Menyusuri Masjid Ki Ageng Chasan Besari, Jejak Panjang Islam di Gumelem Banjarnegara yang Dirawat Lintas Generasi

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, berdiri sebuah masjid tua yang menyimpan jejak panjang perkembangan Islam. Masjid itu bernama Masjid Ki Ageng Chasan Besari. Masjid itu bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Gumelem.
Di masjid ini, kayu-kayu tua, tiang penyangga, dan bangunan masjid menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat dalam merawat tradisi keislaman. Masjid Ki Ageng Chasan Besari bukan hanya tempat orang menunaikan salat. Ia juga menjadi ruang tempat sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat bertemu.
Bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 86 Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, kunjungan ke Masjid Ki Ageng Chasan Besari menjadi kesempatan untuk belajar sejarah. Mereka bukan hanya belajar dari lembaran buku, tetapi langsung dari tempat sejarah itu tumbuh dan diwariskan.
Sebanyak 15 mahasiswa terlibat dalam penelusuran tersebut, yakni Elda Safikri, Siti Fatimah, Novia Rahmadani, Fadli Rizqi Saputra, M Alfilan Iqbal AS, Rahma Andriyani, Armi Alfianti Nawafiah, Irfatun Nimah, Itmam Saputra, Hanunk Fairuz Azkia, Salsabila Dwi Kurnianingsih, Nadya Rahmatika Ulya, Syahid Ibnu Fatah, Nabila Hastiwi, dan Khafif Burhan.
Perjalanan mereka membawa pada satu pertanyaan sederhana: bagaimana Islam tumbuh di Gumelem dan bagaimana jejaknya tetap bertahan hingga hari ini?
Menurut penuturan Pengurus Masjid Ki Ageng Chasan Besari Generasi ke-39, KH Ibnu Malik Reza, sejarah Masjid Ki Ageng Chasan Besari berkaitan erat dengan sosok seorang ulama yang disebut memiliki kemampuan dalam ilmu agama, sekaligus keterampilan membatik dan bercocok tanam.
Tokoh tersebut dalam tradisi masyarakat disebut pernah berguru kepada Sunan Kalijaga. Setelah itu, ia mengembangkan ajaran Islam di Gumelem dengan pendekatan yang perlahan dan menyesuaikan kondisi masyarakat setempat. Pada awalnya, bangunan yang kini menjadi masjid tersebut dikenal sebagai Bale Kambang.
Sekitar tahun 1599 Masehi, tempat tersebut belum dikenal sebagai masjid. Masyarakat Karangtiris ketika itu masih banyak memegang kepercayaan Hindu-Buddha. Karena itu, penyebaran Islam dilakukan secara bertahap agar ajaran yang dibawa tidak menimbulkan pertentangan di tengah masyarakat. “Niat pertama untuk ibadah Islam, tapi secara pelan biar enggak tersinggung,” tutur Ibnu.
Pendekatan tersebut menggambarkan bagaimana proses Islamisasi di sejumlah wilayah Jawa berlangsung melalui interaksi sosial dan budaya. Dakwah tidak selalu dilakukan dengan perubahan secara tiba-tiba, tetapi melalui proses yang perlahan sehingga dapat diterima masyarakat.

Seiring semakin berkembangnya Islam di Gumelem, Bale Kambang kemudian berkembang menjadi Masjid Agung pada 1602 Masehi. Jejak sejarah tersebut hingga kini masih melekat dalam ingatan masyarakat dan menjadi bagian dari identitas Desa Gumelem. Sumber resmi Pemkab Banjarnegara juga mencatat bangunan tersebut sebagai bagian penting dari sejarah masuknya Islam di Gumelem.
Salah satu daya tarik Masjid Ki Ageng Chasan Besari terletak pada arsitekturnya. Empat saka guru menjadi bagian penting dari struktur bangunan masjid. Tiang utama tersebut terbuat dari kayu jati berukuran besar dan disebut menggunakan kayu utuh dengan panjang sekitar 12 meter. Keempat saka guru itu dikelilingi 12 tiang penyangga.
Konstruksi awal masjid juga disebut belum menggunakan paku. Teknik bangunan tradisional tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat pada masa lalu dalam membangun tempat ibadah dengan memanfaatkan material dan pengetahuan konstruksi yang tersedia di lingkungan mereka.
Waktu memang telah berjalan jauh. Bangunan masjid mengalami pemugaran dan penambahan sejumlah bagian untuk menyesuaikan kebutuhan jamaah. Namun, masyarakat berusaha agar bagian-bagian lama yang memiliki nilai sejarah tetap dipertahankan. “Mempertahankan lama yang bagus, nambahi yang baru yang lebih bagus. Bukan mengurangi,” kata Ibnu.
Kalimat tersebut seolah menjadi prinsip sederhana dalam merawat warisan sejarah: memperbarui bangunan tanpa menghapus ingatan yang melekat di dalamnya. Ada pula keunikan lain yang membuat Masjid Ki Ageng Chasan Besari berbeda dari masjid pada umumnya.
Bangunan masjid memiliki keterkaitan dengan wilayah Gumelem Kulon dan Gumelem Wetan. Sebuah lubang pada bagian mihrab dipercaya menjadi penanda batas antara kedua desa tersebut. “Kalau berdiri di sini, kaki kanan di Desa Kulon, kaki kiri berada di Desa Wetan,” tutur Ibnu.
Bagi masyarakat, keberadaan penanda tersebut menjadi bagian dari cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Masjid dengan demikian tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan. Ia juga bersinggungan langsung dengan ruang sosial dan geografis masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Pada 2023, nama masjid kemudian berubah menjadi Masjid Ki Ageng Chasan Besari. Penamaan tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus upaya untuk terus mengingat sosok yang dikaitkan dengan perjalanan awal perkembangan Islam di Gumelem.
Bagi mahasiswa KKN UIN Saizu Purwokerto, mengunjungi situs seperti Masjid Ki Ageng Chasan Besari memberikan pengalaman yang berbeda dari sekadar mempelajari sejarah melalui buku. Mereka dapat melihat langsung bagaimana masyarakat menjaga bangunan tua, mendengar cerita yang diwariskan para pengurus, serta memahami hubungan antara perkembangan Islam dengan kebudayaan lokal.

Koordinator Desa KKN Kelompok 86, Fadli Rizqi Saputra, memandang pengalaman tersebut penting bagi mahasiswa, khususnya generasi muda yang hidup di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat. Menurut Fadli, mempelajari sejarah bukan hanya tentang mengetahui siapa yang hidup pada masa lalu, tetapi juga memahami nilai dan proses yang membentuk kehidupan masyarakat hari ini.
Dia menilai generasi muda memiliki peran penting untuk ikut menjaga situs dan cerita sejarah Islam di daerah masing-masing. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengenal sejarah secara langsung, mendokumentasikannya, kemudian memperkenalkannya kembali melalui berbagai media yang dekat dengan generasi sekarang.
Bagi mahasiswa KKN UIN Saizu Purwokerto, keberadaan masjid bersejarah seperti Masjid Ki Ageng Chasan Besari menunjukkan bahwa warisan Islam tidak selalu hadir dalam bentuk manuskrip atau bangunan monumental. Ia juga hidup dalam tradisi masyarakat, cerita para sesepuh, arsitektur, dan ruang ibadah yang masih digunakan hingga sekarang.
Karena itu, pelestarian sejarah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah atau pengelola situs. Generasi muda perlu ikut mengambil bagian agar cerita tersebut tidak terputus. Masjid Ki Ageng Chasan Besari pada akhirnya menghadirkan cerita yang lebih besar daripada sekadar sejarah sebuah bangunan.
Di sana terdapat kisah tentang perjalanan dakwah, perjumpaan Islam dengan budaya lokal, kemampuan masyarakat membangun ruang ibadah, serta komitmen lintas generasi dalam mempertahankan peninggalan masa lalu. Keberadaan bangunan tua dengan saka guru kayunya mengingatkan bahwa masa lalu sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup selama ada orang yang mau merawat dan menceritakannya.
Bagi masyarakat Gumelem, masjid tersebut adalah bagian dari kehidupan. Bagi mahasiswa KKN UIN Saizu, ia menjadi ruang belajar. Dan bagi generasi muda, Masjid Ki Ageng Chasan Besari dapat menjadi pengingat bahwa sejarah Islam di Indonesia tidak hanya tersimpan di kota-kota besar atau dalam buku sejarah nasional. Ia juga tumbuh di desa-desa.
Di tempat-tempat yang mungkin tampak sederhana, sejarah justru sering kali bertahan paling lama dalam bangunan, tradisi, cerita lisan, dan ingatan masyarakat.
Menelusuri Masjid Ki Ageng Chasan Besari karena itu bukan sekadar perjalanan melihat masjid tua. Ini adalah perjalanan untuk memahami bagaimana sebuah masyarakat menerima, menghidupkan, dan mewariskan nilai-nilai Islam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selama cerita itu terus dipelajari, didokumentasikan, dan dirawat bersama, sejarah Gumelem akan tetap memiliki tempat dalam ingatan generasi yang akan datang. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia