Mahasiswa KKN UIN Saizu Pelajari Anyaman Pithi UMKM Desa Kecitran, Jadi Kemasan Getuk Goreng Sokaraja

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan ke-58 Kelompok 76 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto belajar dan mempraktikkan pembuatan kerajinan anyaman pithi berbahan bambu bersama warga Dusun Bilungan RT 03 RW 05, Desa Kecitran, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa mengenali potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kearifan lokal yang telah menjadi sumber penghidupan masyarakat Desa Kecitran, Kecamatan Purwareja Klampok, selama bertahun-tahun.
Pembelajaran berlangsung di kediaman Susilowati, Ketua RT setempat, yang selama ini menjadi pusat aktivitas para perajin anyaman pithi. Di lokasi tersebut, mahasiswa tidak hanya mengamati proses produksi, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan, mulai dari penyusunan bilah bambu, teknik dasar menganyam, hingga membentuk pithi yang siap dipasarkan.
Kegiatan tersebut disambut antusias oleh para mahasiswa. Dengan bimbingan para perajin, mereka mencoba menganyam bambu hingga menghasilkan produk sederhana. Pengalaman itu memberikan pemahaman baru mengenai keterampilan tradisional yang masih bertahan di tengah perkembangan industri modern.
Anyaman pithi merupakan salah satu produk unggulan masyarakat Dusun Bilungan yang diwariskan secara turun-temurun. Kerajinan ini menjadi salah satu mata pencaharian warga karena memiliki pasar yang stabil, terutama sebagai kemasan tradisional bagi produsen Getuk Goreng Sokaraja, Banyumas.
Rumah Susilowati menjadi tempat berkumpulnya para perajin untuk memproduksi anyaman sekaligus menjadi lokasi pengumpulan hasil sebelum dikirim kepada para pemesan.
"Warga membuat anyaman pithi bersama-sama di rumah ini. Setelah selesai, hasil kerajinan dikumpulkan di sini, kemudian dikirimkan ke produsen getuk di wilayah Sokaraja untuk digunakan sebagai wadah getuk. Kegiatan ini sudah menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat di Dusun Bilungan," ujar Susilowati.
Dia menjelaskan, proses pengiriman pithi ke Sokaraja dilakukan secara fleksibel sesuai jumlah produksi yang telah terkumpul. "Pengiriman ke Sokaraja tidak ada jadwal tetap. Kalau pithi sudah terkumpul sekitar 15 jlujur atau lebih, saya menghubungi pihak pembeli apakah akan langsung diambil atau menunggu jumlahnya bertambah," jelasnya.
Menurut dia, kadang pihak Geduk Goreng Sokaraja juga mentransfer pembayaran lebih dahulu. "Satu jlujur berisi delapan golek, satu golek terdiri dari 30 lembar atau 15 tangkap. Jadi satu jlujur berjumlah 240 lembar atau 120 tangkap," jelasnya.

Di tengah maraknya penggunaan kemasan modern berbahan plastik, pithi tetap memiliki tempat tersendiri karena dinilai ramah lingkungan, kuat, dan memiliki nilai estetika yang melekat pada penyajian makanan tradisional.
Keberadaan anyaman bambu tersebut menjadi identitas khas bagi produk getuk goreng yang telah dikenal luas. Selain menjaga cita rasa tradisi, penggunaan pithi juga mendukung upaya pengurangan limbah plastik melalui pemanfaatan bahan alami yang mudah terurai.
Bagi masyarakat Desa Kecitran, kerajinan ini tidak sekadar menjadi produk budaya, tetapi juga sumber pendapatan keluarga yang terus dipertahankan lintas generasi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UIN Saizu memperoleh pengalaman langsung mengenai proses produksi UMKM desa yang berbasis kearifan lokal. Mereka belajar bahwa sebuah produk tradisional dapat memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dikelola secara konsisten dan mampu mempertahankan kualitas.
Selain menambah keterampilan menganyam, mahasiswa juga memahami pentingnya inovasi pemasaran dan publikasi agar produk-produk lokal semakin dikenal masyarakat luas.
Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa untuk melihat potensi desa tidak hanya sebagai objek pengabdian, tetapi juga sebagai ruang belajar mengenai kewirausahaan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian budaya.
Koordinator Desa KKN UIN Saizu Purwokerto Kelompok 76, Bayu Hizbulloh menyebutkan, mahasiswa KKN berharap kerajinan anyaman pithi Desa Kecitran semakin dikenal di berbagai kalangan melalui publikasi dan promosi digital. Potensi lokal tersebut dinilai layak mendapat perhatian lebih karena mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus mempertahankan warisan budaya yang ramah lingkungan.
Melalui pendampingan dan publikasi yang berkelanjutan, mahasiswa optimistis kerajinan pithi dapat menjangkau pasar yang lebih luas tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional yang menjadi ciri khasnya. "Kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen KKN UIN Saizu dalam mendukung pemberdayaan masyarakat desa melalui penguatan UMKM berbasis potensi lokal," ujarnya.
Dengan mengenalkan kerajinan anyaman pithi kepada masyarakat yang lebih luas, mahasiswa berharap produk unggulan Desa Kecitran semakin berkembang, memberikan nilai tambah ekonomi bagi para perajin, serta menjadi inspirasi pelestarian budaya lokal di era modern. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia