ISRA’ MI’RAJ: SEBUAH REFLEKSI DARI PENAFSIRAN

Penulis : Safrudin Aziz
Berbicara Isra’ Mi’raj sebagaimana pernah dialami oleh Nabi Muhammad Saw baik secara ilmiah maupun religius terasa tak pernah ada selesainya untuk didiskusikan. Peristiwa Isra’ terukir dalam QS. Bani Israil: 1. Sementara peristiwa Mi’raj ada dalam QS. An-Najm: 13-18.
Dalam QS. Bani Israil: 1 disebutkan bahwa ayat ini secara tegas diawali dengan kata subhana (maha suci Allah). Menurut Mufassirin, kalimah subhana menandakan: pertama, peristiwa besar, peristiwa dahsyat yang diungkapkan oleh Allah Swt, yakni Allah memperjalankan hamba-Nya melalui Isra’ Mi’raj.
Kedua, kata subhana menunjukan Allah Swt mengagungkan dirinya sendiri sekaligus menggambarkan kebesaran perannya. Artinya peran Allah dalam meng-Isra’ mi’raj-kan Nabi Saw tak bisa tergantikan oleh siapapun. Sehingga peristiwa Isra’ Mi’raj ini merupakan peristiwa sangat special. Sehingga Allah memuji dirinya sendiri melalui kata subhana.
Ketiga, menurut Ibnu ‘Asyur, subhana adalah kalimat tasbih. Kalimat tasbih ini biasanya digunakan oleh mahluk untuk memuji sang Khalik. Tetapi di sini Allah Swt sendiri justru memuji dirinya sendiri melalui kata subhana. Hal ini berarti Allah mewajibkan setiap mahluknya untuk mengakui kesuciannya.
Keempat, kata subhana bermakna ta’jib as-sami’in yakni membuat takjub bagi orang yang mendengarnya. Siapapun yang mendengar cerita Isra’ Mi’raj pasti akan tercengan, gumun, dan berkata wauw. Mengapa demikian?. Karena Isra’ Mi’raj terjadi di luar nalar manusia. Dada Nabi Saw di bedah oleh malaikat Jibril, hatinya disucikan dengan air zam-zam. Penyakit hatinya di buang, lantas di isi dengan iman dan hikmah. Ini peristiwa awal di luar nalar manusia. Selanjutnya nabi menempuh perjalanan dari masjidil haram ke masjidil Aqsha. Menurut Einstein dan beberapa ahli lainnya, jarak yang ditempuh nabi dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha itu sekitar 1500 km. Apabila ditempuh dengan menggunakan unta atau kuda memerlukan waktu 40 hari. Namun karena perjalanan tersebut menggunakan kecepatan Cahaya, maka hanya memerlukan waktu sekitar 0,005 detik. Sebab Buraq sebagai tunggangannya Nabi Saw memiliki kecepatan 300.000 KM/detik. Hal ini merupakan perjalanan paling dahsyat dan di luar jangkauan nalar manusia.
Nabi Saw di saat Mi’raj juga bertemu dengan nabi-nabi yang telah wafat sebelumnya. Di langit pertama, beliau berjumpa dengan nabi Adam. Di langit kedua berjumpa dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga, berjumpa dengan Nabi Yusuf. Di langit keempat, berjumpa dengan Nabi Idris. Di langit kelima berjumpa dengan Nabi Harun. Di langit keenam berjumpa dengan Nabi Musa. Dan di langit ketujuh berjumpa dengan Nabi Ibrahim.
Komunikasi dalam perjumpaan Nabi Saw bersama para nabi yang telah wafat merupakan suatu hal yang bersifat ghaibiyah, irasional. Begitu pula di Sidratul Muntaha, Nabi Saw berjumpa secara langsung dengan Allah Swt. Sehingga saat Nabi Saw menceritakan pengalaman spiritualnya itu, terjadilah krisis kepercayaan dikalangan para sahabat. Bahkan tak sedikit yang mengemukakan Muhammad kini sudah gila.
Meskipun demikian, sahabat yang mengimani dan membenarkan peristiwa tersebut adalah Abu Bakar. Sehingga beliau dijuluki As-Shiddiq (yang membenarkan). Hal itu dikarenakan Abu Bakar tak perlu berpikir panjang. Ia tak perlu meneliti secara detail peristiwa itu. Sebab menurutnya, Isra’ Mi’raj bukan sebagai perkara yang bisa dicerna oleh akal sehat. Tetapi peristiwa itu hanya bisa dipercaya dengan keimanan semata.
Sehingga kata subhana dalam ayat ini setidaknya memiliki tiga makna yaitu tanzih yakni Allah Swt tidak memiliki kekurangan dan kelemahan, al-bara’ah, yakni Allah itu maha suci dari segala macam keburukan, serta at-Ta’ajum yakni kekaguman kepada Allah yang maha hebat, takjub terhadap kebesaran Allah Swt.
Setelah kata subhana, kalimah berikutnya adalah asra sebagai kalimat fi’il tsulasi mazid dengan imbuhan satu huruf hamzah di awalnya. Kata ini mengikuti wazan af’ala yang memiliki fungsi ta’diyah. Sehingga kata asra artinya yang telah memperjalankan.
Imam Qurtubi membedakan antara kata asra dan sara. Asra itu berjalan di awal malam. Sara itu berjalan di akhir malam. Namun yang lebih popular adalah kata asra, berjalan di awal malam. Sementara Abu Ali Daqqaq menyebut dipilihnya kata asra bi’abdihi bukan saraa bi’abdihi karena perjalanan Isra Mi’raj ini merupakan petunjuk langsung dari Allah Swt, dan Ia sendiri yang menuntun, membimbing dan memberikan perlindungan kepada kekasihnya, Rasulullah Saw. Jadi Isra Mi’raj ini tidak serta merta di serahkan dan dipasrahkan kepada malaikat Jibril semata. Namun diperjalankan, dibimbing, dilindungi secara langsung oleh Allah Swt.
Lafadz bi ‘abdihi, yang diperjalankan adalah hamba-Nya, Nabi Muhammad Saw. Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menyebut yang diperjalankan dalam peristiwa Isra Mi’raj itu adalah jasad dan ruh Nabi Muhammad Saw. Sebab ayat ini menggunakan kata ‘abdihi (hamba). Kalau yang diperjalankan hanya ruhnya saja, tentu ayatnya menggunakan lafadz ruhi atau mayyiti. Selain itu, di Masjidil Aqsha, Rasulullah Saw menegakan shalat dua raka’at, lalu malaikat Jibril membawakan khamr dan segelas susu. Rasulullah lalu memilih segelas susu dan meminumnya. Hal ini memperkuat bahwa perjalanan Isra’ Mi’raj dilakukan oleh jasad sekaligus ruh Nabi Saw.
Kata abdihi ada sebagian ulama yang mengartikan secara lafdziyah maupun maknawiyah. Secara lafdziyah diartikan sebagai hamba. Namun secara maknawiyah ‘abdihi ini berarti seseorang yang memiliki kualitas derajat tertentu sebagai seorang hamba, dan Nabi Saw sudah mencapai tingkat puncak seorang hamba. Sebab Nabi Saw itu hamba yang taat, patuh, rendah hati, tidak sombong, serta tidak membantah setiap perintah Allah Swt.
Dalam kontek sains, mensikapi peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi perdebatan yang tak berujung tali simpulnya. Misalkan Einstein yang mengemukakan bahwa kecepatan tercepat hanya dimiliki oleh kecepatan cahaya. Mustahil Nabi Saw diperjalankan dalam Isra Mi’raj menggunakan jasad. Sebab Nabi Saw secara fisik tercipta dari milyaran sel. Dari milyaran sel itu tersusun menjadi jaringan organ dan sistem organ. Dalam organ itu juga terdapat molekul-molekul berupa H2O, O2, Asam Amino, proton, neutron dan elektoron. Dari susunan ini tubuh Nabi Muhammad Saw memiliki bobot.
Jangankan menempun perjalanan secepat cahaya, menempuh perjalanan dengan percepatan beberapa gravitasi bumi saja pasti mati. Sehingga mustahil Nabi Saw menempuh perjalanan Isra Mi’raj dengan menggunakan kecepatan cahaya. Berbeda dengan Malaikat Jibril dan Buraq sebagai kendaraan Nabi Saw. Keduanya tercipta dari nur cahaya. Keduanya tercipta atau tersusun bukan dari sel-sel, namun dari foton-foton penyusun cahaya. Sehingga tidak ada masalah keduanya menempuh perjalanan dengan kecepatan cahaya.
Dari perjalanan Isra Mi’raj dapat diambil refleksi bahwa: pertama, beragama tidak semata bersifat rasional, namun juga irasional. Isra’ Mi’raj, pahala, dosa, surga, neraka, itu semua wilayah keimanan yang sifatnya irasional. Kedua, Isra’ Mi’raj memahamkan kita tentang keterbatasan manusia dan kekuasaan Allah. Secanggih apapun teknologi atau semapan apapun ilmu yang sudah ditemukan, semuanya memiliki kelemahan dan keterbatasan. Untuk itu kita harus paham, kapan kita harus berhenti, kapan harus maju, kapan gas di tarik dan kapan rem itu harus di injak.
Ketiga, amanah kemanusiaan dan kehambaan. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha ini gerakan horizontal, kemanusiaan, hablum minallah. Kita ini memiliki peran sebagai khalifah fil ardh. Mi’raj naik kelangit itu gerakan vertikal, tujuan hidup kita daarul akhirah, tetapi tidak melupakan dunia. Sebab akhirat beres manakala dunianya juga beres. Dalam kontek ini, kemanusiaan diwakili dengan Isra’, kehambaan diwakili dengan Mi’raj.
Keempat, bekal perjalanan menuju Allah. Di langit pertama bertemu dengan Nabi Adam, ini simbol bahwa hidup harus punya dan tujuan yang jelas. Kita ini dari mana, mau apa dan mau kemana. Dilangit kedua, bertemu dengan nabi Isa, ini simbol manusia muda, bahwa hidup harus punya semangat, ambisi, kesiapan untuk berkorban. Dilangit ketiga bertemu dengan nabi Yusuf, ini simbol pekerja keras. Sebab nabi Yusuf awalnya dibuang ke sumur sampai akhirnya menjadi Menteri, dan seterusnya.
Kelima, Nabi Saw sudah nyaman di akhirat, nyaman di sisi Tuhannya, namun ia tetap kembali ke bumi, ingat terhadap umatnya, inilah yang dinamakan kesadaran profetik. Wallahu a’lam.



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!