Details

Terapi Sunyi Sang Nabi dan Seni Berharap Lewat Jalur Langit


Oleh: Muhammad Sahal Anifan
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam angkatan 2025

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. 1448 Hijriah pada 25 Agustus 2026 bukan sekadar seremoni untuk mengenang sejarah kelahiran manusia mulia. Momentum ini juga dapat menjadi ruang perenungan untuk meneladani sisi kemanusiaan Rasulullah saw. yang sarat dengan nilai spiritual dan psikologis.

Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), kesehatan mental dan ketenteraman batin seorang hamba tidak dapat dilepaskan dari relasinya dengan Allah Swt. Relasi tersebut antara lain dibangun melalui doa, pengelolaan rasa putus asa, serta kemampuan menyalurkan berbagai gejolak batin kepada Sang Khalik.

Dialog Sunyi di Balik Perpindahan Kiblat

Salah satu peristiwa dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw. di Madinah yang menarik untuk direnungkan adalah perpindahan kiblat. Selama kurang lebih 16 bulan, umat Islam melaksanakan salat dengan menghadap Baitul Maqdis di Palestina.

Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah saw. memiliki kerinduan agar kiblat umat Islam diarahkan ke Ka'bah di Masjidil Haram. Al-Qur'an menggambarkan bagaimana Rasulullah saw. senantiasa menengadahkan wajahnya ke langit menantikan petunjuk Allah Swt.

Allah Swt. kemudian berfirman: “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu...” (QS. Al-Baqarah: 144)

Ayat tersebut menunjukkan kedekatan antara Rasulullah saw. dan Allah Swt. sekaligus menggambarkan bagaimana harapan dan kerinduan seorang hamba dapat disampaikan kepada Allah, bahkan ketika tidak seluruhnya terucapkan melalui kata-kata.

Dalam ungkapan Jawa, keadaan batin semacam itu dapat digambarkan dengan istilah nggrentes, yakni suara hati yang begitu halus, perih, bercampur harap dan rindu yang tertahan di dalam dada.
Namun, kisah perpindahan kiblat tidak semestinya dipahami sebagai gambaran bahwa Rasulullah saw. sekadar “memendam keinginan” tanpa doa. Al-Qur'an justru menjadi sumber utama dalam memahami peristiwa tersebut. Yang dapat kita teladani adalah sikap Rasulullah saw. yang senantiasa menanti petunjuk Allah dengan penuh kesabaran dan kepasrahan.

Kedekatan Allah dengan hamba-Nya juga ditegaskan dalam firman-Nya: “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
(QS. Al-Mulk: 13)

Pesan tersebut memberikan penguatan bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah Swt., termasuk kegelisahan, harapan, dan doa yang hanya tersimpan di dalam hati.

Inni Qorib: Ketika Allah Menegaskan Kedekatan-Nya

Kisah tersebut selaras dengan pesan utama Al-Qur'an tentang kedekatan Allah dengan orang-orang yang berdoa. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 186, Allah Swt. berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ungkapan inni qorib atau “sesungguhnya Aku dekat” mengandung pesan spiritual yang kuat. Dalam perspektif psikologis, keyakinan bahwa Allah dekat dapat menjadi sumber ketenangan dan harapan bagi seorang Muslim ketika menghadapi persoalan kehidupan.

Karena itu, seorang hamba tidak perlu ragu untuk menyampaikan kegelisahan dan harapannya kepada Allah Swt. Doa tidak harus selalu hadir dalam rangkaian kata-kata yang panjang. Dalam keadaan tertentu, seseorang bahkan hanya mampu mengadu dalam diam.

Nggrentes di hadapan Allah dapat dimaknai sebagai bentuk kejujuran batin seorang hamba. Ia mengakui keterbatasan dirinya sekaligus menyadari bahwa ada Zat Yang Mahakuasa sebagai tempat bersandar.

Islam juga mengajarkan agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Doa menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang menjaga manusia tetap memiliki harapan ketika menghadapi berbagai kesulitan.

Doa, Takdir, dan As-Tsiqah Billah

Sering kali muncul pertanyaan: jika takdir telah ditetapkan, untuk apa manusia terus berdoa? Dalam ajaran Islam, doa tidak semestinya diposisikan sebagai bentuk perlawanan terhadap takdir. Doa merupakan bagian dari ikhtiar seorang hamba sekaligus bentuk penghambaan dan ketergantungan kepada Allah Swt.

Al-Qur'an menyebutkan: “Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuz).” (QS. Ar-Ra'd: 39)
Karena itu, seorang Muslim perlu membangun sikap as-tsiqah billah, yakni keyakinan dan kepercayaan kepada Allah Swt. Sikap ini membuat seseorang tetap berusaha dan berdoa tanpa kehilangan kepercayaan terhadap ketetapan Allah.

Manusia memiliki keterbatasan. Ketika terlalu sering dimintai pertolongan, manusia dapat merasa lelah atau terbebani. Allah Swt. berbeda. Dalam Islam, manusia justru diperintahkan untuk memohon kepada-Nya dan tidak menyombongkan diri dengan merasa mampu menjalani kehidupan tanpa pertolongan Allah.

Doa, dengan demikian, bukan hanya tentang mendapatkan apa yang diinginkan. Doa juga merupakan sarana membangun ketergantungan spiritual, memperkuat harapan, dan menata kembali kondisi batin ketika seseorang menghadapi persoalan.

Menata Ekspektasi: Memahami Ijabah Doa

Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling Islam, seseorang perlu memahami bahwa doa tidak selalu berakhir dalam bentuk yang persis sama dengan apa yang diminta.
Para ulama menjelaskan bahwa terkabulnya doa dapat dipahami dalam berbagai bentuk. Secara umum, doa seorang hamba dapat memperoleh jawaban melalui beberapa kemungkinan.

Pertama, Allah memberikan apa yang diminta sesuai dengan waktu dan kondisi yang dianggap terbaik bagi hamba-Nya.
Kedua, Allah memberikan sesuatu yang berbeda tetapi lebih baik, atau menghindarkan seseorang dari keburukan yang tidak diketahuinya.
Ketiga, doa tersebut menjadi bagian dari amal kebaikan yang mendapatkan balasan di akhirat.

Pemahaman ini penting agar seseorang tidak mudah menyimpulkan bahwa doanya “tidak dikabulkan” hanya karena hasilnya tidak sesuai dengan keinginannya. Keterbatasan manusia membuat kita tidak selalu mengetahui apa yang terbaik bagi diri sendiri.

Di sinilah pentingnya husnuzan kepada Allah. Doa berjalan beriringan dengan ikhtiar, kesabaran, dan penerimaan terhadap ketetapan Allah Swt.

Maulid Nabi dan Seni Menemukan Ketenangan

Maulid Nabi Muhammad saw. pada akhirnya bukan hanya momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah saw., tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan bagaimana beliau menghadapi kehidupan dengan kesabaran, keteguhan, dan ketergantungan kepada Allah Swt.

Dari kisah perpindahan kiblat, kita belajar bahwa harapan perlu dirawat meskipun jawaban tidak selalu datang seketika. Dari konsep inni qorib, kita belajar bahwa Allah senantiasa mengetahui isi hati hamba-Nya. Sementara melalui doa dan as-tsiqah billah, kita belajar untuk tetap berikhtiar sekaligus menyerahkan hasil kepada Allah Swt.

Karena itu, jangan biarkan masa lalu yang kelam, keterbatasan materi, kegagalan, maupun berbagai persoalan kehidupan menghentikan langkah untuk berdoa dan berharap.

Jika hari ini dada terasa sesak dan yang mampu dilakukan hanya nggrentes di atas sajadah pada malam hari, tetaplah berdoa. Sampaikan kegelisahan kepada Allah dengan bahasa yang paling jujur. Sebab, manusia boleh jadi tidak memahami seluruh isi hati kita, tetapi Allah Swt. Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di dalam dada.

Momentum Maulid Nabi Muhammad saw. 1448 Hijriah dapat menjadi pengingat bahwa ketenangan batin tidak selalu lahir ketika seluruh persoalan selesai. Terkadang, ketenangan hadir ketika kita menyadari bahwa dalam menghadapi persoalan apa pun, kita tidak pernah benar-benar sendirian.

Mari merawat husnuzan, memperkuat doa, memperbaiki ikhtiar, dan mempererat hubungan dengan Allah Swt. Teruslah mengetuk pintu langit dengan penuh keyakinan. Sebab, jawaban atas sebuah doa tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan, tetapi selalu ada hikmah yang dapat ditemukan oleh hati yang berserah.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *