Artikel

Dari Pengalaman Menuju Makna: Membaca Ulang Kehilangan Dan Ilusi Dalam Puisi-Puisi Nilam Cahya Maedy

Dari Pengalaman Menuju Makna: Membaca Ulang Kehilangan Dan Ilusi Dalam Puisi-Puisi Nilam Cahya Maedy

Oleh: Nilam Cahya Maedy
Program Studi Bimbingan Konseling Islam, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Menulis, dalam bentuk apa pun ilmiah, ilmiah populer, maupun populer pada hakikatnya merupakan perjalanan untuk mencari kebenaran. Perbedaannya terletak pada cara pandang dan gaya pengungkapannya (Wachid B.S., 2026).

Dengan mengambil bentuk esai sastra, tulisan ini berupaya membaca ulang jejak-jejak ingatan yang terserak dalam puisi-puisi saya, sekaligus merenungkan bagaimana saya menghadapi berbagai bentuk kehilangan, ilusi, dan proses pendewasaan batin yang menyertainya.

Menulis merupakan serangkaian proses kreatif individu (subjek) dalam mempersepsikan suatu fenomena sebagai objek dengan menggunakan imajinasi atau ilmu pengetahuan sesuai dengan sistem konvensi yang berlaku (Abdul Wachid B.S. & Heru Kurniawan, 2021: 179).

Awalnya, saya mengira proses kreatif yang saya jalani bertolak belakang dengan pemikiran tersebut. Selama ini, puisi-puisi saya lahir dari letupan emosi sesaat, sebagai tumpahan perasaan ketika rasa sakit akibat suatu kejadian masih begitu pekat.

Namun, saya menyadari satu hal penting: menulis secara spontan ketika emosi sedang memuncak tidak berarti pengalaman tersebut sepenuhnya luput dari refleksi. Jika puisi lahir dari spontanitas, proses membaca ulang dan menuliskannya kembali dalam bentuk esai merupakan wujud refleksi itu sendiri.

Jarak waktu yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini memungkinkan saya menemukan makna yang lebih luas dari teks yang saya tulis sendiri.

Pengalaman spontan tersebut melatarbelakangi lahirnya salah satu puisi saya yang berjudul “Sial”. Suatu hari, saya menuliskan rentetan kata dalam keadaan frustrasi akibat sebuah kegagalan personal. Tangan bergerak lebih cepat daripada pikiran, menuangkan ungkapan yang acak dan penuh penolakan untuk meredakan sesak di dada. Saat itu, saya tidak memikirkan majas, estetika, ataupun pesan moral.

Namun, ketika membaca kembali tulisan tersebut beberapa waktu kemudian dengan pikiran yang lebih tenang, proses refleksi mulai bekerja. Saya menyadari bahwa amarah yang muncul saat itu sebenarnya merupakan cara batin saya untuk menutupi rasa takut dan keraguan terhadap diri sendiri.

Pengalaman membaca ulang naskah spontan inilah yang mendorong saya menelusuri kembali empat puisi pilihan untuk memahami respons batin terhadap kehilangan dan perubahan emosi.

Penyandingan puisi “Sial” dan “Usai” merekam dinamika batin ketika berhadapan dengan kehilangan. Dalam puisi “Sial”, keengganan untuk merelakan diungkapkan secara langsung melalui larik-larik berikut:

Ikhlas masih enggan
singgah di dada.
Membiarkanku terus
merutuk dalam derita.

Ungkapan “ikhlas masih enggan” menggambarkan ketidakberdayaan batin pada fase awal kehilangan. Pilihan kata “singgah” mempertegas bahwa keikhlasan bahkan belum mampu mampir sejenak ketika luka masih terasa begitu dalam. Keikhlasan seolah menjadi sesuatu yang berada di luar jangkauan, sementara batin masih terjebak dalam penolakan dan penderitaan.

Namun, dari pergulatan tersebut, tumbuh pemahaman baru yang kemudian tertuang dalam puisi “Usai”:

Namun aku belajar,
bahwa ada kemenangan
yang harus direlakan.

Sepintas, terdapat pertentangan makna antara kata “kemenangan” dan “direlakan”. Melalui jarak reflektif yang saya miliki saat ini, saya memaknai “kemenangan” dalam larik tersebut bukan sebagai keberhasilan mempertahankan sesuatu agar tidak pergi, melainkan sebagai bentuk penaklukan terhadap ego sendiri.

Merelakan menjadi pilihan untuk melepaskan beban penolakan dan menerima kenyataan, bukan sebagai kemenangan mutlak atas keadaan di luar kendali diri. Dengan demikian, kehilangan tidak selalu harus dihadapi melalui upaya mempertahankan sesuatu, tetapi dapat pula dimaknai sebagai kesempatan untuk berdamai dengan diri sendiri.

Penjelajahan tentang kehilangan kemudian bergeser ke wilayah yang lebih imajinatif dalam puisi “Untukmu Yang Mendekapku Dengan Kata”. Puisi ini berangkat dari kesadaran bahwa sosok yang dicintai tidak benar-benar hadir secara fisik, melainkan hidup dalam ruang aksara:

Kita bukan hidup
di dunia nyata.
Aku dan kamu,
hanya ada
dalam aksara.

Larik “hanya ada dalam aksara” secara jujur memperlihatkan batas tegas antara kedekatan yang terbangun di atas kertas dan jarak yang memisahkan di dunia nyata. Kata “hanya” menegaskan bahwa kehangatan tersebut tidak sepenuhnya terwujud dalam realitas.

Namun, ungkapan “mendekapku dengan kata” dalam judul dan isi puisi menunjukkan fungsi ganda tulisan itu sendiri. Di satu sisi, tulisan menjadi ruang perlindungan dari dinginnya jarak. Di sisi lain, tulisan menjadi sarana untuk merawat kedekatan melalui kata-kata, meskipun kedekatan tersebut belum terwujud dalam kehidupan nyata.

Pada akhirnya, persoalan kehilangan bermuara pada kesadaran tentang ilusi dalam puisi “Mimpi Itu Ilusi”. Kehilangan dalam puisi ini bukan lagi tentang sosok lain, melainkan tentang memudarnya kejujuran emosi masa kecil dan pupusnya gambaran ideal mengenai masa depan.

Pemaknaan tersebut tumbuh dari refleksi atas ingatan masa lalu. Ketika masih kecil, konflik terbesar yang saya ingat hanyalah berebut mainan dengan adik. Konflik itu terasa sederhana, selesai dalam hitungan menit, dan tidak meninggalkan dendam ataupun kecemasan berkepanjangan.

Kerinduan tersebut tergambar dalam larik berikut:

Aku rindu jadi anak kecil lagi,
saat dunia belum sekeras ini.

Kerinduan dalam larik tersebut mengikat makna “ilusi” dalam dua arah. Pertama, anggapan masa kecil bahwa “menjadi dewasa itu menyenangkan dan bebas” ternyata merupakan ilusi ketika berhadapan dengan rumitnya kompromi dan tanggung jawab orang dewasa.

Kedua, keinginan untuk kembali menjadi anak kecil juga merupakan bentuk ilusi baru karena waktu tidak dapat diputar kembali. Bagi saya, kehilangan terasa ketika ketulusan masa kecil perlahan tergeser oleh kebiasaan menyembunyikan luka di balik ketegaran.

Kedewasaan yang dahulu saya bayangkan sebagai kebebasan ternyata juga menghadirkan tuntutan untuk memahami keadaan, mengelola emosi, dan menerima kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan harapan.

Secara keseluruhan, keempat puisi ini tidak menggambarkan pendewasaan sebagai perjalanan yang selalu lurus. Rasa sakit, ilusi, dan penerimaan dapat hadir secara bergantian, bahkan berulang, dalam proses memahami kehilangan.

Upaya untuk merelakan pun tidak selalu berlangsung dalam satu tahap atau sekali jalan. Ada kalanya penerimaan tumbuh perlahan, kemudian kembali diuji oleh ingatan dan perasaan yang belum sepenuhnya selesai.

Melalui proses membaca ulang karya-karya tersebut, saya belajar bahwa emosi yang dituangkan ke dalam teks memberi kesempatan bagi saya untuk mengambil jarak dari luka masa lalu. Teks menjadi ruang untuk menyimpan pengalaman sekaligus membacanya kembali dengan sudut pandang yang berbeda.

Secara konkret, perubahan yang saya rasakan kini adalah hadirnya ruang jeda: saya tidak lagi terburu-buru merutuki kegagalan atau memaksakan keikhlasan seketika. Sebaliknya, saya belajar mengamati dan menerima proses emosional tersebut dengan lebih tenang serta lebih jujur terhadap diri sendiri.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *