Mahasiswa FUAH UIN Saizu Sabet Juara 1 Sufi Olympiade ISSO 2026

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Prestasi gemilang kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto. Mahasiswa Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora (FUAH), Wiwit Prianti, berhasil meraih Juara 1 Sufi Olympiade dalam International Science Sufi Olympiad (ISSO) 2026.
ISSO 2026 merupakan kompetisi berskala internasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Sunan Kudus. Ajang tersebut menghadirkan sembilan kategori perlombaan, salah satunya Sufi Olympiade yang menguji kemampuan peserta dalam memahami berbagai aspek tasawuf dan pemikiran Islam.
Dalam kompetisi tersebut, Wiwit berhasil menempati posisi pertama. Sementara Juara 2 diraih Muqimatus Sunnah dari UIN Sunan Kudus dan Juara 3 diraih Aril Nikolas Saputra dari UIN Raden Fatah Palembang. Menurut Wiwit, keikutsertaannya dalam Sufi Olympiade ISSO 2026 bermula dari penunjukan Ketua Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Kurnia.
Setelah melalui proses registrasi dan technical meeting, perlombaan dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada 26 Juli 2026. “Lomba diikuti peserta dari beberapa perguruan tinggi, dengan bentuk perlombaan berupa pengerjaan soal akademik dan analisis yang berkaitan dengan tasawuf, spiritualitas Islam, psikologi sufi, serta pemikiran-pemikiran Islam,” kata Wiwit, Senin (31/8/2026).
Menghadapi kompetisi tingkat internasional tersebut, Wiwit tidak hanya mengandalkan belajar secara mandiri. Ia bersama rekannya, Fatwa, memperoleh bimbingan intensif dari dosen pembimbing, Toif. Persiapan berlangsung sekitar tiga minggu. Dalam proses tersebut, Wiwit dan Fatwa diarahkan untuk memperluas wawasan melalui berbagai referensi dan literatur yang berkaitan dengan tasawuf, psikologi sufi, spiritualitas Islam, serta pemikiran Islam.
Bimbingan tidak berhenti pada aktivitas membaca. Setiap pertemuan dimanfaatkan sebagai ruang diskusi untuk menyampaikan hasil belajar, mengemukakan pendapat, sekaligus membahas persoalan yang belum dipahami. Menurut Wiwit, pola bimbingan tersebut membuat dirinya tidak sekadar menghafal materi. Ia justru didorong untuk menemukan jawaban melalui proses berpikir dan melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang.
“Bapak Toif tidak hanya memberikan jawaban secara langsung, tetapi juga mengarahkan kami untuk menemukan dan memahami jawaban melalui proses berpikir. Dari proses tersebut, kami belajar melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang dan mulai membangun kemampuan berpikir kritis,” ujarnya.
Selain diskusi, Wiwit juga mendapatkan sejumlah tugas sebagai bagian dari persiapan kompetisi. Salah satunya membaca literatur yang berkaitan dengan materi utama Sufi Olympiade, kemudian memahami dan mendiskusikan kembali substansi bacaan tersebut.
Setelah melalui tahap pendalaman materi selama sekitar dua pekan, persiapan dilanjutkan dengan latihan soal secara mandiri. Latihan tersebut digunakan untuk mengukur pemahaman sekaligus mengidentifikasi materi yang masih perlu diperdalam.
Materi yang dipelajari Wiwit dalam persiapan ISSO 2026 cukup luas. Tidak hanya membahas dasar-dasar tasawuf, ia juga mendalami spiritualitas Islam, psikologi sufi, tazkiyatun nafs, jenis-jenis nafs, maqāmāt dan ahwāl, hingga pemikiran para tokoh sufi.
Persiapan juga mencakup materi mengenai etika, kemanusiaan, kesehatan mental, well-being, filsafat Islam, serta berbagai isu kontemporer. Menurut Wiwit, keluasan materi tersebut membuatnya semakin memahami bahwa tasawuf memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek kehidupan manusia.
Tasawuf, kata dia, tidak semata-mata berbicara mengenai kehidupan spiritual. Kajian tersebut juga berkaitan dengan pembentukan karakter, kesehatan psikologis, cara manusia memahami dirinya, serta hubungan manusia dengan sesamanya.
Pemahaman tersebut menjadi bekal penting ketika menghadapi soal-soal Sufi Olympiade yang tidak hanya membutuhkan kemampuan mengingat materi, tetapi juga kemampuan menganalisis dan menghubungkan berbagai konsep.
Bagi Wiwit, keberhasilan meraih Juara 1 Sufi Olympiade ISSO 2026 bukan sekadar pencapaian akademik. Kompetisi tersebut menjadi pengalaman belajar yang melatih kedisiplinan, kemampuan berpikir kritis, keberanian menyampaikan pendapat, serta ketekunan dalam memahami ilmu.
Ia juga menilai dukungan dari Ketua Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Kurnia, bimbingan dosen pembimbing Toif, serta proses belajar bersama rekannya menjadi bagian penting dari keberhasilan tersebut. “Prestasi bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang proses belajar, bimbingan, perjuangan, dan keberanian untuk terus berkembang,” tutur Wiwit.
Prestasi Wiwit Prianti sekaligus menambah deretan capaian mahasiswa UIN Saizu Purwokerto di tingkat nasional dan internasional. Keberhasilan tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan kompetensi akademik dan berani berkompetisi di berbagai ajang.
Dengan capaian tersebut, Wiwit tidak hanya membawa nama UIN Saizu Purwokerto dalam kompetisi internasional, tetapi juga menunjukkan bahwa kajian tasawuf dapat dikembangkan secara akademik sekaligus relevan dengan persoalan kemanusiaan dan kehidupan kontemporer. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia