Itsar: Puncak Kedermawanan

Oleh : Safrudin Aziz
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, terdapat sebuah hadits yang menceritakan kisah syahdu antara Abu Hurairah bersama Nabi Muhammad Saw.
Suatu hari, Abu Hurairah mengalami kondisi amat sangat lapar. Saking laparnya, Abu Hurairah pernah menempelkan lambungnya di atas tanah, dan mengikatkan beberapa batu diperutnya.
Sembari menahan perut yang sangat lapar, Abu Hurairah duduk di pinggir jalan, yang biasa dilewati para sahabat Nabi. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar. Saat itu pula, Abu Hurairah menanyakan suatu ayat dari al-Qur’an kepada Abu Bakar.
Abu Hurairah bertanya kepada abu bakar ini, sebenarnya hanya pura-pura bertanya. Tujuannya tidak lain agar Abu Bakar berkenan memberikan makanan kepadanya). Namun Abu Bakar ternyata tidak menjamunya.
Kemudian datanglah Umar, dan Abu Hurairah pun pura-pura bertanya tentang suatu ayat dalam al-Qur’an). Abu Hurairah melakukan ini, tidak lain agar Umar menjamu dirinya. Namun umar tidak menjamunya.
Dikala menderita seperti itu, kemudian datanglah Nabi Saw, menghampiri Abu Hurairah. Ketika melihat Abu Hurairah yang kondisinya amat sangat lapar itu, Nabi tersenyum dan beliau mengetahui apa yang tergambar dari wajah dan hatinya itu.
Nabi lalu memanggil Abu Hurairah. Wahai Abu Hurairah. Labaik ya rasulallah, aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah, ucap Abu Hurairah. Ikutlah denganku, kata Nabi. Abu Hurairah lalu mengikuti Nabi dan beliau minta izin untuk masuk ke rumah beliau. Nabi pun mengizinkannya.
Di dalam rumah Nabi, Abu Hurairah melihat semangkok susu. Nabi lalu memanggil Abu Hurairah, ya Abu Hurairah, seseorang telah memberikan hadiah susu kepadaku. Ajaklah Ahlu Suffah kemari. (Ahlu suffah ini adalah orang-orang miskin, tidak punya keluarga, dan tinggalnya di serambi masjidnya Nabi).
Saat itu pula, hati Abu Hurairah berbisik: apa perlunya Ahlu Suffah dengan susu itu. Aku sangat lapar dan akulah yang berhak dari pada mereka, ucap Abu Hurairah di dalam hati.
Namun di di sisi yang lain, hati Abu Hurairah juga berkata: apalah artinya susu yang tersisa, jika bukan untuk mentaati Allah dan rasulnya. Abu Hurairah lalu memanggil Ahlu Shuffah dan membawanya ke hadapan Rasulullah.
Disaat Ahlu Shuffah sudah berkumpul semuanya, Nabi lalu bersabda: wahai Abu Hurairah, berikanlah susu itu kepada Ahlu Shuffah. Abu Hurairah pun mengambil susu itu dan memberikannya kepada orang-orang Ahlu Shuffah secara berurutan.
Setelah orang-orang Ahlu Shuffah semuanya merasa kenyang, Nabi kemudian mengambil sisa susu itu, dan berkata: wahai Abu Hurairah, sekarang tinggal aku dan kamu yang belum meminumnya.
Duduklah, dan minumlah susu itu, ucap nabi kepada Abu Hurairah. Seteguk demi seteguh, Abu Hurairah meminumnya hingga kenyang. Dengan memuji dan menyebut nama Allah, sisa susu yang tinggal sedikit itu, diminum oleh Rasulullah Saw.
Dari kisah di atas dapat diambil beberapa pesan diantaranya:
Pertama, nabi adalah sosok satu-satunya pemimpin yang paling dermawan. Nabi sangat memperhatikan kaum lemah lagi miskin. Beliau lebih mementingkan perut laparnya orang lain, ketimbang dirinya sendiri dan keluarganya. Nabi memilih menderita di atas penderitaan orang lain.
Kedua, nabi sedang mengajarkan puncak kedermawanan kepada Abu Hurairah dan kepada kita semua selaku umatnya. Dalam ajaran Islam, dermawan itu ada tiga: 1) Sakho’. 2) Aljuud, 3) Itsar.
Sakho itu, memberi sebagian kecil dari harta yang kita miliki, kepada orang lain, di saat orang lain meminta. Misal: kita punya uang 100 Ribu, datanglah pengemis ke rumah kita, lalu kita memberi lima ribu kepada pengemis itu.
Memberi sebagian kecil dari harta yang kita miliki, disaat orang lain memintanya, ini Namanya Sakho.
Sedangkan aljuud, memberi sebagian besar harta yang kita miliki kepada orang lain, tanpa orang lain memintanya terlebih dahulu. Contoh: kita punya uang 100 Ribu. 80 ribu kita sedekahkan kepada fakir miskin, yang 20 ribu kita berikan untuk keluarga kita. Ini Namanya aljuud.
Adapun itsar. Harta yang kita miliki diberikan secara total kepada orang lain yang membutuhkan, tanpa menyisakan sedikitpun. Inilah karakter Nabi Saw. Susu miliknya diberikan semuanya kepada Ahlu Suffah, diberikan kepada Abu Hurairah, lalu sisanya yang sudah tidak terpakai, diminum meskipun sangat sedikit. Inilah puncak kedermawanan, itsar.
Ketiga, Nabi tidak jijih meminum sisa susu para sahabat-sahabatnya itu. Sebab seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, seperti halnya satu tubuh.



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!