Menduniakan UIN Saizu Purwokerto: Idealisme, Asa, dan Pintu Langit

UINSAIZU.AC.ID- UIN Profesor K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto terus menunjukkan kiprah dan eksistensinya di kancah pendidikan tinggi Islam Indonesia. Di usianya yang ke-63, universitas ini kian mantap meneguhkan diri sebagai lembaga pendidikan unggul, progresif, dan integratif.
Guru Besar bidang Administrasi Pendidikan UIN Saizu Purwokerto, Prof. M. Hizbul Muflihin menegaskan, perjalanan panjang menuju status universitas bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga buah idealisme, doa, dan asa seluruh civitas akademika.
UIN Saizu Purwokerto resmi menyandang status universitas berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 41 Tahun 2021, yang ditetapkan pada 11 Mei 2021. Transformasi tersebut menandai lompatan sejarah luar biasa setelah melalui perjalanan panjang selama puluhan tahun.
Dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga di Purwokerto pada 1964, menjadi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo (1994–1997), lalu bertransformasi menjadi STAIN Purwokerto (1997–2014), hingga akhirnya menjadi UIN Saizu pada 2021 semua itu adalah buah perjuangan tanpa lelah.
Menurutnya, proses perubahan dari IAIN menjadi UIN bukan hal mudah. UIN Saizu harus menghadapi tantangan serius, mulai dari keterbatasan sarana prasarana hingga kebutuhan peningkatan kualitas dosen. “Perjalanan tujuh tahun (2014–2021) menuju universitas merupakan ujian kesabaran dan ketekunan seluruh pihak,” imbuhnya.
Kini, secara kelembagaan, UIN Saizu berdiri sejajar dengan perguruan tinggi negeri besar seperti Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) di Purwokerto.
Menurut Prof. Hizbul, perguruan tinggi bukanlah institusi jangka pendek. Usia 63 tahun merupakan fase kematangan dan kedewasaan dalam tata kelola dan penyelenggaraan pendidikan.
“Pertumbuhan jumlah mahasiswa dari tahun ke tahun menjadi indikator nyata meningkatnya kepercayaan masyarakat. Namun, ukuran mutu tidak cukup dilihat dari kuantitas lulusan, melainkan kualitas intelektual dan spiritual mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, manajemen UIN Saizu kini diarahkan pada visi menjadi institusi unggul, progresif, dan integratif, dengan fokus utama pada mutu layanan akademik dan kepuasan mahasiswa sebagai pelanggan pendidikan.
“Mutu sejati bukan sekadar banyaknya lulusan bergelar sarjana, magister, atau doktor, tetapi bagaimana kampus ini melahirkan insan bermental intelektual-religius yang berkontribusi nyata bagi umat,” tegasnya.
Dalam era digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Prof. Hizbul menyoroti pentingnya menjaga moralitas dan akhlak intelektual di lingkungan akademik.
“UIN Saizu harus tetap menjadi benteng moral dan nilai etik keislaman. Kehadiran AI yang kini merambah ke penulisan makalah, skripsi, hingga disertasi memang tak terhindarkan. Namun, kita tidak boleh kehilangan esensi berpikir kritis dan analitis,” ungkapnya.
Ia menilai, ketergantungan berlebihan pada AI dapat menumpulkan daya nalar mahasiswa. Karena itu, model ujian dan tugas akhir perlu ditinjau ulang, agar proses akademik tetap menekankan pendalaman makna, kemampuan berpikir reflektif, dan integritas ilmiah.
“Tujuan akhir pendidikan di UIN Saizu bukan sekadar indeks prestasi tinggi, tapi terbentuknya karakter ilmuwan muslim yang beretika, berakal kritis, dan berjiwa pembaharu,” ujarnya.
Prof. Hizbul berharap, dengan fondasi akademik yang kuat dan pengelolaan yang berorientasi mutu, UIN Saizu dapat mewujudkan cita-cita menjadi Islamic Research University pada tahun 2030. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul