Artikel

Pengalaman sebagai Ruh Puisi: Proses Kreatif Abdul Wachid B.S dan Penulis Pemula

Pengalaman sebagai Ruh Puisi: Proses Kreatif Abdul Wachid B.S dan Penulis Pemula

Oleh: Amanda Aulia Wulan Sari
Mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Riuh rendah obrolan para santri yang bahagia karena dapat berjumpa dengan orang tua mereka berpadu dengan tawa lepas, senyum merekah, dan tangis yang tertahan. Semua itu melebur bersama udara Banjarnegara yang panas. Suasana seperti inilah yang kerap saya jumpai ketika kegiatan sambangan atau kunjungan orang tua ke pondok berlangsung.

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah meminta izin kepada Mama untuk ikut pulang bersamanya. Saat itu, saya merasa tidak betah tinggal di pondok. Saya membayangkan jawaban Mama akan sederhana: mengizinkan saya pulang. Namun, Mama justru menggeleng. Ia tersenyum, membelai lembut puncak kepala saya, lalu memeluk saya. “Nderes ndu'... ngaji...” ucapnya.

Jawaban itu di luar dugaan saya. Saya mengira obat rindu adalah kepulangan secara fisik, tetapi Mama justru mengarahkan saya untuk mengaji. Peristiwa sederhana tersebut terus melekat dalam ingatan saya dan memunculkan sebuah pertanyaan mendasar: mengapa pengalaman rindu tidak cukup hanya dicurahkan menjadi kata-kata?

Pengalaman dan Ruh Puisi

Selama ini, saya mengira menulis puisi adalah kegiatan mencurahkan perasaan melalui rangkaian kata yang diperindah. Namun, setelah membaca buku Creative Writing karya Abdul Wachid B.S., pandangan saya tentang menulis puisi mulai berubah. Bacaan tersebut mendorong saya untuk mempertanyakan kembali pemahaman saya sendiri: “Apakah pengalaman saja sudah cukup untuk melahirkan puisi?”

Dari pengalaman menulis yang saya jalani, saya menemukan jawabannya: belum tentu. Dalam bukunya, Abdul Wachid B.S. menegaskan bahwa puisi tidak semata-mata ditentukan oleh eksotisme bahasa. Puisi juga lahir dari pengalaman ruhani, peristiwa, dan pesan yang digambarkan, yang menarik bagi pembaca karena mempertemukan suara ruh penyair dengan suara ruh pembaca (hlm. 4).

Gagasan tersebut menyadarkan saya bahwa inti puisi bukan hanya terletak pada keindahan bahasa, melainkan juga pada pengalaman yang memiliki ruh. Puisi menjadi bermakna ketika pengalaman yang disampaikan penyair mampu menyentuh dan bertemu dengan pengalaman batin pembacanya.

Jika dilihat dari sudut pandang tersebut, saya merasa tidak ada perbedaan mendasar antara Abdul Wachid B.S. dan diri saya dalam hal menjadikan pengalaman sebagai titik berangkat penulisan puisi. Abdul Wachid B.S. menulis puisi berdasarkan pengalaman, begitu pula saya. Pengalaman menjadi bahan baku utama dalam proses kreatif kami.

Perbedaannya justru terletak pada satu hal: bagaimana pengalaman itu diperlakukan?

Membaca Kerinduan dalam Puisi “Kangen”

Salah satu puisi Abdul Wachid B.S. yang menarik perhatian saya adalah “Kangen”.

jika kangen merajam
kekasih
telponlah aku dengan fatihah
sayapnya akan terbang
hinggap ke lubuk sanubari

tak ada sepeka ia
tak ada setunjam ia
yang hilangkan jarak ke paling
satu

sukmaku
sukma kau
berpelukan dalam tarian
abadi

Pada awalnya, saya mengira larik “telponlah aku dengan fatihah” hanya bermakna bahwa kerinduan dapat disampaikan melalui doa. Namun, setelah membacanya kembali, saya menyadari bahwa pilihan kata “telpon” yang dipasangkan dengan “fatihah” menghadirkan makna yang lebih dalam.

Telepon biasanya menjadi sarana komunikasi langsung antara dua orang yang terpisah jarak. Sementara itu, Fatihah merupakan doa yang dapat dilantunkan tanpa harus bertatap muka. Dalam pembacaan saya, pertemuan kedua kata tersebut menghadirkan cara baru untuk memahami kerinduan.

Jika biasanya rindu ingin segera diobati melalui kepulangan atau pertemuan fisik, dalam larik ini kerinduan justru dirawat melalui laku spiritual. Rindu tidak sekadar menjadi perasaan yang ingin segera dituntaskan, tetapi juga menjadi jalan untuk mendekatkan diri secara batin.

Pemaknaan tersebut semakin terasa ketika saya membaca larik penutup puisi:

sukmaku
sukma kau
berpelukan dalam tarian
abadi

Menurut saya, terdapat hubungan yang sengaja dibangun antara bagian awal dan akhir puisi. Jika pada awalnya komunikasi dijembatani melalui Fatihah, pada bagian akhir pertemuan itu menemukan wujudnya dalam pelukan sukma. Bukan tubuh yang saling berpelukan, melainkan jiwa yang bertemu dalam keabadian.

Fatihah menjadi jalan, sedangkan pelukan sukma menjadi tujuan. Dengan demikian, bahasa puisi tidak hanya menyampaikan keberadaan rindu, tetapi juga mengubah jarak fisik menjadi kemungkinan perjumpaan batin yang abadi.

Tentu saja, pemaknaan tersebut merupakan tafsiran saya sebagai pembaca terhadap cara bahasa bekerja dalam puisi “Kangen”. Dari sana, saya mulai merenungkan pengalaman pribadi saya sendiri: “Mungkinkah saya memiliki pengalaman yang dapat disampaikan melalui puisi?”

Mengolah Pengalaman dalam “Do'a Dalam Jarak”

Pada akhirnya, ingatan saya kembali pada peristiwa ketika kegiatan sambangan berlangsung di pondok. Saat merasa tidak betah, saya meminta izin kepada Mama untuk ikut pulang. Namun, Mama tidak mengizinkannya. Ia justru memberikan nasihat yang hingga kini terus saya ingat.

Dari pengalaman itulah lahir sebuah puisi yang saya beri judul “Do'a Dalam Jarak”.

Di ruang hampa tanpa suara,
aku hadirkan dirimu dalam setiap sujudku.
Mencoba menitipkan salam,
lewat angin malam yang menenangkan.

“Ma...
Pa...
Sehatkah kalian di sana?”

Aku selalu ingat satu pesan Mama,
“Ndu', kalo kangen Mama obatnya cuma satu,”
Aku bertanya,
“Apa? Pulang?”
Kau menggeleng,
tersenyum.
Membelai lembut puncak kepalaku,
dibawalah ke dalam dekapmu.
“Nderes ndu'... ngaji...”
Aku memeluknya erat.

Lalu tarhim menyadarkanku,
beranjaklah aku dari duduk.
Mengambil mushaf,
membacanya sampai fajar menampakkan dirinya.

Aku yakin, kalian pun sama.
Sama-sama sedang melantunkan ayat-ayat-Nya,
Sama-sama sedang merasakan hangatnya rindu yang memeluk dada,
Sama-sama sedang menanti hari, di mana kita dapat berjumpa.

Dan kalian,
Mama... Bapa...
Di antara beribu doa yang melangit,
Nama kalian selalu aku sebut,
Agar kalian selalu baik-baik saja.

Inti puisi tersebut terletak pada pesan Mama: “Ndu', kalo kangen Mama obatnya cuma satu.” Saya mengira jawabannya adalah pulang. Namun, Mama menggeleng, tersenyum, lalu menjawab, “Nderes ndu'... ngaji...” Setelah itu, suara tarhim menyadarkan saya untuk mengambil mushaf dan membacanya hingga fajar tiba.

Mengapa pesan Mama begitu melekat dalam ingatan saya?

Menurut saya, karena kerinduan dalam pengalaman tersebut tidak sekadar diungkapkan melalui pernyataan, tetapi dihadirkan melalui adegan. Senyum Mama, belaian di puncak kepala, suara tarhim, dan mushaf yang saya baca menjadi detail konkret yang membawa pembaca mendekati pengalaman saya.

Tarhim dan mushaf bukan sekadar pelengkap dalam puisi. Keduanya menjadi bagian dari perjalanan kerinduan untuk menemukan tempatnya. Bukan pertemuan fisik yang akhirnya terjadi, melainkan doa. Perubahan inilah yang membuat puisi terasa lebih hidup, bahkan bagi pembaca yang tidak mengalami peristiwa tersebut secara langsung.

Namun, ketika membaca ulang puisi itu, saya menemukan bagian yang terasa kurang tepat:

Aku yakin, kalian pun sama.
Sama-sama sedang melantunkan ayat-ayat-Nya,
Sama-sama sedang merasakan hangatnya rindu yang memeluk dada,
Sama-sama sedang menanti hari, di mana kita dapat berjumpa.

Pada bagian ini, saya menyadari adanya persoalan dalam cara saya mengolah pengalaman. Bait tersebut berisi dugaan tentang apa yang sedang dirasakan dan dilakukan orang tua saya, padahal hal itu tidak hadir sebagai pengalaman langsung dalam ingatan saya malam itu. Saya tidak melihat apa yang Mama dan Bapa lakukan di rumah. Pengalaman yang benar-benar saya alami adalah ketika saya sendiri mengaji di pondok.

Jika adegan Mama yang tersenyum dan membelai kepala terasa kuat karena konkret dan benar-benar saya alami, bait yang berisi dugaan justru melemahkan puisi. Saya seolah-olah menjelaskan perasaan orang lain tanpa memiliki pengalaman langsung yang mendasarinya.

Dari pembacaan ulang itu, saya memutuskan untuk memangkas dua bait terakhir tersebut. Saya ingin puisi ini berhenti pada pengalaman yang sungguh-sungguh hadir dalam ingatan: membaca mushaf hingga fajar.

Keputusan itu bukan berarti perasaan orang tua saya tidak penting. Sebaliknya, saya belajar bahwa puisi akan terasa lebih kuat ketika saya memberi ruang bagi pengalaman konkret untuk berbicara, tanpa harus menjelaskan segala sesuatu yang tidak benar-benar saya ketahui.

Dari Curahan Hati Menuju Pengalaman Puitik

Selama ini, saya sering menulis puisi berdasarkan pengalaman tanpa mengolahnya lebih jauh. Ketika merasa sedih, saya langsung menulis puisi tentang kesedihan. Ketika merindukan seseorang, saya menuangkan kerinduan itu apa adanya. Akibatnya, puisi yang saya hasilkan kerap menjadi curahan hati spontan, bukan pengalaman yang telah diendapkan dan diolah menjadi karya puitik.

Bahasa yang saya gunakan cenderung ekspresif dan langsung. Saya lebih sibuk mengungkapkan apa yang dirasakan daripada mencari cara agar pengalaman tersebut dapat dihadirkan secara bermakna bagi pembaca. Padahal, seperti yang saya pahami dari pemikiran AWBS, puisi tidak berhenti pada pengungkapan perasaan, tetapi juga membuka ruang pertemuan antara pengalaman penyair dan pengalaman pembaca.

Proses ini memberikan refleksi penting bagi saya. Saya menyadari bahwa proses kreatif tidak berhenti ketika seseorang memiliki pengalaman. Justru pekerjaan utama dimulai setelah pengalaman itu terjadi.

Dalam menulis “Do'a Dalam Jarak”, setidaknya ada tiga langkah yang saya lalui. Pertama, saya menulis berdasarkan pengalaman ketika merindukan rumah dan ingin pulang saat sambangan. Kedua, saya membaca ulang puisi tersebut dan menemukan bagian yang hanya berisi dugaan tentang apa yang dilakukan dan dirasakan orang tua saya. Ketiga, saya memangkas bagian tersebut agar puisi kembali berpusat pada pengalaman yang benar-benar saya alami.

Tiga langkah itu membantu saya memahami dua gagasan dalam buku Creative Writing yang kemudian saya terapkan dalam proses penulisan puisi.

Pertama, gagasan “Proses Kreatif Puisi: Jalan Spiritual, Jalan Bahasa”. Saya memahami jalan spiritual sebagai proses perenungan terhadap pesan Mama dan pengalaman merasa tidak betah di pondok. Pengalaman tersebut tidak langsung saya tuangkan begitu saja, tetapi saya endapkan agar menemukan makna yang lebih dalam.

Sementara itu, jalan bahasa saya terapkan melalui pemilihan detail konkret, seperti senyum, belaian, tarhim, dan mushaf. Saya juga belajar mengambil keputusan terhadap bagian-bagian yang kurang mendukung puisi, termasuk memangkas dua bait yang berisi dugaan tentang orang tua saya.

Kedua, gagasan “Puisi yang Tak Akan Memperindah Kata-Kata”. Gagasan ini membantu saya memahami bahwa ketepatan dalam menghadirkan pengalaman lebih penting daripada sekadar menambahkan ungkapan yang terdengar indah.

Saya mempertahankan adegan Mama, tarhim, dan mushaf bukan semata-mata karena ketiganya dapat menghadirkan kesan puitis, melainkan karena semuanya berangkat dari pengalaman yang benar-benar terjadi. Sebaliknya, saya memilih menghilangkan larik “Sama-sama sedang merasakan hangatnya rindu yang memeluk dada”. Meskipun terdengar puitis, larik tersebut justru menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak saya saksikan secara langsung.

Dari proses itu, saya mulai memahami bahwa keindahan puisi tidak selalu lahir dari banyaknya kata indah yang digunakan. Terkadang, puisi justru menjadi lebih kuat ketika penulis berani mengurangi, memilih, dan membiarkan pengalaman berbicara melalui detail-detail sederhana.

Pada akhirnya, proses kreatif yang saya pelajari dari Abdul Wachid B.S. mengajarkan saya untuk tidak terburu-buru dalam menulis. Jika dahulu saya menulis untuk melampiaskan perasaan, kini saya belajar mengendapkan perasaan terlebih dahulu sebelum mengubahnya menjadi puisi.

Saya mulai memahami bahwa menjadi penyair bukan sekadar menjadi seseorang yang memiliki banyak pengalaman atau perasaan. Menjadi penyair berarti belajar mengolah pengalaman, menemukan makna di dalamnya, lalu menyampaikannya melalui bahasa yang mampu menyentuh pengalaman batin pembaca.

Sebab, pengalaman mungkin menjadi titik awal lahirnya puisi, tetapi proses pengolahanlah yang membantu pengalaman itu menemukan ruhnya. (AR)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *