Berita

Direktur Pascasarjana UIN Saizu Jadi Penguji Disertasi Mahasiswa UIN Walisongo tentang Transformasi Pesantren di Wonosobo

Direktur Pascasarjana UIN Saizu Jadi Penguji Disertasi Mahasiswa UIN Walisongo tentang Transformasi Pesantren di Wonosobo

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Direktur Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Moh. Roqib menjadi salah satu penguji dalam Ujian Tertutup Disertasi mahasiswa Program Doktor Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Muhammad Saefullah, Selasa (22/9/2026).

Ujian berlangsung di Ruang Sidang Lantai 2 Pascasarjana UIN Walisongo pada pukul 10.00–12.00 WIB. Dalam ujian tersebut, Prof. Moh. Roqib bertindak sebagai Penguji 1 untuk disertasi berjudul “Transformasi Pondok Pesantren Tradisional Menuju Modern di Kabupaten Wonosobo (Studi Multisitus di Pesantren Al-Asy'ariyah, Pesantren Al-Mubaarak, Pesantren API Roudlatuth Thalibin Watthullab)”.

Disertasi tersebut mengkaji perubahan yang berlangsung di sejumlah pondok pesantren tradisional di Kabupaten Wonosobo dalam merespons perkembangan zaman, khususnya dari aspek kepemimpinan, kelembagaan, kurikulum, dan budaya pesantren.

Selain Prof. Moh. Roqib, tim penguji terdiri atas Dr. Agus Sutiyono sebagai ketua, Dr. Lutfiyah, sebagai sekretaris, Prof. Raharjo, sebagai promotor, Prof. Fihris sebagai kopromotor, Dr. Ruswan sebagai Penguji 2, dan Dr. Nasirudin sebagai Penguji 3.

Penelitian Muhammad Saefullah berangkat dari kondisi pesantren yang menghadapi tantangan untuk mempertahankan tradisi sekaligus merespons tuntutan kehidupan modern.

Dalam penelitian tersebut, transformasi pesantren dipandang bukan sekadar pilihan kelembagaan, melainkan kebutuhan strategis agar pesantren tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai tradisionalnya.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus multisitus pada tiga pesantren, yakni Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Asy’ariyyah, Pondok Pesantren Al-Mubaarak, dan Pondok Pesantren API Roudlotuth Tholibin Watthullab.

Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses transformasi di ketiga pesantren berlangsung dengan karakter yang berbeda.

PPTQ Al-Asy’ariyyah mengalami transformasi pada aspek gaya kepemimpinan, kelembagaan, kurikulum, dan budaya pesantren. Sementara itu, Pondok Pesantren Al-Mubaarak mengalami transformasi pada kelembagaan pendidikan dan kurikulum.

Adapun Pondok Pesantren API Roudlotuth Tholibin Watthullab mengalami transformasi terutama pada aspek kelembagaan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa transformasi pesantren tidak berlangsung melalui pola yang seragam. Setiap pesantren memiliki konteks, kebutuhan, dan strategi masing-masing dalam merespons perubahan.

Penelitian tersebut juga menemukan sejumlah alasan yang mendorong pesantren melakukan transformasi. Di antaranya adalah inisiatif pengasuh untuk memajukan pesantren, usulan dan masukan dari alumni serta masyarakat, serta kebutuhan agar lulusan memiliki ijazah formal dan peluang lebih luas untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

Transformasi tersebut membawa sejumlah implikasi. Integrasi kurikulum formal ke dalam lingkungan pesantren membuat metode pembelajaran menjadi lebih beragam. Para santri juga memperoleh penguatan dalam ilmu agama sekaligus ilmu umum.

Selain itu, kepemilikan ijazah formal turut meningkatkan daya saing lulusan pesantren. Dari sisi kelembagaan, transformasi juga mendorong penataan manajemen serta peningkatan sarana dan prasarana. Meski mengalami perubahan, nilai-nilai kultur pesantren tetap menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Temuan penelitian menegaskan bahwa transformasi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Perubahan justru dapat menjadi instrumen bagi pesantren untuk memperkuat fungsi dan memperluas manfaatnya di tengah perkembangan zaman.

Transformasi pesantren dapat menjadi proses perubahan yang adaptif dan dinamis, sehingga lembaga pendidikan Islam tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern tanpa kehilangan ruh salaf.

Keterlibatan Prof. Moh. Roqib sebagai penguji dalam ujian tertutup tersebut turut memperkuat peran akademisi perguruan tinggi keagamaan Islam dalam mengembangkan kajian pesantren dan pendidikan Islam.

Sebagai Direktur Pascasarjana UIN Saizu, Prof. Moh. Roqib memiliki perhatian pada pengembangan kajian akademik yang berkaitan dengan pendidikan Islam, pesantren, serta dinamika masyarakat Muslim.

Ujian disertasi menjadi bagian penting dalam proses akademik untuk menguji kedalaman kajian, metodologi, argumentasi, serta kontribusi penelitian terhadap pengembangan keilmuan.

Kajian tentang transformasi pesantren juga relevan dengan perkembangan lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang terus berhadapan dengan perubahan sosial, kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan, dan tuntutan dunia kerja.

Melalui proses akademik seperti ujian tertutup, perguruan tinggi dapat mendorong lahirnya penelitian yang tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga memberikan perspektif bagi pengembangan pesantren secara berkelanjutan.

Penelitian Muhammad Saefullah pada akhirnya menunjukkan bahwa pesantren dan transformasi bukanlah dua hal yang berlawanan. Transformasi dapat menjadi strategi untuk memperkuat fungsi pesantren, memperluas manfaat bagi masyarakat, serta menjaga relevansi pesantren di era modern dengan tetap mempertahankan nilai dan ruh tradisinya. (AR)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *