Menapaki Jejak Sunan Geseng di Trenggiling, Ketika Mahasiswa KKN UIN Saizu Belajar Warisan Syiar Islam di Pelosok Banjarnegara

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Tidak ada gerbang besar bertuliskan “Wisata Religi”. Tidak pula terlihat keramaian seperti yang biasa ditemukan di destinasi wisata populer. Hanya jalan kecil yang berkelok, pepohonan yang menaungi perjalanan, dan suasana perbukitan yang perlahan membawa pengunjung menjauh dari hiruk-pikuk jalan raya.
Di kawasan itulah jejak Sunan Geseng
di Dusun Trenggiling, Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, yang dalam cerita masyarakat juga dikenal sebagai Ki Ageng Cakra Jaya, berada. Bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 86 Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, perjalanan menuju makam tersebut bukan sekadar kunjungan.
Mereka mencoba melihat lebih dekat bagaimana sejarah, tradisi keislaman, budaya lokal, dan potensi wisata religi bertemu dalam satu ruang yang masih relatif sunyi. Makam Sunan Geseng berada di wilayah Desa Gumelem Kulon, Banjarnegara, di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jaraknya dari pusat keramaian membuat perjalanan menuju lokasi terasa seperti memasuki ruang yang berbeda.
Semakin mendekat, suara kendaraan berganti dengan suara angin dan gemerisik dedaunan. Di tengah suasana tersebut, sebuah kompleks makam berdiri dengan bangunan yang menunjukkan jejak usia. Cat yang mulai memudar dan beberapa bagian kayu yang menua menjadi pengingat bahwa situs ini telah melewati perjalanan waktu yang panjang.
Namun, kesan tua itu kini perlahan beriringan dengan upaya pembenahan. Dalam cerita yang berkembang di tengah masyarakat, Sunan Geseng dikenal sebagai salah seorang ulama yang menyebarkan Islam di tanah Jawa dan dikaitkan sebagai murid Sunan Kalijaga.
Julukan “Geseng” memiliki cerita tersendiri. Dalam kisah tutur yang berkembang, ia disebut pernah menjalani pertapaan dalam waktu lama hingga tubuhnya digambarkan menghitam seperti terbakar. Dari situlah kemudian muncul sebutan “Geseng”, istilah dalam bahasa Jawa yang berarti gosong atau hangus.
Kisah tersebut tidak sekadar menggambarkan perjalanan spiritual seseorang. “Geseng” juga kerap dimaknai sebagai simbol perubahan diri sebuah perjalanan meninggalkan kehidupan lama untuk mengabdikan diri kepada jalan kebaikan dan syiar Islam.
Dalam cerita masyarakat, Sunan Geseng juga dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyampaikan ajaran Islam. Kesenian dan budaya lokal Jawa menjadi salah satu medium yang digunakan untuk mendekatkan nilai-nilai Islam dengan masyarakat.
Pola dakwah semacam itu mengingatkan bahwa perjalanan Islam di Jawa tidak selalu berlangsung melalui pendekatan yang keras. Dalam banyak kisah tradisi Islam Jawa, budaya lokal justru menjadi ruang dialog untuk memperkenalkan nilai-nilai keagamaan.
Karena itu, makam Sunan Geseng tidak hanya memiliki arti sebagai tempat ziarah, tetapi juga menyimpan potensi sebagai ruang untuk mempelajari sejarah perkembangan Islam dan hubungan agama dengan budaya masyarakat Jawa.
Meski demikian, berbagai kisah mengenai tokoh tersebut yang berkembang secara turun-temurun perlu terus dikaji dan didokumentasikan. Penelitian akademik penting dilakukan agar cerita sejarah yang hidup di tengah masyarakat dapat dibedakan secara jelas antara sumber sejarah, tradisi lisan, dan kisah yang berkembang dalam ingatan kolektif.
Kondisi kompleks makam yang sebelumnya terkesan sederhana kini mulai mendapat perhatian. Pemerintah bersama masyarakat berupaya menghadirkan fasilitas penunjang untuk meningkatkan kenyamanan peziarah. Salah satunya melalui pembangunan shelter di kawasan kompleks Makam Sunan Geseng.
Fasilitas tersebut secara resmi diresmikan Wakil Bupati Banjarnegara, Wakhid Jumali. Pembangunannya mendapat dukungan bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp100 juta dan swadaya masyarakat senilai Rp7 juta.
Kepala Desa Gumelem Kulon, Arif Mahbub, menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut. “Alhamdulillah bangunan makam sudah bagus seperti ini, sehingga kami selaku Pemerintah Desa Gumelem Kulon menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu kegiatan ini, terutama dari Provinsi dan Kabupaten Banjarnegara,” ungkap Arif.
Pembangunan fasilitas tersebut menjadi salah satu tanda bahwa kawasan makam mulai dipandang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Namun, pengembangan wisata religi tentu tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas fisik. Ada pekerjaan yang lebih besar, yakni merawat cerita.
Makam Sunan Geseng dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem wisata religi dan sejarah di Banjarnegara. Jalur tersebut bahkan berpotensi dihubungkan dengan situs-situs sejarah Islam lainnya di Jawa sehingga wisatawan tidak hanya datang untuk berziarah, tetapi juga mendapatkan pengalaman edukatif mengenai perjalanan Islam dan kebudayaan Jawa.
Saat meresmikan, Wakil Bupati Banjarnegara Wakhid Jumali menaruh harapan besar agar keberadaan kawasan tersebut dapat semakin memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena, di wilayah Banjarnegara ada wisata religi juga tentunya untuk mendoakan para almarhum yang ada di sini, sehingga kita tidak melupakan jasa-jasa para ulama, pejuang, dan pemimpin-pemimpin kita.
Selain itu juga diharapkan kita dapat meniru hal yang baik-baik. Mudah-mudahan kawasan ini tambah ramai dan memberikan manfaat. Harapan serupa disampaikan Arif Mahbub. Menurutnya, pengembangan kawasan wisata membutuhkan kerja bersama antara pemerintah desa, masyarakat, pemangku adat, dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
“Harapan kami tentunya ke depan Desa Gumelem Kulon bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata religi. Melalui konsolidasi bersama masyarakat, para pemangku adat, dan Pokdarwis, kita bisa bersama-sama memajukan pariwisata di desa ini,” jelas Arif.
Pertanyaan terbesar kini bukan hanya bagaimana menjaga kompleks makam, tetapi bagaimana membuat kisah di baliknya tetap hidup. Sebuah situs sejarah akan kehilangan sebagian maknanya jika hanya menjadi bangunan yang didatangi, didoakan, lalu ditinggalkan tanpa ada pengetahuan yang dibawa pulang.
Karena itu, dokumentasi sejarah menjadi penting. Cerita mengenai Sunan Geseng yang selama ini hidup dalam tradisi lisan dapat menjadi bahan penelitian bagi sejarawan, akademisi, maupun generasi muda. Dokumentasi berupa tulisan, foto, arsip, wawancara dengan tokoh masyarakat, hingga penelitian sejarah dapat menjadi upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat.
Di era digital, cerita tersebut juga memiliki ruang baru untuk diperkenalkan. Media sosial dapat menjadi jembatan antara situs sejarah dengan generasi muda. Kisah Sunan Geseng dapat dikemas dalam video pendek, infografis, podcast, maupun artikel populer yang tetap menghormati nilai sejarah dan tradisi masyarakat setempat.
Cara tersebut dapat membuat wisata religi tidak hanya identik dengan kegiatan ziarah, tetapi juga menjadi ruang belajar sejarah, budaya, dan kearifan lokal. Upaya mengenalkan kembali jejak Sunan Geseng juga dilakukan mahasiswa KKN Kelompok 86 UIN Saizu. Mereka menjadikan penelusuran situs tersebut sebagai bagian dari proses belajar langsung di tengah masyarakat.
Sebanyak 15 mahasiswa terlibat dalam penelusuran tersebut, yakni Elda Safikri, Siti Fatimah, Novia Rahmadani, Fadli Rizqi Saputra, M Alfilan Iqbal AS, Rahma Andriyani, Armi Alfianti Nawafiah, Irfatun Nimah, Itmam Saputra, Hanunk Fairuz Azkia, Salsabila Dwi Kurnianingsih, Nadya Rahmatika Ulya, Syahid Ibnu Fatah, Nabila Hastiwi, dan Khafif Burhan.
Bagi mereka, perjalanan tersebut menjadi pengalaman untuk melihat bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di balik bangunan megah atau destinasi yang ramai dikunjungi. Kadang, sejarah justru bersembunyi di balik jalan kecil, di antara pepohonan, jauh dari pusat keramaian. Makam Sunan Geseng Trenggiling menjadi salah satu contohnya.
Dari tempat yang relatif sunyi itu, tersimpan cerita tentang seorang tokoh yang dalam tradisi masyarakat dikaitkan dengan perjalanan syiar Islam di tanah Jawa. Ada kisah spiritual, ada budaya, ada dakwah, sekaligus ada tantangan tentang bagaimana warisan tersebut dipertahankan di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, menapaki jejak Sunan Geseng bukan sekadar perjalanan menuju sebuah makam. Ini adalah perjalanan untuk mengingat bahwa setiap daerah memiliki cerita. Banjarnegara pun memiliki jejak sejarah yang layak dikenali, diteliti, dirawat, dan diceritakan kembali.
Jika pemerintah, masyarakat, akademisi, mahasiswa, dan generasi muda dapat berjalan bersama, kawasan tersebut bukan tidak mungkin berkembang menjadi destinasi wisata religi dan edukasi yang memberikan manfaat lebih luas.
Sebab sejarah yang tidak dirawat akan perlahan memudar. Dan ketika cerita berhenti diceritakan, generasi berikutnya mungkin hanya akan menemukan nama tanpa memahami makna di baliknya. Kisah Sunan Geseng di Trenggiling karena itu bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah tentang bagaimana generasi hari ini memilih untuk menjaga sebuah warisan agar tetap memiliki arti bagi generasi yang akan datang. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia