. Orang yang berkurban mengeluarkan sebagian hartanya bukan karena mengharapkan keuntungan material, melainkan karena keyakinan bahwa tindakan tersebut bernilai ibadah di hadapan Allah. Namun, tindakan individual yang berangkat dari motivasi spiritual itu menghasilkan konsekuensi sosial yang besar. Kebahagiaan penerima daging kurban, terjalinnya hubungan yang lebih akrab antartetangga, serta tumbuhnya rasa saling peduli merupakan buah sosial dari kesalehan individual tersebut yang terus relevan dalam kehidupan masyarakat kontemporer.
Dalam kehidupan modern yang cenderung individualistis, kurban menghadirkan pesan yang tetap relevan bagi umat Islam. Kurban mengingatkan bahwa keberagamaan tidak cukup diwujudkan melalui kesalehan pribadi semata. Penghambaan kepada Allah harus menemukan ekspresinya dalam tindakan yang memberi manfaat bagi sesama manusia. Semakin tinggi kualitas penghambaan seseorang, semakin besar pula kepeduliannya terhadap lingkungan sosialnya. Oleh sebab itu, kurban tidak hanya menjadi simbol ketakwaan individual, tetapi juga media untuk memperkuat empati sosial, membangun solidaritas, dan menghadirkan nilai kemanusiaan dalam kehidupan bersama.
Oleh karena itu, kurban layak dipahami sebagai puncak penghambaan yang berdimensi sosial. Kurban merupakan pertemuan antara langit dan bumi, antara spiritualitas dan kemanusiaan, serta antara ibadah dan solidaritas sosial. Dalam tradisi Islam Nusantara yang diwariskan pesantren-pesantren, kurban bukan sekadar peristiwa penyembelihan hewan, melainkan juga perayaan nilai pengorbanan, kebersamaan, dan kasih sayang sosial. Melalui kurban, umat Islam diajak menyadari bahwa jalan menuju Allah tidak hanya ditempuh melalui doa dan ibadah ritual, tetapi juga melalui kepedulian kepada sesama manusia. Di situlah makna terdalam kurban sebagai puncak penghambaan menemukan wujudnya yang paling nyata.



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!