Cahaya Iman di Bumi Perwira: Spiritualitas Visual Ramadhan Light Festival Purbalingga

Oleh : Prof. Dr. Kholid Mawardi, M.Hum.
Dekan Fakultas Saintek UIN Saizu Purwokerto
Kabupaten Purbalingga yang dikenal sebagai Bumi Perwira, menghadirkan pemandangan yang unik dalam dua tahun terakhir. Ketika senja menjemput azan magrib pada bulan suci Ramadan, langit kota tidak hanya diselimuti gema bedug dan panggilan shalat, tetapi juga dihiasi pendar lampu dari Ramadhan Light Festival.
Spektrum warna yang membias di tengah aktivitas masyarakat menjadi tafsir baru atas kebahagiaan menyambut bulan suci sebuah bentuk ibadah yang dituangkan ke dalam bahasa cahaya. Dari perspektif sosiologi budaya, festival ini menandai pergeseran ekspresi religius masyarakat Muslim lokal dari yang bersifat kinetik seperti obrog-obrog dan takbir keliling menjadi bentuk estetika kontemplatif.
Identitas keagamaan kini tidak hanya diwujudkan melalui bunyi dan gerak, tetapi melalui visual. Lampion berbentuk masjid, ketupat, kaligrafi, hingga simbol bulan sabit bukan sekadar ornamen, melainkan “teks spiritual” yang bisa dibaca oleh siapa pun, dari anak kecil hingga lansia, tanpa batas literasi agama.
Inilah yang dapat disebut sebagai bentuk dakwah visual, di mana keindahan diposisikan sebagai medium pengingat akan hakikat Ramadan: merenung, menenangkan diri, dan menemukan kembali nur iman di tengah riuhnya dunia modern.
Dalam konteks tasawuf, cahaya menjadi simbol penting. Al-Ghazali, misalnya, dalam Mishkat al-Anwar menjelaskan bahwa nur adalah manifestasi kehadiran Ilahi yang memancar ke dalam hati manusia. Maka, festival cahaya ini dapat dibaca sebagai representasi eksternal dari pancaran nur batin masyarakat Muslim yang tengah berbahagia menyambut hadirnya bulan penuh rahmat.
Kegembiraan dalam Perspektif Tasawuf
Dalam pandangan para sufi, Ramadan adalah bulan farah ruhaniyyah kegembiraan yang tidak bersumber dari hiburan lahiriah, melainkan dari pengalaman ruh berjumpa dengan makna ibadah. Imam al-Ghazali membedakan antara farah duniawi (kegembiraan yang datang dari pancaindra) dan farah ilahi (kegembiraan yang datang dari kedekatan dengan Allah).
Dalam konteks ini, Ramadhan Light Festival bisa dipahami bukan sekadar pesta visual, melainkan metafora sosial-spiritual: masyarakat mengeksternalisasi kegembiraan batin mereka dalam simbol cahaya. Setiap lampion, setiap cahaya yang berpendar di jalan protokol Purbalingga, sesungguhnya adalah “dzikir yang membisu” ekspresi rasa syukur kolektif atas kesempatan kembali berjumpa Ramadan.
Kegembiraan yang memancar bukan hanya milik individu, tetapi menjadi energi komunal yang meneguhkan makna ukhuwah. Nilai gotong royong yang mengiringi festival ini memperlihatkan bagaimana spiritualitas tidak pernah lepas dari kerja sosial. Pembuatan lampion oleh sekolah-sekolah, lembaga, hingga desa-desa menunjukkan bahwa iman bekerja melalui tangan-tangan kolektif.
Dalam perspektif tasawuf, kebersamaan dalam berbuat baik merupakan bentuk tajalli sifat jamal Allah penampakan sifat keindahan dan kasih sayang Ilahi dalam hubungan antar manusia. Semangat ini menegaskan bahwa keindahan tidak berhenti pada karya, tetapi berlanjut pada proses dan kebersamaan.
Di era di mana individualisme menguat, Ramadhan Light Festival justru menghadirkan kembali ruh tasamuh dan ta’awun yang menjadi inti dari masyarakat Islam tradisional.
Ruang Publik sebagai Ruang Dzikir Sosial
Transformasi Alun-alun Purbalingga menjadi pusat kegiatan Ramadan mengukuhkan ruang publik sebagai “ruang dzikir sosial.” Dalam suasana yang egaliter, batas kelas sosial mencair. Warga, pejabat, pedagang kaki lima, dan wisatawan, semua larut dalam perayaan spiritual yang sama.
Itulah yang dalam pandangan Ibn ‘Arabi bisa disebut wahdat al-wujud sosial kesatuan pengalaman dalam keberagaman eksistensi. Lebih jauh, dampak ekonomi dari festival ini membuktikan bahwa spiritualitas dapat berjalan seiring dengan kesejahteraan.
Ketika budaya dirawat sebagai bagian dari iman, maka hasilnya bukan saja kebahagiaan batin, tetapi juga keberkahan nyata bagi masyarakat. Ramadhan Light Festival bukanlah sekadar pesta lampu; ia adalah simbol kebangkitan kesadaran spiritual masyarakat di era modern.
Purbalingga telah menunjukkan bahwa iman bisa berpendar dalam estetika, dan bahwa tasawuf bisa ditemukan di ruang publik, bukan hanya di ruang zikir yang tertutup.
Dalam cahaya yang memantul di wajah anak-anak dan orang tua di Bumi Perwira, kita dapat membaca ulang pesan abadi Ramadan: bahwa setiap cahaya eksternal sejatinya hanyalah pantulan dari nur Ilahi yang menyala di dalam hati manusia.



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!