Dari Proses Panjang hingga IPK 3,92, Kisah Dhien Kuntari Jadi Wisudawan Terbaik UIN Saizu

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Senyum bahagia terpancar dari wajah Dhien Kuntari ketika namanya disebut sebagai wisudawan terbaik pada Wisuda Sarjana (S1) ke-73 Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, di Auditorium Utama UIN Saizu, Rabu (2/9/2026).
Dhien yang merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92). Capaian tersebut mengantarkannya menjadi wisudawan terbaik tingkat universitas sekaligus terbaik FTIK dan Program Studi MPI.
Namun, bagi Dhien, angka 3,92 bukan sekadar sebuah nilai. Di balik capaian tersebut terdapat proses belajar, dukungan keluarga, bimbingan dosen, kebersamaan dengan teman, serta pengalaman panjang selama menjalani perkuliahan di UIN Saizu.
“Menjadi wisudawan terbaik tentu menjadi kebanggaan bagi saya, tetapi saya menyadari bahwa capaian ini bukan hanya tentang nilai. Ada proses belajar, dukungan dosen, keluarga, teman-teman, dan lingkungan akademik yang sangat berarti selama saya menjalani perkuliahan di Prodi MPI,” ungkap Dhien.
Bagi Dhien, perjalanan menjadi mahasiswa hingga akhirnya berdiri di panggung wisuda bukanlah proses yang instan. Capaian akademik yang diraih merupakan akumulasi dari proses belajar dan pengalaman yang dijalani selama berada di bangku kuliah.
Dia memandang keberhasilan akademik bukan sebagai tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan untuk terus berkembang. Karena itu, gelar wisudawan terbaik yang disandangnya justru menjadi pengingat bahwa ilmu yang diperoleh selama kuliah harus memiliki manfaat lebih luas.
“Saya berharap ilmu dan pengalaman selama kuliah tidak berhenti pada capaian akademik, tetapi dapat saya bawa untuk memberikan kontribusi nyata. Bagi saya, kelulusan ini adalah awal untuk terus belajar dan memberikan manfaat,” lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi Dhien setelah menyelesaikan pendidikan di Prodi MPI FTIK UIN Saizu Purwokerto. Dia ingin menjadikan pengalaman selama kuliah sebagai bekal untuk memasuki dunia profesional sekaligus ruang pengabdian kepada masyarakat.
Pada Wisuda S1 ke-73, Dhien menjadi bagian dari 438 lulusan FTIK yang dikukuhkan UIN Saizu. Jumlah tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan fakultas lain yang mengikuti prosesi wisuda periode ini. Secara keseluruhan, UIN Saizu mewisuda 699 lulusan dari tiga fakultas, yakni FTIK, Fakultas Syariah, serta Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH).
Rata-rata IPK seluruh wisudawan mencapai 3,68, sedangkan rata-rata IPK wisudawan FTIK berada di angka 3,71. Di antara ratusan lulusan tersebut, capaian Dhien dengan IPK 3,92 menjadi yang tertinggi pada Wisuda S1 ke-73.
Prestasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa FTIK mampu bersaing dalam capaian akademik di berbagai bidang keilmuan kependidikan, keguruan, bahasa, dan manajemen pendidikan. Selain Dhien, sejumlah wisudawan terbaik dari berbagai program studi di FTIK juga mencatatkan IPK tinggi.
Mereka antara lain Nida Urrohmah dari PAI dengan IPK 3,86, Atika Husniya dari PBA dengan IPK 3,85, Isna Mardani dari PGMI dengan IPK 3,89, Balkis Salma Putri Muhammad dari PIAUD dengan IPK 3,89, Muhammad Syafiq Al Hasmi dari TBI dengan IPK 3,88, serta Zanuar Ahmad dari Tadris Matematika dengan IPK 3,85.
Bagi Dhien, capaian tersebut menunjukkan bahwa perjalanan akademik mahasiswa tidak hanya diukur dari satu individu. Ada banyak mahasiswa lain yang juga bekerja keras dan memiliki prestasi masing-masing. Prestasi FTIK pada Wisuda S1 ke-73 juga tidak hanya terlihat dari capaian IPK.
Sejumlah wisudawan berhasil menyelesaikan studi dengan capaian hafalan Al-Qur'an. Beberapa di antaranya tercatat sebagai hafiz/hafizhah dengan hafalan minimal 10 juz, bahkan terdapat mahasiswa yang berhasil menuntaskan hafalan hingga 30 juz.

Nama-nama tersebut antara lain Yasinta Fatimah dari Prodi PIAUD, Naili Fajri Romadhonat dan Mila Utami dari Prodi MPI, serta Sri Rejeki Prasetyoningrum dan Ilzainab Wulan Fauziyah dari Prodi PBA. Sejumlah mahasiswa dari Prodi PAI juga tercatat memiliki capaian hafalan Al-Qur'an.
Bagi lingkungan FTIK UIN Saizu Purwokerto, capaian tersebut memperlihatkan upaya membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga penguatan kompetensi, karakter, dan nilai-nilai keislaman. Setelah menyandang predikat wisudawan terbaik, Dhien tidak ingin perjalanan belajarnya berhenti pada hari wisuda.
Sebaliknya, dia melihat kelulusan sebagai pintu menuju perjalanan berikutnya. Ilmu yang diperoleh selama berada di Prodi MPI diharapkan dapat terus dikembangkan dan diterapkan dalam kehidupan profesional maupun pengabdian kepada masyarakat.
Baginya, predikat wisudawan terbaik bukan sekadar gelar yang melekat pada nama, tetapi juga tanggung jawab untuk membuktikan bahwa ilmu yang telah diperoleh dapat memberikan manfaat. Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto, Prof. Fauzi yang menegaskan bahwa wisuda bukan akhir dari proses pendidikan.
“Wisuda bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal bagi para lulusan untuk mengabdikan ilmu dan kompetensinya di tengah masyarakat,” ujar Prof. Fauzi. Dia berharap para lulusan FTIK mampu membawa kompetensi, integritas, dan semangat belajar ke tengah masyarakat.
“Kami berharap 438 lulusan FTIK yang hari ini diwisuda dapat menjadi insan yang terus belajar, adaptif terhadap perubahan, memiliki kompetensi yang kuat, serta menjunjung tinggi integritas. Di mana pun mereka berada, identitas sebagai lulusan FTIK harus tercermin melalui karya dan kebermanfaatan,” tegasnya.
Bagi Dhien Kuntari, hari wisuda bukanlah garis akhir dari perjalanan. IPK 3,92 dan predikat wisudawan terbaik menjadi bagian dari perjalanan yang telah dilalui, sekaligus bekal untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Dari ruang-ruang kelas Prodi MPI hingga panggung Wisuda S1 ke-73, Dhien membawa satu kesadaran bahwa keberhasilan akademik akan memiliki arti ketika ilmu tersebut mampu diterjemahkan menjadi karya dan kebermanfaatan.
Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, perjalanan baru dimulai. Bukan lagi tentang seberapa tinggi nilai yang berhasil diraih, tetapi seberapa jauh ilmu yang diperoleh dapat memberi arti bagi orang lain. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia