Dari Aspal ke Puisi: Menulis sebagai Cara Membaca Ulang Kehidupan

Oleh Wahyu Abid Nur Royan
Mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Islam, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Di atas jok Honda Beat Street, saat mengantar pesanan dari satu titik ke titik lain, kepala saya kerap dipenuhi berbagai peristiwa. Namun, ketika berhadapan dengan layar kosong, ingatan-ingatan itu sering kali membeku. Pengalaman semacam ini sejatinya tidak hanya dialami oleh seorang pengantar pesanan.
Banyak dari kita menjalani berbagai peristiwa berharga setiap hari, tetapi membiarkannya berlalu sebagai rutinitas tanpa sempat mengamati dan merefleksikannya. Padahal, pengalaman sehari-hari baru benar-benar bermakna ketika kita bersedia meluangkan waktu untuk mengolah dan menafsirkannya.
Kebuntuan itulah yang menuntun saya pada sebuah kesadaran: menulis pada hakikatnya merupakan latihan membaca kehidupan. Kesadaran ini menemukan pijakan konkret ketika saya membaca buku Creative Writing: Menulis Kreatif Puisi, Prosa Fiksi, dan Prosa Non-Fiksi (Wachid B.S. dkk., 2020).
Buku yang merupakan bunga rampai esai tentang penulisan kreatif ini menawarkan gagasan bahwa proses kreatif dapat dipantik melalui rangsangan indrawi yang membantu memunculkan ide.
Melalui bab yang membahas teknik clustering, saya menemukan salah satu cara untuk memulai tulisan: prosesnya tidak harus bermula di depan layar, tetapi dapat dimulai ketika kita mengamati dan menangkap detail-detail peristiwa di jalanan.
Saya menjadikan pengalaman sendiri sebagai ruang untuk menguji gagasan dalam buku tersebut. Dengan meletakkan kata “aspal” di tengah kertas, saya menarik sejumlah cabang asosiasi, seperti “suara mesin”, “debu”, dan “jeda”.
Teknik clustering ini terbukti efektif membantu saya memanggil kembali sekaligus memetakan ingatan dan suasana saat berkendara. Namun, buku ini juga menyadarkan saya bahwa peta kata tidak serta-merta menjelma menjadi puisi.
Diperlukan pertimbangan estetik dan reflektif untuk memilih kata yang paling mewakili makna sebuah pengalaman. Hal ini terasa ketika saya menyusun draf awal yang berbunyi, “Motor ini terus menyala dan berjalan menemani saya mengantar makanan, lelah sekali rasanya di jalanan.”
Berbekal kesadaran untuk mengolah pengalaman, saya mencoret kata “lelah”. Sebenarnya, kata tersebut dapat menjadi bahan puitis yang kuat jika diolah dengan tepat. Namun, dalam konteks draf yang sedang saya tulis saat itu, kata “lelah” belum mampu mewakili keseluruhan makna yang ingin saya sampaikan.
Kata itu baru merekam keluhan fisik, tetapi belum menangkap alasan yang lebih mendalam mengapa saya tetap memutar gas motor dari satu gang ke gang lain. Saya membutuhkan jarak untuk mempertanyakan kembali rutinitas tersebut.
Jika teknik clustering membantu saya memanggil dan memetakan ingatan, pilihan kata “amanah” lahir dari refleksi dan pertimbangan pribadi terhadap pengalaman itu. Setelah merenungkannya, saya mengganti keluhan tersebut dengan kata “amanah”, hingga lahirlah larik berikut:
“Di atas jok Beat Street yang setia melangkah,
membelah jalanan demi sebuah amanah.”
Pergantian kata ini bukan sekadar siasat untuk memperindah rima. Pilihan diksi “amanah” benar-benar mengubah sudut pandang saya terhadap pekerjaan tersebut. Melalui proses penyuntingan, saya tidak lagi memandang pekerjaan ini semata-mata sebagai kegiatan mengantar pesanan yang menguras tenaga.
Saya mulai memaknainya sebagai tanggung jawab yang perlu ditunaikan. Di sinilah interaksi antara gagasan dalam buku dan praktik di lapangan melahirkan pemahaman personal: bagi saya, merevisi pilihan kata dalam draf pada hakikatnya juga berarti merevisi cara saya membaca kehidupan.
Dalam artikel “Dari Puisi ke Esai: Menata Napas, Menjernihkan Pikiran”, Abdul Wachid B.S. (2023) menjelaskan fungsi refleksi dalam menjernihkan pikiran ketika ingatan faktual diterjemahkan ke dalam teks.
Dalam pengalaman yang saya jalani, refleksi tidak hanya membantu menjernihkan puisi yang sedang saya tulis, tetapi juga mengubah cara saya memandang pekerjaan di atas aspal yang sebelumnya hanya terasa menguras tenaga.
Merangkai kata ternyata tidak mengharuskan kita menunggu datangnya momen luar biasa. Deru mesin motor dan berbagai interaksi di jalanan bukanlah rutinitas kosong, melainkan teks kehidupan yang terus bergerak dan menanti untuk ditafsirkan.
Dengan merawat kepekaan, mulai dari mengamati peristiwa hingga menyunting draf tulisan, kita belajar bukan hanya menyusun kata, melainkan juga memahami pengalaman dan diri sendiri secara lebih utuh.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!