Al-Qur’an Solusi Kehidupan

Oleh : Safrudin Aziz, S.IPI. M.Pd.I.
Koordinator Humas UIN Saizu Purwokerto
Tanggal 6 Maret 2026 umat Islam akan memperingati sebuah peringatan agung yakni Nuzulul Qur’an. Peristiwa Nuzulul Qur’an bukan sebatas diperingati sebagai seremonial tanpa makna.
Namun umat Islam harus paham ada makna dan hikmah apa yang harus diambil sebagai pelajaran hidup. Sehingga kualitas mengimani Al-Qur’an sebagai kitab suci semakin kian meningkat.
Secara historis, peristiwa Nuzulul Qur’an terjadi pada bulan Ramadhan. Sehingga salah satu nama dari bulan Ramadhan adalah Syahru Al-Qur'an, yakni bulan diturunkannya Al-Qur'an.
Perihal ini ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 185 yang artinya: bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Menurut pendapat ulama, Al-Qur'an diturunkan mengalami dua proses atau dua tahapan. Pertama, Al-Qur'an diturunkan secara langsung dari Lauhul Mahfudz ke Baitul 'Izzah langit dunia secara keseluruhan (jumlatan wahidatan), 30 juz 114 surat.
Peristiwa turunnya Al-Qur’an dalam tahap pertama ini dijelaskan secara gamblang dalam al-Qur’an sebagai berikut:
إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar (QS. Al-Qodar: 1).
Menurut Quraish Shihab, kata inna dalam ayat terebut menunjukan keagungan Allah SWT itu sendiri. Kemudian di susul dengan lafadz anzalna yang maknanya bahwa Al-Qur’an itu diturunkan ada keterlibatan dari pihak lain, yakni malaikat Jibril atas perintah Allah.
Selain itu, anzala juga mengandung arti bahwa Al-Qur’an turun sekaligus (30 juz) ke Baitul ‘Izzah langit dunia. Adapun lafadz qadar itu dapat dimaknai malam yg mulia, dan kemuliaannya itu tidak bisa dilukiskan, dan Allah hanya menyatakan malam itu lebih mulia dari pada seribu bulan.
Seribu bulan ini menunjukan makna kebaikan atau kemulian yang amat sangat banyak. Diarti yang lain, Qadar itu juga berarti sempit, karena malam itu terlalu banyak malaikat yang turun ke bumi. Sehingga malam ini terlihat sempit sekali.
Dari tahapan yang pertama Al-Qur’an diturunkan ini dapat dikontektualisasikan bahwa Al-Qur’an itu petunjuk yang amat sangat agung/mulia. Diturunkan oleh dzat yang maha agung/maha mulia, dan waktu turunnya juga waktu yang amat angung/mulia.
Sehingga siapapun yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, pasti ia akan mendapatkan keagungan/kemuliaan langsung dari Allah SWT. Terlebih Al-Qur’an sebagaimana dipaparkan di atas juga memuat berbagai penjelasan mengenai petunjuk sekaligus sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil.
Adapun tahapan yang kedua, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur disesuaikan dengan kondisi atau keadaan nabi beserta umatnya saat itu. Hal ini mengandung dua makna bahwa al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur hingga 23 tahun tidak lain agar ayat Al-Qur’an bisa mudah dihafal, mudah diingat, mudah dipraktikan secara berkesinambungan.
Bayangkan kalau Al-Qur’an setebal itu diterima Nabi SAW dan Umatnya secara langsung. Dia bukan penyelesai masalah, malah penambah masalah, karena terlalu banyak yang harus dipahami, dihafalkan dan diamalkan saat itu juga oleh para sahabat nabi.
Makna berikutnya Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dikandung maksud bahwa saat itu Al-Qur’an benar-benar mampu menjadi problem solving bagi setiap manusia. Ada permasalahan, konsultasikan kepada Rasulullah SAW secara langsung.
Dan saat itu juga atau menunggu beberapa saat petunjuk sudah turun melalui turunnya wahyu Al-Qur’an. Misalnya: Muadz mengeluh kepada Nabi SAW atas hutang-hutang yang dimilikinya kepada orang Yahudi. Nabi SAW lalu bersabda kepada Mu’adz, maukah aku ajarkan kepadamu sebuah doa yang bisa engkau baca.
Sekiranya engkau mempunyai hutang yang besarnya seperti Gunung Uhud, pastilah Allah akan menunaikan hutangmu? Lalu Nabi SAW mengajarkan QS. Ali-Imran: 26 berikut do’anya.
Dalam kontek ini Al-Qur’an secara aplikatif memberikan solusi konkret atas permasalahan yang menimpa sahabat Muadz. Begitu pula sahabat Sa’id al-Khudri yang berhasil menyembuhkan salah seorang pemimpin kampung yang terkena sengatan kalajengking dengan membacakan QS. Al-Fatihah.
Mendengar hal tersebut Nabi SAW tersenyum dan berkata: tahukah kamu, bahwa Al-Fatihah itu adalah penyembuh. Sehingga Al-Qur’an benar-benar hidup dan menjadi petunjuk hidup dalam kehidupan Nabi beserta para sahabatnya.
Oleh karena itu, agar Al-Qur’an dapat menjadi petunjuk hidup dan hidup dalam kehidupan setiap umat diperlukan pemahaman, penghayatan, pengamalan terhadap isi Al-Qur’an itu sendiri. Karena Al-Qur’an kalam Ilahi yang tidak akan lekang oleh keadaan zaman.



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!