Bawakan Isu Ekoteologi, Dosen UIN Saizu Pentaskan Sendratasik Legenda Nyi Rantan Sari di TMII

JAKARTA, UINSAIZU.AC.ID- Cerita rakyat Brebes Selatan tentang Nyi Rantan Sari kembali dihidupkan melalui pertunjukan seni drama, tari, dan musik (sendratasik) di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta pada Minggu (4/10/2026).
Pementasan bertajuk “Legenda Nyi Rantan Sari” tersebut tidak hanya menghadirkan kekayaan tradisi lokal Brebes, tetapi juga membawa pesan ekoteologi, yakni kesadaran menjaga alam yang dibangun melalui nilai-nilai spiritual. Pementasan ini menjadi bagian dari penampilan Duta Seni Kabupaten Brebes Tahun 2026.
Karya tersebut dipimpin Dr. Dimas Indianto Sastronagoro, Budayawan Brebes sekaligus Dosen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto. Dr. Dimas, yang dikenal di dunia kebudayaan dengan nama Dimas Indiana Senja, ditunjuk sebagai pimpinan produksi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes.
Pementasan yang dimulai pukul 12.30 WIB itu disaksikan sekitar 700 penonton. Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat Kabupaten Brebes turut hadir, di antaranya Wakil Bupati Brebes, Sekretaris Daerah, Ketua DPRD, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), Ketua MASIGAB (Majelis Silaturahmi Warga Brebes), para camat, serta kepala sekolah se-Kabupaten Brebes.
Legenda Nyi Rantan Sari selama ini berkembang terutama melalui tradisi tutur masyarakat Brebes Selatan. Sosok Nyi Rantan Sari dikenal sebagai perempuan cantik yang dipercaya memiliki keterkaitan dengan penjagaan wilayah Brebes Selatan.
Dimas kemudian mengolah cerita tersebut menjadi pertunjukan sendratasik dengan melibatkan para seniman dan pelajar Brebes. Menurutnya, pengangkatan legenda ke panggung pertunjukan menjadi salah satu cara untuk memastikan cerita rakyat tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Selama ini legenda Nyi Rantan Sari hanya hidup di dalam cerita tutur masyarakat Brebes Selatan sebagai perempuan cantik penjaga wilayah Brebes Selatan. Belum ada yang mengangkat tema ini ke dalam ruang pertunjukan. Karena itu, saya memberanikan diri untuk mencoba mengangkatnya ke dalam pementasan sendratasik,” ujar Dr. Dimas.

Menurut Dr. Dimas, cerita rakyat tidak cukup hanya disimpan dalam ingatan masyarakat. Tradisi tutur juga perlu memperoleh ruang untuk berkembang melalui berbagai bentuk ekspresi seni dan kebudayaan. Melalui sendratasik, legenda Nyi Rantan Sari tidak hanya dipentaskan kembali, tetapi juga dibaca dalam konteks persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Salah satu kekuatan utama pementasan tersebut terletak pada perspektif ekoteologi yang digunakan untuk membaca kembali cerita Nyi Rantan Sari. Dalam pertunjukan, hutan dan lingkungan tidak hanya ditempatkan sebagai latar fisik kehidupan manusia. Alam dipandang memiliki hubungan erat dengan kehidupan spiritual, kebudayaan, serta tanggung jawab moral manusia.
Pendekatan tersebut membuat persoalan kerusakan lingkungan tidak semata-mata dipahami sebagai persoalan ekologis. Cara manusia memperlakukan alam juga berkaitan dengan cara manusia memandang dan memaknai keberadaan alam itu sendiri.
“Cerita Nyi Rantan Sari kami baca kembali dalam konteks persoalan lingkungan. Ada kesadaran spiritual yang ingin kami hadirkan, bahwa menjaga hutan dan alam bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab manusia terhadap kehidupan,” kata Dr. Dimas.
Pesan tersebut kemudian diterjemahkan melalui perpaduan drama, tari, musik, dan unsur visual. Setiap unsur pertunjukan digunakan untuk membangun narasi mengenai hubungan manusia dengan alam.
Dengan pendekatan tersebut, legenda lokal tidak berhenti sebagai warisan budaya masa lalu. Cerita rakyat menjadi medium untuk menyampaikan pesan mengenai keberlanjutan lingkungan dan tanggung jawab manusia terhadap alam.
Pementasan “Legenda Nyi Rantan Sari” sekaligus menjadi ruang regenerasi seniman muda di Kabupaten Brebes. Sebagian besar pemain berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa dari sejumlah lembaga pendidikan.
Mereka antara lain berasal dari SMA Negeri 1 Sirampog, SMA Negeri 1 Paguyangan, SMK Ma’arif NU Paguyangan, SMK Negeri 1 Tonjong, Universitas Peradaban, serta SMP Negeri 1 Bantarkawung.
Keterlibatan generasi muda membuat pertunjukan ini tidak hanya menjadi agenda seni, tetapi juga ruang pembelajaran. Para pelajar mendapatkan pengalaman dalam seni pertunjukan sekaligus mengenal cerita rakyat, tradisi, nilai lokal, dan persoalan lingkungan di daerahnya.
Proses tersebut mempertemukan pendidikan dengan kebudayaan. Generasi muda tidak hanya menjadi penonton warisan budaya, tetapi ikut mengambil peran dalam merawat dan mengembangkannya.

Pementasan juga melibatkan sejumlah komunitas dan sanggar seni di Brebes Selatan, di antaranya Sanggar Andaka SMA Negeri 1 Paguyangan, Bumiayu Creative City Forum (BCCF), Sanggar Suwung, Sanggar Ayudia SMK Negeri 1 Tonjong, Sanggar Tari Rafela, Sanggar Swaragini SMA Negeri 1 Sirampog, Sanggar Binendrang, serta Sanggar Sembung Senggani Tonjong.
Kolaborasi tersebut mempertemukan berbagai kelompok seni yang selama ini tumbuh dan berkarya di Brebes Selatan. Masing-masing membawa karakter dan kekuatan artistik yang berbeda, kemudian dipadukan dalam satu pertunjukan untuk membawa nama Kabupaten Brebes ke tingkat nasional.
Bagi Dr. Dimas, keterlibatan berbagai sanggar dalam satu produksi memiliki arti penting bagi keberlangsungan ekosistem kebudayaan daerah. Menurutnya, kehidupan seni tidak hanya bergantung pada keberadaan seniman. Kebudayaan juga membutuhkan ruang pertemuan, proses belajar, regenerasi, dan jejaring antarkomunitas.
Karena itu, pementasan “Legenda Nyi Rantan Sari” menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Proses kreatif di baliknya menjadi ruang kolaborasi antara seniman, pelajar, mahasiswa, komunitas, dan pemerintah daerah.
Keterlibatan Dr. Dimas sebagai dosen UIN Saizu sekaligus budayawan menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik kebudayaan di masyarakat. Perspektif ekoteologi yang dibawa dalam pertunjukan juga membuka ruang dialog antara kebudayaan, spiritualitas, pendidikan, dan persoalan lingkungan.
Penampilan Duta Seni Kabupaten Brebes di TMII menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Brebes kepada masyarakat yang lebih luas. Cerita yang tumbuh dari tradisi tutur masyarakat Brebes Selatan tersebut dibawa ke Jakarta melalui bahasa seni pertunjukan yang memadukan drama, tari, dan musik.
Melalui “Legenda Nyi Rantan Sari”, Duta Seni Kabupaten Brebes Tahun 2026 menunjukkan bahwa kekayaan budaya daerah tidak hanya terletak pada bentuk kesenian yang terlihat di atas panggung. Di balik sebuah legenda terdapat pengetahuan, nilai, pandangan hidup, serta cara masyarakat memaknai hubungan manusia dengan lingkungan.
Pementasan tersebut akhirnya mempertemukan tradisi lokal, regenerasi seni, dan isu lingkungan dalam satu panggung. Dari Brebes Selatan, legenda Nyi Rantan Sari dibawa ke TMII Jakarta untuk menyampaikan pesan bahwa menjaga hutan dan alam bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari kesadaran spiritual manusia.
Dengan demikian, seni pertunjukan menjadi jembatan yang menghubungkan warisan budaya masa lalu dengan tantangan ekologis masa kini sekaligus mengajak generasi muda untuk ikut merawat lingkungan dan kebudayaan secara berkelanjutan. (AR/SA)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!