Pesan Penting Rektor UIN Saizu untuk Alumni: Jadilah “Lebah Masa Kini” yang Berilmu, Berkarya, dan Bermanfaat

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Rektor Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ridwan menyampaikan pesan khusus kepada para alumni atau lulusan, agar tidak berhenti memberikan manfaat setelah menyelesaikan pendidikan di kampus.
Dia mengajak alumni UIN Saizu menjadikan filosofi lebah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan setelah lulus. Menurutnya, alumni harus mampu menjadi “lebah masa kini” yang berilmu, berakhlak, produktif, adaptif, serta memberi manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Ridwan dalam momentum Wisuda Sarjana ke-72, Magister ke-36, dan Doktor ke-15 Tahun 2026 di Auditorium Utama UIN Saizu Purwokerto, Selasa (1/9/2026). Dia menekankan, kelulusan dan gelar akademik bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal dari perjalanan pengabdian yang lebih luas.
“Alumni UIN Saizu Purwokerto harus menjadi ‘lebah masa kini’: pribadi berilmu, berakhlak, produktif, adaptif, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesan Prof. Ridwan.
Menurutnya, gelar akademik yang diperoleh lulusan UIN Saizu membawa tanggung jawab yang tidak kecil. Gelar tersebut merupakan amanah intelektual, moral, sosial, sekaligus spiritual yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata. “Di mana pun berada, alumni harus menghadirkan kebaikan, menawarkan solusi, dan meninggalkan jejak pengabdian,” tegasnya.
Prof. Ridwan mengawali pesannya dengan mengutip hadis Rasulullah SAW yang menggambarkan seorang mukmin seperti lebah. Hadis tersebut diriwayatkan Imam Ahmad. Dalam hadis itu disebutkan bahwa seorang mukmin memiliki karakter seperti lebah: mengonsumsi sesuatu yang baik, menghasilkan sesuatu yang baik, serta ketika hinggap tidak merusak dan tidak membuat kerusakan.
Bagi Prof. Ridwan, filosofi tersebut sangat relevan untuk menggambarkan karakter ideal alumni UIN Saizu. Lebah merupakan makhluk kecil, tetapi memberikan manfaat besar. Lebah mengambil sari bunga, mengolahnya, kemudian menghasilkan madu yang bermanfaat bagi manusia.
“Lebah merupakan makhluk kecil dengan karakter dan manfaat yang besar. Ia hanya mengonsumsi sesuatu yang baik, menghasilkan sesuatu yang baik, hidup dalam keteraturan, bekerja secara kolektif, serta hinggap tanpa merusak tempat yang didatanginya,” jelas Prof. Ridwan.

Karakter tersebut, lanjutnya, dapat menjadi inspirasi bagi alumni dalam menghadapi kehidupan yang semakin kompleks. Salah satu pesan penting Rektor UIN Saizu adalah kemampuan alumni dalam memilih dan menyaring informasi.
Di tengah perkembangan teknologi digital, alumni tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga harus memiliki literasi informasi yang kuat agar tidak mudah terpengaruh informasi palsu, provokasi, ujaran kebencian, maupun narasi yang dapat memecah persatuan.
Prof. Ridwan mengibaratkan proses tersebut seperti lebah yang hanya mengambil sari dari bunga yang baik. Alumni harus membangun dirinya dari sumber pengetahuan, pengalaman, dan nilai yang baik. Setiap informasi yang masuk perlu diperiksa dan dipertimbangkan sebelum dipercaya ataupun disebarluaskan.
“Tidak semua informasi yang tersebar di ruang publik mengandung kebenaran dan kemanfaatan,” pesannya. Karena itu, alumni UIN Saizu dituntut menjadi pribadi yang kritis, memiliki literasi digital, serta mampu menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.
Pesan tersebut juga mencakup aspek integritas dalam kehidupan profesional. Menurut Prof. Ridwan, keberhasilan tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kejujuran. Mengonsumsi sesuatu yang baik juga berarti memperoleh rezeki melalui jalan yang halal, jujur, dan bermartabat.
Filosofi lebah berikutnya yang ditekankan Prof. Ridwan adalah kemampuan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Lebah tidak sekadar mengambil sari bunga. Dia mengolahnya menjadi madu yang memiliki nilai dan manfaat bagi manusia.
Prinsip tersebut, menurut Prof. Ridwan, harus diterapkan alumni UIN Saizu dalam kehidupan profesional maupun sosial. “Alumni tidak boleh hanya menjadi pencari manfaat, tetapi harus menjadi pencipta manfaat,” ujarnya.
Ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UIN Saizu harus ditransformasikan menjadi karya, inovasi, pelayanan, dan pengabdian. Alumni yang menjadi guru, misalnya, harus mampu mencerdaskan generasi. Alumni yang menjadi aparatur negara harus menghadirkan pelayanan publik yang adil dan humanis.
Sementara alumni yang memilih jalur kewirausahaan diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan dan menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat. Adapun alumni yang menjadi ulama atau tokoh masyarakat diharapkan dapat menyebarkan Islam yang damai, moderat, dan mencerahkan.
Menurut Prof. Ridwan, ukuran keberhasilan alumni tidak hanya terletak pada jabatan atau posisi yang diperoleh. “Kualitas alumni tidak hanya diukur dari jabatan yang diraih, tetapi juga dari manfaat yang diberikan,” katanya.

Dengan demikian, setiap profesi dapat menjadi ruang pengabdian, sementara setiap keahlian dapat menjadi instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan. Lebah memiliki karakter unik ketika hinggap. Ia mengambil manfaat dari bunga tanpa merusak tempat yang didatanginya.
Prof. Ridwan menjadikan karakter tersebut sebagai pesan etika sosial bagi alumni UIN Saizu. Dia berharap alumni mampu hadir di tengah masyarakat dengan sikap santun, rendah hati, dan menghargai perbedaan.
Kehadiran alumni di lingkungan kerja, organisasi, pemerintahan, komunitas, maupun masyarakat harus memberikan penguatan. “Alumni UIN Saizu harus mampu hadir di tengah masyarakat dengan sikap santun, rendah hati, dan menghargai perbedaan,” ujarnya.
Rektor menegaskan, kompetensi tinggi harus berjalan bersama akhlak mulia. Kecerdasan tanpa etika dapat melahirkan kesombongan, sementara kekuasaan tanpa moral berpotensi menghasilkan tindakan yang merusak. Karena itu, alumni diharapkan menjadi jembatan yang mampu mempertemukan berbagai perbedaan agama, budaya, pandangan, maupun kepentingan.
Prinsip tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi Islam rahmatan lil ‘alamin yang menghadirkan kedamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Lebah juga dikenal sebagai makhluk yang bekerja secara kolektif. Madu yang dihasilkan bukan merupakan hasil kerja seekor lebah, melainkan bagian dari sistem kerja koloni yang teratur.
Prof. Ridwan menggunakan filosofi tersebut untuk mengingatkan alumni agar tidak mengandalkan kemampuan individual semata. “Alumni UIN Saizu harus membangun jejaring, memperkuat kolaborasi, dan mengembangkan sinergi lintas profesi serta lintas institusi,” katanya.
Menurutnya, berbagai persoalan masyarakat saat ini semakin kompleks. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara individu, lembaga, pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan berbagai elemen masyarakat. Jaringan alumni pun perlu dikembangkan menjadi kekuatan sosial, intelektual, dan ekonomi.
Silaturahmi antarlulusan tidak semestinya berhenti pada pertemuan dan nostalgia. Jaringan tersebut dapat menjadi ruang untuk berbagi peluang, bertukar gagasan, mengembangkan kerja sama, dan melahirkan program yang bermanfaat bagi masyarakat maupun almamater.
Pesan lain yang disampaikan Prof. Ridwan berkaitan dengan hubungan alumni dengan almamater. Lebah dikenal memiliki keterikatan kuat dengan koloninya. Lebah dapat terbang jauh untuk mencari sari bunga, tetapi tetap memiliki keterhubungan dengan sarangnya.
Filosofi tersebut menjadi pengingat bagi alumni UIN Saizu agar tidak melupakan almamater meskipun telah berkiprah di berbagai daerah dan bidang profesi. Menurut Prof. Ridwan, hubungan antara alumni dan universitas tidak berakhir setelah prosesi wisuda. “Wisuda justru menjadi awal dari pola hubungan baru,” ungkapnya.

Alumni dapat menjadi mitra strategis universitas dalam memperluas jejaring, meningkatkan kualitas pendidikan, membuka peluang kerja, serta memperkuat reputasi UIN Saizu. Dia menilai alumni dan almamater merupakan dua kekuatan yang harus tumbuh bersama.
“Alumni yang hebat akan melahirkan perguruan tinggi yang kuat dan bermartabat. Sebaliknya, perguruan tinggi yang maju akan semakin meningkatkan kebanggaan dan kepercayaan masyarakat kepada para alumninya,” jelasnya.
Prof. Ridwan juga mengingatkan alumni untuk tidak berhenti belajar setelah memperoleh ijazah. Perubahan teknologi, transformasi dunia kerja, perkembangan kecerdasan buatan, serta munculnya berbagai profesi baru membuat dunia terus bergerak.
Dalam kondisi tersebut, alumni harus terus meningkatkan kompetensi dan beradaptasi terhadap perubahan. “Ijazah bukanlah tanda berakhirnya proses belajar, melainkan tiket untuk memasuki universitas kehidupan,” pesan Prof. Ridwan.
Pihaknya mendorong alumni untuk berani mengambil peluang di berbagai ruang kehidupan. Alumni UIN Saizu tidak harus membatasi diri pada wilayah geografis maupun bidang pekerjaan tertentu. Mereka harus berani terbang jauh, menembus batas wilayah, disiplin ilmu, profesi, dan budaya.
Namun, keberanian tersebut tetap harus dibarengi dengan nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, keilmuan, dan kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut, kata Prof. Ridwan, harus menjadi kompas alumni ketika menjalani kehidupan setelah meninggalkan kampus.
Pada bagian akhir pesannya, Prof. Ridwan kembali menegaskan filosofi lebah sebagai gambaran ideal alumni UIN Saizu. Dia mengajak para alumni untuk mengambil hal-hal yang baik, menghasilkan karya yang baik, bekerja keras, membangun kebersamaan, serta hadir di tengah masyarakat tanpa menimbulkan kerusakan.
“Jadilah seperti lebah: mengambil yang baik, menghasilkan yang baik, bekerja keras, hidup dalam kebersamaan, dan hadir tanpa merusak,” pesannya. Alumni juga didorong untuk berkiprah seluas mungkin dan menjadikan setiap ruang kehidupan sebagai medan pengabdian.
“Terbanglah ke berbagai ruang kehidupan, hinggaplah di berbagai medan pengabdian, dan hasilkanlah ‘madu’ berupa prestasi, inovasi, keteladanan, serta kemanfaatan,” lanjutnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi mengenai identitas alumni UIN Saizu setelah menyelesaikan pendidikan. Menurut Prof. Ridwan, alumni UIN Saizu sebagai “lebah masa kini” harus memiliki ilmu yang tinggi, akhlak yang mulia, jejaring yang luas, karya yang nyata, serta komitmen untuk terus mengabdi.
Dengan karakter tersebut, alumni diharapkan tidak hanya sukses secara personal, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi agama, bangsa, dunia, dan kemanusiaan.
“Alumni UIN Saizu sebagai lebah masa kini: berilmu tinggi, berakhlak mulia, berjejaring luas, berkarya nyata, serta mengabdi untuk agama, bangsa, dunia, dan kemanusiaan,” pungkasnya. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia