Details

Cerita-cerita Pedagang Bunga Sakral dan Kerajinan Ajaib di Pasar Tradisional Indonesia

Oleh : Rahman Latif Alfian, S.Pd., M.Ant.
Dosen UIN Prof. KH Saifuddin Zuhri Purwokerto

Pagi itu, Pasar Beringharjo Yogyakarta sudah ramai sejak subuh. Aroma harum bunga segar bercampur dengan asap dupa menciptakan suasana magis. Para pedagang sibuk menyusun dagangan mereka ratusan kuntum bunga warna-warni yang ternyata bukan sekadar hiasan biasa.

Betul beberapa pedagang memang memiliki tata cara tersendiri untuk memulai aktivitas dagangnya. Mbah Surti (58), pedagang yang terbilang senior di pasar ini dengan cekatan merangkai bunga mawar, melati, dan kantil.

"Ini pesanan buat nyekar besok," ujarnya sambil mengikat bunga dengan tali rafia, ada juga yang dibungkus dalam bungkusan daun pisang lebih kecil.

Setiap Kamis Wage, omzetnya bisa mencapai Rp3 juta dari penjualan bunga ritual saja. Wajar nampaknya selain eceran, beliau juga menjual dalam bentuk karung dalam jumlah besar. Biasanya ada pedagang eceran yang akan membelinya.

Banyak warga percaya bunga-bunga tertentu membawa berkah untuk leluhur.
Di lantai tiga, Pak Joko (45) memamerkan koleksi kerajinan akar wangi berbentuk gajah dan kuda. "Harganya mulai Rp50 ribu sampai Rp2 juta, tergantung ukuran," katanya bangga.

Kerajinan unik ini ternyata dibuat oleh pengrajin penyandang disabilitas di lereng Gunung Merapi. Wanginya yang khas bisa bertahan hingga 5 tahun!
Di pojok pasar, Ibu Siti (45) sibuk menata daun sirih segar.

"Dulu tiap rumah punya pohon sirih sendiri," kenangnya. Kini ia harus mendatangkan dari Kebumen seharga Rp10 ribu per ikat. Tradisi nyirih memang mulai pudar, tapi masih bertahan di kalangan orang tua.

Mbah Darmi (72), salah satu perajin bunga kering terakhir di pasar ini, terlihat cekatan merangkai sedap malam. "Dulu ada 20 perajin, sekarang tinggal 5 orang," keluhnya. Karyanya yang dijual Rp25 ribu per ikat ini banyak dibeli pemilik kafe untuk dekorasi.

Berbeda dengan Yogyakarta, Pasar Baru Balikpapan punya keunikan sendiri. Di sini, pinang khas Sulawesi dijual berdampingan dengan bunga ritual khas Jawa. "Ini bukti Indonesia mini," kata Hasan (38), pedagang keturunan Bugis yang sudah 15 tahun berjualan di sini.

Namun Dinas Perdagangan setempat mengaku kewalahan. "Kami terus kawal peredaran tanaman langka," ujar Kepala Dinas sambil menunjukkan edaran larangan. Operasi rutin dilakukan, tapi masih banyak pedagang nakal.

Kabarnya, tren "back to nature" justru menyelamatkan pasar tradisional. "Omzet saya naik 40% sejak 2022," aku Arif (29), pedagang muda yang mulai mengembangkan bisnis tanaman hias.

Pemerintah pun turun tangan dengan program pelatihan pembibitan. "Kami ajarkan budidaya tanaman langka," kata seorang penyuluh. Harapannya, warisan budaya ini tetap lestari tanpa merusak alam. Siapa sangka, di balik lorong-lorong tua pasar tradisional tersimpan begitu banyak cerita?

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *