Prestasi Mahasiswa KPI UIN Saizu, dari Purbalingga Zacky Ferdianto Menembus Panggung Nasional Lewat Dakwah Kreatif

PURBALINGGA, UINSAIZU.AC.ID- Bagi Zacky Ferdianto, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, dakwah bukan sekadar kemampuan berbicara di depan banyak orang.
Baginya, dakwah adalah ruang untuk belajar, berkarya, menyampaikan kebaikan, sekaligus mengajak generasi muda melihat Islam dengan cara yang dekat dan relevan. Kecintaan itulah yang mengantarkan pemuda kelahiran Purbalingga tersebut berkali-kali tampil dalam berbagai kompetisi dakwah dan pidato tingkat regional hingga nasional.
Terbaru, Zacky kembali mengukir prestasi dengan meraih Juara 1 Lomba Dai Nasional Festival Dakwah Nusantara 2026 yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UIN Sunan Kudus dalam rangka memperingati Harlah ke-60 UIN Sunan Kudus, Senin, 27 Juli 2026.
Prestasi tersebut terasa istimewa karena Zacky harus melewati persaingan panjang sebelum berdiri sebagai juara. Sebanyak 30 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia terlebih dahulu mengikuti seleksi secara online. Dari puluhan peserta tersebut, Zacky berhasil masuk dalam jajaran 10 finalis yang kemudian berkompetisi secara offline di Kampus UIN Sunan Kudus, Jawa Tengah.
Di hadapan dewan juri dan peserta lainnya, Zacky membawa kemampuan yang selama ini terus diasah melalui latihan dan pengalaman. Bagi Zacky, mengikuti kompetisi bukan semata-mata tentang mengejar piala. Ada dorongan yang lebih personal, passion terhadap dunia dakwah, public speaking, dan kreativitas dalam membuat konten.
“Saya mengikuti lomba ini karena memiliki passion di bidang dakwah dan public speaking. Lomba ini menjadi wadah untuk mengembangkan kemampuan berdakwah, menyampaikan pesan-pesan Islam yang rahmatan lil 'alamin, menambah pengalaman, serta mengharumkan nama kampus dan daerah di tingkat nasional,” ujar Zacky.
Kecintaan tersebut membuat panggung perlombaan menjadi semacam laboratorium baginya. Setiap kompetisi menghadirkan tantangan berbeda. Setiap penampilan menjadi kesempatan untuk belajar dari pengalaman. Hingga kini, Zacky telah mengikuti sekitar 20 perlombaan dakwah dan pidato. Tidak semuanya berakhir dengan kemenangan.
Namun, justru dari proses itulah ia belajar tentang keberanian, disiplin, kemampuan mengolah materi, hingga bagaimana menyampaikan pesan secara efektif. Menjadi mahasiswa sekaligus aktif mengikuti berbagai perlombaan tentu bukan perkara sederhana.
Ada tugas perkuliahan yang harus diselesaikan. Ada latihan yang membutuhkan waktu. Ada pula perjalanan panjang menuju lokasi kompetisi yang menguras tenaga. Bagi Zacky, kemampuan mengatur waktu menjadi salah satu kunci.
Dia harus membagi fokus antara kewajiban sebagai mahasiswa dengan persiapan menghadapi kompetisi. Kondisi fisik juga harus dijaga, terutama ketika harus melakukan perjalanan jauh untuk mengikuti perlombaan secara langsung.
Belum lagi rasa gugup yang kerap muncul ketika harus berdiri di hadapan dewan juri. Namun, semua tantangan itu ia jalani dengan satu prinsip, persiapan tidak boleh berhenti hanya karena rasa takut datang.
Dukungan orang tua dan teman-teman menjadi energi tambahan. Doa dari keluarga membuatnya lebih tenang, sementara dukungan rekan-rekan memberikan semangat ketika proses persiapan terasa melelahkan.
Menariknya, perjalanan Zacky dalam dunia dakwah tidak hanya berlangsung di atas mimbar. Sebagai mahasiswa KPI, ia juga melihat perkembangan media digital sebagai peluang besar untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman.
Menurut Zacky, generasi muda saat ini hidup sangat dekat dengan media sosial. Karena itu, dakwah perlu dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami, santun, kreatif, dan sesuai dengan karakter masyarakat masa kini.
Baginya, dakwah tidak harus selalu hadir dalam bentuk ceramah panjang. Pesan kebaikan dapat hadir melalui video pendek, konten kreatif, public speaking, maupun berbagai bentuk komunikasi digital lainnya. Prinsipnya sederhana, pesan yang baik perlu disampaikan dengan cara yang baik pula.
Pandangan tersebut juga tercermin dalam berbagai kompetisi yang diikutinya. Ia tidak hanya mengembangkan kemampuan berpidato dan berdakwah, tetapi juga mencoba mengeksplorasi kreativitas melalui kompetisi konten dan stand up comedy. Dengan begitu, kemampuan komunikasinya berkembang dari berbagai sisi.
Juara 1 Lomba Dai Nasional Festival Dakwah Nusantara 2026 bukanlah prestasi pertama Zacky. Namanya telah tercatat dalam berbagai kompetisi. Beberapa di antaranya adalah Juara 1 Lomba Da'i LAFESDA se-Jawa di UIN Salatiga (2025), Juara 2 Lomba Da'i Islamic Contest Tingkat Nasional Jember (2025), serta Juara 3 Lomba Pidato Ramadhan Tingkat Nasional UPI Bandung (2025).
Pada 2026, prestasinya semakin beragam. Dia meraih Juara 3 Lomba Stand Up Comedy Tingkat Nasional UGM, Juara Konten Ramadhan, Juara 3 Lomba Dai Nasional KRNH UNS, dan Juara 2 Lomba Dai Provinsi UGM. Zacky juga meraih Juara 1 Lomba Dai Nasional UIN Pekalongan dan kemudian kembali meraih Juara 1 Lomba Dai Nasional UIN Kudus.
Tidak berhenti di kompetisi dakwah, ia juga berhasil membawa pulang Silver Medal Cabang Musabaqah Syarhil Qur'an (MSQ) pada 4th SEIBA International Festival 2026 di UIN Imam Bonjol Padang. Deretan prestasi tersebut menunjukkan satu hal, Zacky tidak membatasi dirinya pada satu panggung. Dia terus mencoba berbagai ruang untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan kreativitas.
Di balik berbagai penghargaan tersebut, Zacky menyadari bahwa kompetisi hanyalah salah satu bagian dari perjalanan. Baginya, kemenangan tidak datang secara instan. Ada proses panjang berupa membaca referensi, menyusun materi, berlatih menyampaikan naskah, memperbaiki intonasi, melatih gestur, hingga membangun kepercayaan diri.
Latihan bahkan tidak selalu dilakukan di depan panggung. Ia juga membiasakan diri berbicara di depan teman maupun berlatih secara mandiri. Tujuannya satu, ketika kesempatan tampil datang, ia sudah siap.
Zacky percaya kemampuan berbicara di depan publik harus terus diasah. Tidak cukup hanya mengandalkan bakat. Diperlukan keberanian untuk mencoba, konsistensi berlatih, dan kemauan untuk mengevaluasi diri.
Karena itu, sebuah kemenangan tidak ia anggap sebagai garis akhir. Justru, kemenangan menjadi pengingat bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari. Setiap kali mengikuti kompetisi di luar daerah, Zacky tidak hanya membawa dirinya sendiri.
Ada nama UIN Saizu yang ia bawa. Ada pula Purbalingga sebagai daerah tempat ia tumbuh. Kesadaran tersebut membuatnya berusaha memberikan penampilan terbaik di setiap kesempatan. Dia ingin membuktikan bahwa mahasiswa dari daerah juga mampu bersaing di panggung nasional.
Lebih jauh, ia berharap prestasinya dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa lain untuk berani menunjukkan kemampuan. Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki potensi masing-masing. Tantangannya adalah menemukan potensi tersebut, kemudian berani mengembangkannya.
Ke depan, Zacky ingin terus meningkatkan kualitas dakwah sekaligus mengembangkan kreativitasnya di bidang komunikasi. Dia ingin menghasilkan karya-karya yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki manfaat bagi masyarakat.
“Saya berharap dapat terus meningkatkan kualitas dakwah, menghasilkan karya-karya yang bermanfaat, menginspirasi generasi muda melalui dakwah yang kreatif, serta terus mengharumkan nama kampus dan daerah di berbagai kompetisi,” pungkasnya.
Perjalanan Zacky menunjukkan bahwa dakwah dapat memiliki banyak wajah. Dia bisa hadir dari mimbar, ruang kelas, panggung kompetisi, hingga layar ponsel generasi muda. Dari Purbalingga, Zacky terus melangkah. Satu kompetisi ditaklukkan, pengalaman baru dikumpulkan, lalu perjalanan dilanjutkan kembali.
Sebab, bagi Zacky, prestasi bukan sekadar tentang menjadi juara, melainkan tentang keberanian untuk terus belajar, berkarya, dan membawa pesan kebaikan sejauh mungkin. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia