Isra dan Mi’raj Pelipur, Petualangan Intelektual, dan Tradisi Kenabian

Isra' dan Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari penghiburan dari Allah SWT setelah berbagai cobaan yang beliau alami, termasuk wafatnya dua sosok penting dalam hidupnya, Khadijah RA dan Abu Thalib, yang mana isro mi’roj terjadi pada tahun yang dikenal dengan sebutan “’amul huzni”. Selain menjadi pelipur lara, Isra dan Mikraj juga menjadi perjalanan spiritual dan intelektual yang sarat dengan hikmah. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam syariat Islam, khususnya dalam konteks turunnya perintah salat lima waktu.
Makna dan Hikmah Isra' dan Mikraj
1. Pengajaran Intelektual:
Dalam perjalanan tersebut, Nabi memperkenalkan tradisi dan ajaran para nabi sebelumnya. Misalnya, Nabi dapat menjelaskan secara detail karakter dan wajah para nabi terdahulu, jumlah pintu Masjidil Aqsa, hingga perilaku para nabi seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar mewarisi ilmu kenabian yang telah diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi-nabi sebelumnya.
2. Pengesahan Tradisi Kenabian:
Peristiwa ini menegaskan bahwa ajaran Nabi Muhammad adalah kelanjutan dari ajaran para nabi sebelumnya. Hal ini terlihat dari pengenalan Nabi terhadap simbol-simbol tradisional kenabian, seperti tempat menambatkan Buraq, yang juga digunakan oleh nabi-nabi terdahulu.
3. Pemberian Salat sebagai Ibadah Utama:
Salat lima waktu yang diperintahkan dalam Mikraj menjadi ibadah inti umat Islam. Salat adalah sarana penghubung langsung antara hamba dengan Tuhannya, sebagaimana perjalanan Nabi dalam Isra dan Mikraj merupakan perjalanan untuk mendekat kepada Allah.
4. Jawaban atas Keraguan Kaum Quraisy dan Yahudi:
Setelah Isra dan Mikraj, Nabi mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kaum Quraisy dan Yahudi dengan akurat, termasuk detail-detail mengenai Masjidil Aqsa. Hal ini mematahkan argumen mereka yang meremehkan kenabian beliau.
Isra dan Mikraj bukan hanya peristiwa rohani, tetapi juga peristiwa intelektual yang menunjukkan keagungan kenabian Nabi Muhammad SAW. Kejadian ini menjadi bukti kebesaran Allah SWT dan pengajaran yang luar biasa bagi umat manusia. Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad menerima pelajaran mendalam tentang tradisi kenabian dan menerima amanah untuk melanjutkan ajaran Allah yang benar.
Isra dan Mikraj mengingatkan kita bahwa meskipun menghadapi cobaan berat, selalu ada harapan, kekuatan, dan petunjuk dari Allah bagi mereka yang sabar dan beriman.
Isra: Perjalanan Malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa
Isra adalah bagian pertama dari perjalanan Nabi Muhammad SAW, yang dimulai dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Dalam perjalanan ini, Rasulullah SAW menaiki Buraq, makhluk khusus yang diciptakan Allah untuk perjalanan luar biasa ini. Di Masjidil Aqsa, Rasulullah SAW menjadi imam salat bagi para nabi, menunjukkan kepemimpinan beliau atas seluruh nabi dan umat manusia.
Peristiwa ini mengandung pesan penting tentang keutamaan Masjidil Aqsa sebagai salah satu tempat suci dalam Islam. Selain itu, Isra juga memperlihatkan bagaimana Rasulullah SAW mendapatkan pengakuan dari nabi-nabi sebelumnya, mengukuhkan posisi beliau sebagai penutup para nabi.
Mikraj: Pendakian ke Langit dan Pertemuan dengan Allah
Mikraj adalah bagian kedua dari perjalanan ini, di mana Nabi Muhammad SAW naik ke langit melalui lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang hanya bisa dicapai oleh Rasulullah SAW. Di setiap lapisan langit, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan nabi-nabi terdahulu, seperti Nabi Adam AS, Nabi Isa AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Idris AS, Nabi Harun AS, Nabi Musa AS, dan Nabi Ibrahim AS. Setiap pertemuan ini memberikan pelajaran mendalam tentang hubungan antar nabi serta pengakuan mereka terhadap keistimewaan Rasulullah SAW.
Proses Turunnya Perintah Salat: Sebuah Dialog dan Interaksi Spiritual
Salah satu peristiwa paling penting dalam perjalanan Mikraj adalah ketika Rasulullah SAW menerima perintah untuk melaksanakan salat. Pada awalnya, Rasulullah SAW mendapatkan perintah salat sebanyak 50 kali sehari. Dalam perjalanan kembali, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi sebelumnya, termasuk Nabi Ibrahim AS dan Nabi Musa AS.
Nabi Ibrahim AS, yang berada di langit tertinggi, memilih untuk diam, mencerminkan sikap tawakal dan keyakinannya bahwa apa pun yang Allah perintahkan pasti telah sesuai dengan hikmah-Nya. Namun, ketika Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa AS, beliau adalah orang pertama yang memberikan tanggapan.
Nabi Musa AS, yang pernah memimpin umat yang kuat secara fisik, menyampaikan bahwa perintah 50 kali salat terlalu berat untuk umat Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat yang masyhur, Nabi Musa AS berkata:
"Umat saya dulu lebih gagah dan lebih kuat, tetapi mereka tidak mampu melaksanakan hal semacam itu. Apalagi umatmu, wahai Muhammad."
Atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah SAW kembali menghadap Allah SWT untuk meminta keringanan. Dalam proses ini, perintah salat dipangkas secara bertahap, dari 50 kali menjadi 45, kemudian 40, hingga akhirnya menjadi lima kali sehari. Namun, meskipun jumlahnya hanya lima, Allah SWT memberikan pahala setara dengan 50 kali salat.
Hikmah dan Makna Salat: Ibadah yang Tak Tertandingi
Peristiwa ini mengajarkan beberapa pelajaran penting:
1. Allah Senang Diminta: Proses pengurangan jumlah salat menunjukkan bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang memohon kepada-Nya. Tidak ada rasa malu dalam berdoa dan meminta keringanan karena Allah Maha Pemurah.
2. Salat sebagai Ibadah Spesial: Salat adalah ibadah yang tidak tertandingi oleh makhluk lain. Dalam salat, ada gerakan yang mencakup semua bentuk ibadah para malaikat: berdiri, rukuk, dan sujud.
3. Dimensi Sosial Salat: Dalam salat, seorang Muslim tidak hanya berkomunikasi dengan Allah tetapi juga mengakui pentingnya hubungan sosial. Setelah salat, umat Islam mengucapkan salam ke kanan dan kiri, mendoakan keselamatan untuk orang lain.
Mentalitas Nabi Muhammad SAW: Tidak Egois dalam Nikmat
Ketika Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Allah SWT, Allah memberikan penghormatan dan salam kepada beliau dengan kalimat:
"Assalamu alaika ayyuhan nabi warahmatullahi wabarakatuh."
Ini adalah bentuk penghormatan langsung dari Allah SWT kepada Nabi. Namun, Rasulullah SAW yang memiliki sifat mulia dan tidak egois, tidak ingin kenikmatan ini dirasakan sendiri. Beliau menjawab:
"Assalamu alaina wa ala ibadillahissalihin."
Kalimat ini menunjukkan bahwa Nabi SAW ingin keselamatan, rahmat, dan berkah Allah dirasakan oleh seluruh umat manusia yang saleh. Beliau menunjukkan keinginannya untuk berbagi kebahagiaan dengan semua makhluk, menegaskan sifat kepemimpinan yang inklusif dan kasih sayang beliau terhadap umatnya.
Para malaikat yang menyaksikan sifat luhur Nabi Muhammad SAW kemudian bersaksi:
"Ashadu an la ilaha illallah wa ashadu anna Muhammadan Rasulullah."
Ini menunjukkan bahwa kesaksian tauhid dan kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah pengakuan terhadap sifat mulia beliau yang selalu membawa kebaikan kepada umat manusia.
Pelajaran tentang Batasan Makhluk
Dalam perjalanan Mikraj, ada momen di mana Jibril AS, malaikat yang menemani Nabi SAW, harus berhenti di titik tertentu. Ketika Rasulullah SAW meminta Jibril AS untuk tetap menemaninya, Jibril menjawab:
"Wahai Muhammad, inilah batas kemampuanku. Jika aku melangkah lebih jauh, aku akan terbakar."
Ini menunjukkan bahwa setiap makhluk, bahkan malaikat sekalipun, memiliki batasan yang ditentukan oleh Allah SWT. Namun, sebagai manusia yang dipilih, Nabi Muhammad SAW diizinkan untuk melangkah lebih jauh, memasuki area yang hanya diperuntukkan bagi beliau.
Di sana, Rasulullah SAW menyampaikan kalimat:
"At-tahiyyatu lil-lahi was-salawatu wat-thayyibat."
Artinya, segala kehormatan, keberkahan, dan kebaikan adalah milik Allah SWT. Allah pun menjawab, memberikan penghormatan kembali kepada Nabi Muhammad SAW, dan ini menjadi salah satu inti dalam dialog spiritual yang menjadi bagian dari ibadah salat hingga hari ini.
Kesimpulan: Salat sebagai Puncak Spiritual
Perjalanan Isra dan Mikraj mengajarkan umat Islam bahwa salat adalah ibadah yang paling mulia dan menjadi bukti hubungan langsung seorang hamba dengan Allah. Selain itu, salat juga merupakan simbol kesatuan umat manusia, baik secara vertikal dengan Allah maupun secara horizontal dengan sesama makhluk.
Melalui kisah ini, umat Islam diajak untuk merenungi sifat kasih sayang Nabi Muhammad SAW, kesetiaan malaikat Jibril, dan kedekatan Allah SWT dengan hamba-hamba-Nya yang selalu memohon kepada-Nya. Salat tidak hanya menjadi kewajiban tetapi juga anugerah yang mendekatkan manusia kepada Sang Pencipta.
Pada dasarnya, Nabi Muhammad SAW juga mengalami ujian-ujian intelektual sebagaimana yang tercatat dalam hadis-hadis sahih. Contohnya adalah saat Nabi sering ditanya oleh kaum Yahudi dengan pertanyaan-pertanyaan unik dan sulit, seperti apa makanan pertama yang akan dimakan ahli surga atau mengapa anak bisa mirip ayah atau ibunya. Ini menunjukkan bahwa Nabi telah diasah secara intelektual oleh Allah, salah satunya melalui peristiwa Isra dan Mikraj. Dalam Isra, Nabi diperkenalkan dengan para nabi sebelumnya seperti Nabi Musa dan Nabi Ibrahim. Bahkan, dalam hadis sahih, Nabi dapat menjelaskan dengan detail karakteristik fisik dan sifat para nabi tersebut.
Isra juga merupakan momen intelektual yang mendalam, di mana Nabi diperlihatkan tradisi kenabian yang konsisten di setiap nabi. Hal ini memperkuat posisi Nabi Muhammad sebagai penerus tradisi kenabian. Dalam tradisi ini, penting bahwa ajaran setiap nabi memiliki kesinambungan, baik dalam syariat maupun nilai-nilai universal. Karena itu, Nabi Muhammad bukan sekadar figur terpisah, melainkan bagian dari mata rantai panjang kenabian sejak Nabi Ibrahim.
Sejarah juga mencatat bahwa Nabi harus menghadapi tantangan dari kaum Quraisy dan Yahudi yang kerap mencoba merendahkan beliau.
Contohnya adalah dengan menyebut beliau sebagai “Muhammad bin Abi Kabsyah" (anak penggembala kambing) untuk melemahkan kedudukan sosialnya. Namun, melalui wahyu dan tradisi intelektualnya, Nabi mampu mempertahankan dan memperkuat ajaran Islam yang selaras dengan para nabi sebelumnya.
Quran sering menekankan kesejarahan ini agar umat memahami bahwa tradisi Islam bukan hanya mitos, tetapi berbasis rasionalitas dan kesinambungan sejarah. Misalnya, penetapan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram adalah bagian dari narasi ini. Bukan karena Nabi Muhammad berasal dari Mekkah, melainkan karena Masjidil Haram memiliki akar sejarah yang lebih tua sebagai kiblat Nabi Ibrahim.
Secara keseluruhan, Isra dan Mikraj mengajarkan bahwa perjalanan spiritual Nabi Muhammad juga merupakan perjalanan intelektual yang memperkuat tradisi kenabian dan menunjukkan konsistensi wahyu yang diturunkan Allah. Tradisi ini dilanjutkan oleh para ulama yang menjaga kesinambungan melalui sanad yang muttashil (berhubungan langsung) hingga ke Nabi Muhammad SAW.
Penulis : Intan Diana Fitriyati, M. Ag.
Alumni Magister Ilmu al Quran dan Tafsir UIN Saizu Purwokerto
Dewan Pengasuh PP. Al Masyhad Manbaul Falah Walisampang Pekalongan



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!