Details

Dari Goresan Canting ke Ruang Digital, Mahasiswa KKN UIN Saizu Belajar Menjaga Warisan Batik Tulis Gumelem

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Selembar kain putih perlahan berubah menjadi karya penuh makna di tangan Ngisriyah. Dengan canting di jemarinya, ia menorehkan malam mengikuti pola yang telah dirancang. Gerakannya tampak sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Satu goresan demi satu goresan. Begitulah batik tulis Gumelem dibuat. Tidak terburu-buru, tidak instan, dan tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh mesin. Untuk menyelesaikan satu lembar batik, Ngisriyah membutuhkan waktu sekitar tiga minggu. Lama pengerjaan bergantung pada tingkat kerumitan motif yang dibuat.

Bagi mahasiswa KKN Kelompok 86 Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto yang berkesempatan menyaksikan proses tersebut secara langsung, pengalaman itu menjadi pelajaran bahwa sebuah kain batik menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar motif dan warna.

Ada keterampilan yang diwariskan, ketekunan yang dipelihara, serta identitas budaya yang berusaha tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ngisriyah merupakan salah satu pengrajin batik tulis Gumelem yang hingga kini masih mempertahankan tradisi membatik di Desa Gumelem, Banjarnegara.

Keterampilan tersebut diperolehnya secara turun-temurun dari orang tua dan keluarga. “Batik ini merupakan peninggalan leluhur yang harus dijaga. Kalau tidak ada yang meneruskan, batik Gumelem bisa hilang,” ujar Ngisriyah dalam keterangan yang diterima Senin (31/8/2026).

Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang alasan mengapa ia tetap bertahan. Bagi Ngisriyah, membatik bukan sekadar pekerjaan untuk memperoleh penghasilan. Ada tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur agar tidak berhenti di satu generasi.

Ngisriyah mulai mengembangkan usaha batik secara mandiri pada 2010. Modal awal diperolehnya melalui pinjaman. Berbekal keterampilan yang diwariskan keluarga dan pengalaman membatik, ia perlahan mengembangkan usaha tersebut. Berbagai motif baru terus dibuat untuk mengikuti perkembangan zaman, tetapi karakter batik tradisional Gumelem tetap dipertahankan.

Proses pembuatan batik tulis Gumelem dilakukan secara manual. Dimulai dari persiapan kain, pemberian kanji, penghalusan kain, pencantingan, pewarnaan, pelorodan, hingga pewarnaan akhir. Setiap tahapan membutuhkan ketelitian dan kesabaran. “Satu lembar batik bisa diselesaikan sekitar tiga minggu, tergantung tingkat kerumitan motifnya,” kata Ngisriyah.

Waktu tiga minggu itu menjadi salah satu alasan mengapa batik tulis memiliki nilai berbeda dengan batik cap maupun batik printing. Setiap garis lahir dari tangan pengrajin. Setiap tetes malam membutuhkan konsentrasi. Bahkan perbedaan kecil dalam goresan canting dapat membuat setiap lembar batik memiliki karakter yang unik.

Bagi Ngisriyah, proses panjang tersebut justru merupakan bagian dari nilai batik itu sendiri. Batik Gumelem juga memiliki karakter melalui penggunaan warna-warna tradisional seperti cokelat tua, hitam, dan putih. Warna-warna tersebut tidak sekadar menjadi pemanis visual. Di dalamnya terkandung filosofi kehidupan yang menjadi bagian dari pemaknaan batik.

Cokelat dimaknai sebagai pengingat bahwa manusia berasal dari tanah dan pada akhirnya akan kembali ke tanah. Hitam melambangkan kebijaksanaan dan ketegasan, sedangkan putih menggambarkan kesucian. Karena itu, mengenakan atau memiliki batik Gumelem bukan hanya soal memakai selembar kain bermotif.

Di dalamnya terdapat cerita tentang kehidupan, nilai, dan identitas masyarakat yang melahirkan tradisi tersebut. Namun, mempertahankan tradisi tidak selalu mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi pengrajin batik tulis adalah cara meyakinkan konsumen bahwa harga sebuah batik tidak dapat dilihat hanya dari ukuran kain atau motifnya.

Ada waktu, tenaga, keterampilan, dan proses panjang yang tidak terlihat ketika batik sudah berada di tangan pembeli. Sebagian konsumen masih lebih mempertimbangkan harga dibandingkan proses pembuatan dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Persoalan lain datang dari sisi pemasaran. Jika sebelumnya produksi batik Ngisriyah dapat mencapai sekitar 50 lembar dalam setahun, kini jumlahnya berkisar 30 hingga 35 lembar per tahun, bergantung pada permintaan dan kondisi pasar.

Selama ini, pemasaran masih banyak mengandalkan pelanggan lama serta promosi dari mulut ke mulut. Sementara itu, perkembangan teknologi membuka ruang pemasaran yang jauh lebih luas. Persoalannya, tidak semua pengrajin memiliki kemampuan atau pengalaman untuk memanfaatkannya.

Di sinilah mahasiswa KKN UIN Saizu mencoba mengambil peran. Mahasiswa KKN UIN Saizu tidak datang hanya untuk melihat proses membatik. Mereka belajar langsung dari Ngisriyah tentang bagaimana sebuah tradisi bertahan, bagaimana sebuah usaha kecil dijalankan, sekaligus bagaimana tantangan perubahan zaman dihadapi oleh pengrajin.

Bagi mahasiswa, melihat proses membatik secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dari sekadar membaca tentang batik. Mereka dapat menyaksikan sendiri bagaimana kain putih, canting, malam, dan pewarna secara perlahan berubah menjadi sebuah karya.

Dari proses tersebut, muncul kesadaran bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa batik harus dijaga. Harus ada tindakan nyata. Salah satunya dengan membantu pengrajin beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Mahasiswa kemudian melanjutkan kegiatan melalui workshop digitalisasi dan pendampingan bagi Ngisriyah. Pendampingan mencakup penggunaan WhatsApp Business, pembuatan dan pengembangan logo usaha, serta pemanfaatan media digital untuk mendukung pemasaran produk.

Tujuannya sederhana: membuat batik Gumelem memiliki ruang untuk dikenal lebih luas. Tidak hanya oleh pelanggan yang sudah mengenal produknya, tetapi juga oleh masyarakat di luar daerah. Ngisriyah menyambut baik pendampingan tersebut.

“Saya sangat berterima kasih kepada anak-anak KKN karena sudah membantu dan memberikan pelatihan digitalisasi. Saya jadi mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan teknologi untuk membantu pemasaran batik,” ujarnya.

Bagi Ngisriyah, teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Teknologi justru dapat menjadi alat untuk memperpanjang usia tradisi. Pengalaman tersebut juga memberikan pelajaran bagi para mahasiswa.

Novia Rahmadani, salah satu mahasiswa KKN yang terlibat, mengatakan bahwa melihat langsung proses pembuatan batik membuat dirinya dan rekan-rekannya memahami bahwa batik tulis Gumelem memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar produk ekonomi.

“Setelah melihat secara langsung proses pembuatan batik bersama Ibu Ngisriyah, kami menyadari bahwa batik tulis Gumelem bukan hanya sebuah produk yang memiliki nilai jual. Di dalamnya terdapat proses yang panjang, keterampilan, sejarah, dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi sebelumnya,” ujar Novia.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam memastikan warisan tersebut tetap dikenal. Perkembangan teknologi, kata dia, tidak semestinya membuat anak muda semakin jauh dari budaya tradisional.

Sebaliknya, teknologi dapat digunakan untuk memperkenalkan budaya kepada masyarakat yang lebih luas. “Menurut kami, generasi muda tidak harus meninggalkan budaya tradisional hanya karena perkembangan teknologi. Justru teknologi bisa dimanfaatkan untuk membantu mengenalkan budaya,” katanya.

Pendampingan WhatsApp Business, pembuatan logo, dan pemasaran melalui media digital menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana generasi muda dapat membantu pengrajin beradaptasi tanpa mengubah akar tradisinya. Batik tetap dibuat dengan canting. Tradisi tetap dipertahankan. Tetapi cara memperkenalkannya kepada masyarakat dapat mengikuti perkembangan zaman.

Bagi mahasiswa KKN UIN Saizu, perjumpaan dengan Ngisriyah bukan hanya bagian dari rangkaian kegiatan KKN. Ada pengalaman yang dibawa pulang: bahwa budaya dapat dipelajari melalui interaksi langsung dengan masyarakat yang selama ini menjaganya. Mereka juga melihat bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar.

Mendokumentasikan proses membatik, mengenalkan produk melalui media digital, membantu membuat identitas usaha, hingga mengajarkan penggunaan WhatsApp Business dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan sebuah tradisi.

Novia berharap pendampingan yang dilakukan tidak berhenti ketika kegiatan KKN berakhir. “Kami berharap kegiatan ini bukan hanya berhenti pada saat KKN berlangsung. Semoga apa yang sudah diberikan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh Ibu Ngisriyah. Kami juga berharap semakin banyak anak muda yang mau mengenal batik, ikut mempromosikannya, dan menjadikannya sebagai bagian dari identitas budaya yang harus dibanggakan,” ujarnya.

Perguruan tinggi melalui kegiatan KKN memiliki peluang untuk menjadi jembatan antara pengetahuan masyarakat dengan perkembangan teknologi. Mahasiswa hadir bukan hanya untuk menjalankan program kerja, tetapi juga belajar dari masyarakat dan memberikan pengetahuan yang dapat digunakan setelah mereka kembali dari lokasi KKN.

Bagi Ngisriyah, dukungan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal cara baru mengembangkan usaha tanpa meninggalkan tradisi yang telah diwariskan keluarganya. Pada akhirnya, batik tulis Gumelem bukan sekadar kain. Di balik setiap goresan canting terdapat waktu yang panjang. Di balik warna cokelat, hitam, dan putih terdapat filosofi kehidupan.

Di balik setiap motif terdapat identitas budaya. Dan di balik ketekunan Ngisriyah, terdapat sebuah harapan sederhana: agar batik Gumelem tidak hilang. Kini, harapan itu mendapat teman baru. Para mahasiswa KKN UIN Saizu datang membawa pengetahuan tentang dunia digital. Mereka belajar dari tangan pengrajin, kemudian mencoba membawa cerita batik Gumelem ke ruang yang lebih luas.

Sebab melestarikan budaya tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk yang sama. Kadang, melestarikan berarti memastikan warisan lama mampu menemukan jalan baru untuk dikenal. Canting tetap menorehkan malam. Kain tetap menyimpan cerita dan teknologi menjadi jembatan agar cerita itu tidak berhenti di satu generasi. (AR)

Kampus Desa Mendunia!

#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia

  •  

Post Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *