Komunikasi Kompleks Mens Rea: Kritik Etika dalam Komunikasi Publik antara Kebebasan dan Tanggung Jawab

Oleh: Dr. Turhamun, M.S.I
Dosen KPI Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H Saifudin Zuhri Purwokerto
Tayangan Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono di Netflix bukan sekadar pertunjukan stand-up comedy. Ia adalah peristiwa komunikasi publik yang hidup di tengah ekosistem digital yang cair, penuh tafsir, dan sarat ketegangan etis.
Reaksi publik yang beragam dari tawa, dukungan, hingga kecaman menunjukkan bahwa Mens Rea bekerja sebagai komunikasi yang tidak sederhana. Ia tidak berhenti sebagai hiburan, melainkan bergerak menjadi wacana sosial yang diperdebatkan di ruang publik digital.
Dalam konteks ini, Mens Rea menarik untuk dibaca melalui pendekatan komunikasi kompleks, dipadukan dengan teori tindakan komunikatif Jurgen Habermas, serta ditinjau dari etika komunikasi publik.
Pendekatan ini membantu kita memahami bahwa persoalan utama bukan terletak pada setuju atau tidak setuju terhadap isi Mens Rea, melainkan pada bagaimana komunikasi publik bekerja, diproduksi, disebarkan, dan dipertanggungjawabkan dalam masyarakat demokratis digital.
Mens Rea dan Karakter Komunikasi Kompleks: Cair, Berlapis, dan Tidak Linier
Dalam teori komunikasi kompleks yang penulis temukan dan pertahankan dalam sidang terbuka doktoral pada 22 Oktober 2025, menegaskan bahwa komunikasi dipahami sebagai proses yang tidak bisa direduksi menjadi hubungan sebab akibat yang sederhana.
Komunikasi selalu berlangsung dalam sistem sosial yang dinamis, penuh ketidakpastian tergantung pada situasi dan kondisi, dan saling memengaruhi. Mens Rea merupakan contoh konkret dari praktik komunikasi semacam ini.
Pertama, komunikasi dalam Mens Rea bersifat cair. Ketika pertunjukan ini ditayangkan di Netflix, ia tidak lagi terikat pada ruang dan waktu tertentu. Ia dapat ditonton ulang, dibicarakan lintas generasi, dipotong menjadi klip pendek, dan disirkulasikan di berbagai platform media sosial.
Dalam proses ini, makna menjadi fleksibel dan mudah bergeser. Pesan yang awalnya hadir dalam satu narasi utuh berubah menjadi fragmen-fragmen yang hidup dalam konteks baru.
Kedua, Mens Rea juga bersifat berlapis. Pada lapisan terluar, ia tampil sebagai hiburan yang memancing tawa. Namun di balik itu terdapat lapisan kritik sosial, refleksi politik kebudayaan, hingga pertanyaan normatif tentang cara masyarakat merespons perbedaan pandangan.
Stuart Hall, pakar kajian budaya dan komunikasi, menyebut proses ini sebagai encoding–decoding: pesan yang dikodekan oleh komunikator tidak selalu didekode secara sama oleh audiens. Audiens membawa latar sosial, ideologi, dan pengalaman masing-masing dalam menafsirkan pesan.
Ketiga, komunikasi Mens Rea bersifat tidak linier. Dampak komunikasi tidak selalu sejalan dengan niat awal komunikator. Humor yang dimaksudkan untuk mengajak berpikir kritis dapat berujung pada kemarahan atau penolakan. Kritik yang diniatkan sebagai refleksi justru dibaca sebagai serangan identitas.
Dalam perspektif komunikasi kompleks, efek semacam ini bukan kegagalan komunikasi, melainkan konsekuensi logis dari komunikasi yang bekerja dalam sistem sosial yang majemuk dan terfragmentasi.
Oleh karena itu, Mens Rea tidak bisa dipahami hanya dari teks pertunjukannya, tetapi juga dari dinamika sosial yang mengitarinya. Ia adalah komunikasi yang hidup, berubah, dan terus dinegosiasikan maknanya di ruang publik.
Humor sebagai Tindakan Komunikatif: Antara Dialog Rasional dan Efek Emosional
Di tengah kompleksitas tersebut, Mens Rea juga dapat dibaca sebagai upaya menjalankan tindakan komunikatif, sebagaimana dirumuskan oleh Jurgen Habermas. Tindakan komunikatif berorientasi pada pencapaian pemahaman bersama melalui komunikasi yang rasional dan terbuka, bukan pada paksaan atau manipulasi.
Dalam konteks ini, Pandji tampak tidak sekadar ingin melucu, tetapi juga mengajak audiens merefleksikan isu-isu sosial yang sensitif. Humor berperan sebagai medium utama tindakan komunikatif tersebut.
Menurut John C. Meyer, humor dapat berfungsi sebagai alat integratif yang membuka ruang dialog dan menurunkan ketegangan. Dalam Mens Rea, humor digunakan untuk menyampaikan kritik tanpa bahasa yang kaku atau menggurui. Ia membuka kemungkinan audiens tertawa sekaligus berpikir.
Namun, di sinilah muncul ambivalensi. Tindakan komunikatif Habermas menuntut diskursus yang memungkinkan klaim kebenaran dan norma diuji secara rasional. Sementara itu, format stand-up comedy bekerja dengan tempo cepat, efek emosional, dan logika performatif.
Tawa sering kali menghentikan proses refleksi sebelum diskursus rasional benar-benar terjadi. Dalam istilah Habermas, ruang publik yang ideal kerap terganggu oleh apa yang ia sebut sebagai distorsi komunikasi.
Distorsi ini semakin kuat dalam ruang publik digital. Potongan Mens Rea yang viral di media sosial sering kehilangan konteks naratifnya. Audiens tidak lagi berhadapan dengan argumen utuh, melainkan dengan cuplikan yang memicu reaksi cepat.
Akibatnya, tindakan komunikatif yang diniatkan sebagai dialog rasional bergeser menjadi pertukaran emosi, opini singkat, dan polarisasi. Dengan demikian, Mens Rea berada di wilayah konflik antara ideal komunikasi deliberatif dan realitas komunikasi digital. Ia membuka ruang dialog, tetapi sekaligus menunjukkan keterbatasan dialog itu sendiri dalam ekosistem media yang serba cepat dan terfragmentasi.
Etika Komunikasi Publik: Kebebasan, Asimetri Kuasa, dan Tanggung Jawab Sosial
Ketegangan tersebut membawa kita pada pertanyaan etika komunikasi publik. Dalam etika komunikasi, sebagaimana dibahas oleh Clifford Christians dan para pemikir komunikasi normatif, kebebasan berekspresi selalu berkorelasi dengan tanggung jawab sosial.
Komunikasi publik tidak pernah berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya setara. Sebagai figur publik, Pandji memiliki kuasa simbolik yang besar. Ucapannya menjangkau audiens luas dan berpotensi membentuk opini publik. Dalam perspektif etika komunikasi, kondisi ini menciptakan asimetri antara komunikator dan audiens.
Kebebasan berbicara tetap penting, tetapi ia membawa tanggung jawab untuk menyadari dampak sosial dari pesan yang disampaikan. Persoalan etika juga muncul dari ambiguitas humor. Dalam komunikasi kompleks, ambiguitas dapat membuka ruang tafsir.
Namun, dalam praktik komunikasi publik, ambiguitas juga dapat disalahgunakan atau disalahpahami. Humor yang dimaksudkan sebagai kritik dapat diterima sebagai pembenaran sikap eksklusif atau memperkuat prasangka tertentu, terutama ketika pesan beredar tanpa konteks reflektif.
Pertanyaan etis yang relevan bukanlah soal niat personal komunikator, melainkan soal konsekuensi sosial komunikasi. Sejauh mana seorang figur publik bertanggung jawab atas cara pesannya diproduksi ulang dan dimaknai di ruang publik digital? Dalam konteks ini, etika komunikasi publik menuntut kesadaran, refleksi, dan keterbukaan terhadap kritik.
Meski demikian, kritik etika terhadap Mens Rea tidak berarti menolak kebebasan berekspresi. Justru sebaliknya, Mens Rea memperlihatkan bahwa kebebasan berbicara selalu mengandung risiko. Dalam masyarakat demokratis, risiko tersebut tidak dihindari dengan pembungkaman, melainkan dengan penguatan literasi komunikasi, kesadaran etis, dan ruang dialog yang berkelanjutan.
Melalui perspektif komunikasi kompleks, tindakan komunikatif, dan etika komunikasi publik, Mens Rea dapat dipahami sebagai praktik komunikasi yang ambivalen namun penting. Ia tidak sempurna, tidak bebas dari risiko, dan tidak selalu menghasilkan pemahaman bersama.
Namun justru di situlah nilainya: Mens Rea memperlihatkan bagaimana komunikasi publik bekerja dalam melalui sekema kompleks yang cair, berlapis, dan tidak linier di mana kebebasan dan tanggung jawab terus berada dalam ketegangan yang perlu dirawat, bukan disederhanakan apa lagi ditiadakan.



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!