Angkat Memori Angguk-Aplang Klampok, Alumni UIN Saizu Raih Dukungan Dana Indonesiana

PURWOKERTO, UINSAIZU.AC.ID- Alumni Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, M. Umar Ibnu Malik berhasil memperoleh dukungan Dana Indonesiana melalui program pemajuan kebudayaan yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Dukungan diperoleh melalui proposal berjudul “Ali Isrofi dan Memori Angguk-Aplang” dalam kategori Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro atau Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Rawan Punah. Program tersebut berfokus pada upaya mendokumentasikan pengetahuan, pengalaman, praktik, dan warisan kesenian tradisional yang menghadapi ancaman kepunahan.
Melalui dukungan tersebut, Malik akan mendokumentasikan kesenian Angguk dan Aplang yang berkembang di Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara. Proposal yang diajukan Malik mengangkat sosok Ali Isrofi, maestro kesenian Angguk dan Aplang yang hingga kini masih aktif mempertahankan tradisi pertunjukan tersebut.
Ali Isrofi dinilai memiliki pengetahuan penting mengenai bentuk tradisional Angguk dan Aplang yang semakin sulit ditemukan di tengah terbatasnya regenerasi pelaku kesenian rakyat. Melalui program tersebut, perjalanan Ali Isrofi dalam menjaga kesenian tradisional akan direkam melalui video dokumenter.
Dokumentasi mencakup perjalanan Ali dalam mempelajari kesenian rakyat Banyumasan, keterlibatannya dalam kelompok pertunjukan, hingga berbagai upaya mempertahankan Angguk dan Aplang sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Klampok.
“Ali Isrofi merupakan salah satu sedikit pelaku seni yang masih memahami bentuk asli Angguk dan Aplang. Pengetahuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan, tetapi juga mencakup lagu-lagu pakem, pola gerak, instrumen tradisional, pembacaan Barzanji, hingga tata ritual yang menyertainya,” kata Malik.
Menurut Malik, dokumentasi tersebut menjadi penting untuk menyelamatkan memori budaya yang masih tersimpan dalam ingatan dan pengalaman para pelaku seni. Pengetahuan yang dimiliki seorang maestro tidak hanya berbentuk catatan, tetapi juga melekat pada praktik dan pengalaman langsung.
Karena itu, dokumentasi akan diarahkan untuk merekam perjalanan kesenian secara lebih utuh, mulai dari proses pembelajaran, praktik pertunjukan, unsur-unsur kesenian, hingga pengalaman Ali Isrofi dalam mempertahankan Angguk dan Aplang.
Selain video dokumenter, program tersebut juga akan menghasilkan buku berjudul “Angguk-Aplang Klampok: Tradisi, Dakwah, dan Konservasi”. Buku tersebut akan membahas sejarah perkembangan Angguk dan Aplang di Klampok, hubungan kesenian dengan perkembangan Islam lokal, struktur pertunjukan, filosofi lagu dan gerak tari, penggunaan instrumen tradisional, serta berbagai tata ritual yang menyertai pertunjukan.
Dokumentasi dalam berbagai bentuk tersebut diharapkan dapat menjadi arsip kebudayaan sekaligus sumber pengetahuan bagi generasi mendatang. Upaya tersebut menjadi semakin penting karena keberadaan Angguk dan Aplang menghadapi tantangan regenerasi.
Minimnya pelaku dan kevakuman pertunjukan dalam waktu yang panjang membuat pengetahuan mengenai bentuk tradisional kesenian semakin bergantung pada sejumlah maestro yang masih bertahan. Jika pengetahuan tersebut tidak segera direkam dan diwariskan, terdapat risiko sebagian unsur penting dari kesenian tradisional ikut hilang seiring berkurangnya pelaku yang menguasainya.
Dosen UIN Saizu yang membimbing Malik dalam penyusunan proposal, Dimas Indianto Sastronagoro, menyambut capaian tersebut dengan bangga. Menurut Dimas, keberhasilan Malik memperoleh dukungan Dana Indonesiana menunjukkan bahwa alumni perguruan tinggi dapat mengambil peran nyata dalam pemajuan kebudayaan.
“Ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan. Malik tidak hanya mengajukan sebuah proposal, tetapi membawa persoalan penting mengenai bagaimana pengetahuan maestro dan kesenian yang rawan punah dapat diselamatkan melalui dokumentasi,” ujar Dimas.
Dia menilai kerja dokumentasi kebudayaan memiliki arti penting karena pengetahuan tradisional tidak selalu tersimpan dalam bentuk arsip tertulis. Banyak pengetahuan budaya justru hidup melalui praktik, ingatan, pengalaman, serta proses pewarisan langsung dari maestro kepada generasi berikutnya.
“Ketika seorang maestro tidak lagi mampu berkesenian atau pengetahuannya tidak sempat didokumentasikan, sebagian memori kebudayaan masyarakat berpotensi ikut hilang. Karena itu, mendokumentasikan maestro bukan sekadar merekam seorang seniman, tetapi juga menyelamatkan pengetahuan budaya itu sendiri,” kata Dimas.
Bagi UIN Saizu, capaian tersebut sekaligus menunjukkan kontribusi alumni dalam menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata di tengah masyarakat. Pendidikan yang diperoleh di perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi kerja dokumentasi, penelitian, dan upaya pelestarian kebudayaan.
Melalui program tersebut, M. Umar Ibnu Malik tidak hanya mendokumentasikan perjalanan seorang maestro, tetapi juga berupaya merekam pengetahuan kolektif yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Klampok.
Dokumentasi Angguk dan Aplang diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kesenian tradisional sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan meneruskan warisan budaya lokal.
Capaian alumni UIN Saizu tersebut menjadi bukti bahwa pemajuan kebudayaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda, akademisi, komunitas seni, dan masyarakat. Melalui kolaborasi tersebut, kekayaan budaya lokal dapat terus dirawat agar tidak berhenti sebagai memori masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat. (AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #UINSaizuMaju #UINSaizuUnggul #UINSaizuPurwokerto #KampusDesaMendunia