CARA PANDANG YANG POSITIF

Penulis : Safrudin Aziz
Di sebuah kampung, terdapat seorang kakek yang memiliki pohon pepaya di belakang rumahnya. Tanpa sengaja, sang kakek itu mendapati dua buah pepaya miliknya telah matang. Karena hari sudah sore, ia berencana memetik dua buah pepaya itu esok hari. Namun tatkala pagi tiba, ia mendapati satu buah pepayanya hilang. Kakek itu sedih sekali. Hingga sang nenek (istri sang kakek) itu merasa keheranan. Masa hanya satu buah pepaya hilang saja kok sampai sedemikian sedihnya to kek?, ujar sang sang nenek.
Kakek itu kemudian menjawab. Bukan karena pepaya yang hilang yang aku sedihkan nek, ucap sang kakek. Aku kepikiran, betapa sulitnya pencuri itu mengambil satu buah pepaya milik kita. Ia harus sembunyi-sembunyi di tengah malam agar tidak ketahuan orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan susah payah untuk bisa memetiknya.
Dari kejadian itu nek, kata sang kakek. Saya akan mengambil tangga dan akan saya taruh di bawah pohon pepaya itu. Mudah-mudahan maling itu datang lagi malam ini dan tidak akan kesulitan lagi mencuri pepaya yang satunya itu.
Namun saat pagi kembali hadir, kakek itu mendapati satu buah pepaya matang yang tinggal dipohon masih tetap ada. Tangganya pun tetap dalam posisi tanpa bergeser sedikit pun. Sang kakek mencoba bersabar dan berharap semoga pencuri itu akan muncul lagi di malam nanti. Namun di pagi berikutnya, tetap saja buah pepaya itu masih utuh ditempatnya.
Di sore harinya, sang kakek tiba-tiba kedatangan seorang tamu yang menenteng dua buah pepaya besar di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut. Singkat kisah, setelah berbincang lama, saat hendak pamitan, tamu itu dengan amat menyesal mengaku bahwa dirinyalah yang telah mencuri satu buah pepaya milik sang kakek.
Sebenarnya, kata sang tamu. Di malam berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang masih tersisa satu dipohon. Namun saat saya menemukan ada tangga di sana, saya tersadarkan dan sejak saat itu saya bertekad untuk tidak mencuri lagi. Untuk itu saya kembalikan buah pepaya milik kakek. Dan untuk menebus kesalahan saya, saya hadiahkan sepuluh buah durian besar yang baru saya beli di pasar untuk kakek.
Kisah ini terlihat sebagai kasus yang sangat tidak istimewa. Namun dibalik kisah tersebut terdapat pelajaran penting tentang keikhlasan, kesabaran, kebajikan dan cara pandang positif terhadap kehidupan. Mampukah kita tetap bersikap positif saat kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan ikhlas seperti kakek dalam cerita tadi. Dapatkah kita melupakan sakitnya suatu musibah yang pernah menghampiri hidup kita. Itu tidak gampang.
Kebanyakan dari kita pasti belum bisa. Karena kecenderungan kita dalam mencinta, lupa bahwa apa yang disenanginya hanyalah titipan semata. Yang setiap saat bisa diambil kapan saja.
Allah Swt berfirman:
إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ
Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.
وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ
Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya.
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta (QS. Al-‘Adiyat: 6-8).
Atau barangkali ada diantara kita yang telah mampu bersikap positif saat didera musibah. Namun bisa jadi itu hanya sementara. Hari ini kita mungkin bisa tabah mengikhlaskannya, namun esok hari belum tentu bisa begitu. Karena suasana hati yang tidak menentu. Jika demikian, berarti cara pandang positif belum menjadi akhlaq kita. Karena sesuatu dikatakan telah meng-akhlaq di dalam diri manakala itu telah mendarah daging, di mana geraknya bersifat substantif, tidak insidental. Ia akan berpikir dan bertindak positif kapan pun, Dimana pun, sendirian ataupun bersama siapa pun.
Karena itu, orang-orang yang telah memiliki cara pandang positif sebagai akhlaqnya bisa dikatakan sebagai orang-orang yang telah memetik buah dari pohon keimanan dan keberislaman. Karena akhlaq untuk selalu berpikir positif tidak mungkin bisa terbangun kalau diri kita tidak memiliki dasar aqidah atau keyakinan kita yang kokoh dan keberserahan diri secara total kepada Allah Swt.
Orang yang selalu berpikir positif pastinya tidak akan mengeluarkan kata-kata sial, apes, celaka, bencana, hancur dan sebagainya. Karena orang yang selalu positif thinking mampu melihat hikmah dibalik setiap peristiwa. Sehingga pikiran dan perasaannya selalu mendisposisikan untuk berucap dan bertindak mulia. Karena yaqin Allah tidak menciptakan atau menimpakan sesuatu apapun dengan sia-sia.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Artinya: ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Ali Imran: 191).
Ucapan sial, apes, celaka, bencana, serta prasangka buruk kita kepada Allah merupakan ekspresi dari ketidakmampuan kita dalam melihat sisi baik dari setiap ciptaan-Nya.
Orang yang memiliki cara pandang positif sebagai akhlaknya pastinya selalu bisa melihat pelita dalam kegelapan. Tidak pernah putus asa, bahkan selalu memiliki harapan ketika berada dalam bencana dan kebangkrutan. Sehingga mereka itulah orang-orang yang bisa jadi dalam hidupnya pernah terjatuh sepuluh kali namun tetap mampu bangkit belasan kali.
Demikianlah kehebatan orang-orang yang memiliki cara pandang positif. semoga kita mampu belajar untuk bisa memiliki akhlaq tersebut.



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!